Tampilkan postingan dengan label sepenggal cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepenggal cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Membakar Kapal Bersamamu



“Surabaya!”
“Jadi?”. Aku mencari keyakinan itu di matamu.
“Iya, aku akan menjemputnya disana.”
Kau masih mematung dengan buku ber-cover marun di tanganmu. Pengunjung sedang tak banyak. Makanya aku membersamaimu. Aku pandang lekat wajahmu. Wanita yang kukenal baru beberapa minggu. Namun rasa ini, sulit kudefinisikan.
“Mas, ada buku tafsir Al-Misbah ga?”
Aku berlalu darimu saat seorang ibu berjilbab kuning itu bertanya. Beberapa jenak aku meninggalkanmu mematung disana. Masih dengan buku marun-mu. Beberapa pengunjung mengerumun pada rak yang sama.
Tiga minggu lalu di deretan rak itu aku mengenalmu. Gadis dengan jilbab urakan. Beralasan mengisi waktu selama panggilan kerja setiap hari kau ke toko buku ini. Bodohnya tak ada satu pun buku yang kau beli. Kau anggap toko ini bagai perpustakaan saja. Tiap hari melahap buku yang berbeda. Kau terlihat bahagia karenanya. Aku pun bahagia bisa melihatmu. Hingga aku mengenalmu, kini.
“Seminggu yang lalu email-nya kukirim. Baru kemarin dibalas.” Kau menyandarkan punggungmu di rak buku. Kulakukan hal serupa.
“Kenapa ngga Bandung aja sih?”
“Aku mau bakar kapal!”. Kau seolah berkata pada buku. Lalu tatapanmu terhunus tepat di ulu hatiku. “Aku mau mandiri. Jauh dari orang tua. Sepertimu!”
Aku tak tahu apa daya tarikmu. Jujur, kau memang berbeda. Dingin tapi menghangatkan. Apa sepertinya aku yang meriang? Hah sudahlah! Matamu masih terpaku pada buku itu. Dapatkah kau membaca hatiku?
“Kalo ada yang mau membakar kapal bersamamu bagaimana?”. Kau mengeryitkan kening. “Maukah kau membakar kapal yang lebih besar bersamaku?”. Aku ragu menatapmu. Aku takut tatapanmu kali ini lebih tajam dari sembilu.
Mungkin kau akan bertanya mengapa bisa? Jangan tanyakan itu padaku. Hanya Tuhan dan doa ibuku yang tahu. Aku masih menanti jawabanmu. Berharap kau akan mengerti semua ini.
“Kita baru kenal tiga minggu, kan?”. Aku tak mau menyimpulkan reaksimu. Tahukah kau, aku merapal doa terbaikku?
“Mas, buku “Menjemput Rezeki dengan Menikah” sebelah mana ya?”. Perempuan berjilbab panjang itu tiba-tiba menghampiriku. Aku berlalu. Kau masih di situ.

Bandung, 7 Syawal 1431 H

Jumat, 26 Agustus 2011

Sebuah Cerpen : Flamboyan

Senja itu cuaca mendung. Awan berkumpul menbentuk kawanan hitam menaungi sepanjang jalan yang kulewati. Menjelang hujan di sore hari suatu yang indah bagiku. Berpayung dalam cuaca hujan amat kurindu. Apalagi kalau beli gorengan hangat, nikmat rasanya.

Angin semilir menyapa rambutku, membuat helaiannya berderai satu-satu. Ah, sore yang kurindu. Jalan terasa lengang kini. Mungkin orang-orang malas ke luar rumah saat cuaca tak bersahabat ini. Siapa bilang tak bersahabat! Suasana kala hujan kan turun ini amat kutunggu. Rasanya romantis. Apalagi kalau ditemani sang kekasih. Ah, melantur.

Angin semakin bertiup kencang. Aku mulai kedinginan. Namun, badanku telah terbungkus jaket wol hitam tebal ditambah sebuah syal merah makin hangatkan leherku. Entahlah akhir-akhir ini cuaca amat dingin. Malah-malah aku sering beser karena kedinginan. Namanya juga respon fisiologis.

Kembali ke cerita, aku masih berjalan sendirian di atas trotoar yang pemandangannya semrawut oleh para pedagang. Beda dengan jalanan Bandung tempo dulu yang indah terawat. Penuh dengan bunga dan rimbun pepohonan. Tapi aku tak terganggu. Toh mereka juga mencari uang buat hidup dan halal pula yang mereka kerjakan. Namun pemerintah dan masyarakat seolah sangat terganggu dengan hal itu. Alasannya tak jauh dari mengganggu ketertiban, keindahan kota, dan sebagainya. Hematku, jika ingin diamankan sebaiknya sediakanlah dulu lapangan kerja pengganti untuk para pedagang itu. Jangan asal gusur, kan sama-sama cari uang buat makan. Meminjam istilah Gus Dur, gitu aja kok repot!

Pandanganku dari trotoar yang semrawut kini kuganti dengan pohon-pohon yang menjulang di sepanjang jalan. Waw! pohon-pohon itu mungkin sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Mungkin pohon ini yang membuat Bandung dulu dijuluki sebagai Kota Kembang. Deretan pohon itu tingginya menjulang kira-kira 12 meter. Kulit batangnya yang licin sudah banyak yang terkelupas. Warnanya coklat kelabu. Akarnya terlihat begitu kuat mencengkram trotoar jalan. Badan trotoar tampak terangkat olehnya seolah membuat retakan besar hasil gempa. Pohon dengan cabang banyak ini serupa payung raksasa. Aku dinaunginya. Daun majemuk dan rapat membuat nyaman. Warnanya hijau muda hingga hijau tua cerah, kaya akan klorofil. Bentuknya seperti pakis, ringan dan lembut. Tampak gemulai dibelai angin. Perlahan berjatuhan dari tangkainya.
Namun yang membuatku lebih kagum, pohon itu berbunga. Bunganya besar persis seperti anggrek. Warna merah jingga hingga merah tua membuatnya makin eksotik saja. Ia mekar dalam sebuah kumpulan padat dan rapat. Kalau orang Sunda bilang raranggeuyan. Harum pula baunya.

Kekagumanku memuncak ketika aku tengadah. Menyaksikan lebih detail pohon nan eksotik ini. Pohon yang menjulang dihadapanku, menyuguhi pemandangan yang luar biasa. Bunga-bunga jatuh berguguran diterpa angin semilir. Melayang-layang dalam buaian angin bak selendang mayang yang turun dari kahyangan. Berserakan di trotoar dan badan jalan dengan warna jingga mencoloknya. Adegan ini persis di film India. Kala sang aktor atau aktris membenamkan tubuhnya dalam lautan bunga warna-warni. Rasanya aku mau dibenamkan juga. Sebuah romantisme yang sublim.

Pohon ini seolah mengeluarkan daya magis yang amat. Menyihirku dalam romantisme yang menyengat. Romantisme yang melumuri seluruh dinding hatiku menjadi jingga warnanya. Romatisme yang membuatku mematung, membatu. Romatisme yang meracuni syaraf-syaraf di otakku seperti bisa ular yang bercampur dalam aliran darah dan membuat lumpuh akralku. Beku. Membenamkan aku dalam pusaran romantisme yang berputar dahsyat dalam otakku. Darah di ubun-ubunku terasa mengelegak. Seluruh isi kepalaku dipenuhi nuansa merah jambu.

Aku mulai jatuh cinta pada pohon ini. Namun nama pohon ini seakan membayang berwujud pertanyaan. Rasa penasaran mulai menekan-nekan dinding hati terdalam. Pertanyaan dalam otakku berjejal-jejal ingin keluar. Isi mulutku tak kuasa untuk menyampaikan kata-kata tanya. Pohon ini membuat aku kaku. Membisu. Tak pernah kutemui pohon sesakral ini sebelumnya. Tiba-tiba seorang pak tua datang menghampiriku yang masih membatu.

"Kenapa neng, kok diem aja?"
"Po-hon-nya pak ?!"
"Oh, ini mah pohon flamboyan, neng. Tapi sayang besok mau di tebang."

Tiba-tiba romantisme yang awalnya membumbung kini melenyap. Sereset bambu serasa tercekat di tenggorokanku. Perlahan kutatap pak tua disampingku. Pandanganku kuyu, melihat pak tua itu hendak berlalu.

Senja itu
Flamboyan berguguran
Seorang dara memandang
Terpukau...

Satu-satu
Daunnya berjatuhan
Berserakan di pangkuan bumi

Bunga flamboyan itu diraihnya
Wajahnya terlihat sayu
flamboyan berguguran
berjatuhan, berserakan

Sejak itu sang dara berharapkan
Esok lusa kan bersemi kembali..

(Bunga Flamboyan oleh Bimbo)

(Dalam romantime flamboyan) Bandung, 040209

Cerpen : Memori Pagi

Bismillah..

Ia menaiki bis itu perlahan. Jilbab merah mudanya melambai. Dicarinya tempat duduk yang memadai. Ya, barisan paling depan tepat di pojok kiri. Ia sandarkan punggungnya. Perlahan membenarkan rok katun hitamnya yang terlipat. Angin pagi menyelusup dari balik jendela menyentuh pipinya yang kemerahan. Membuka tas cangklong coklat tua di pangkuannya. Lalu mengeluarkan buku mungil bertuliskan al-ma’tsurat. Semenit kemudian mulutnya bergumam-gumam. Kerjapan matanya tak lepas dari buku bersampul merah itu.

“Permisi neng, kosong?”
“Iya pak, mangga.”
Seorang pria tambun dengan kemeja kuning izin untuk duduk di sebelahnya. Dengan senyum simpul sang gadis mengabulkan. Bus mulai melaju. Lagi-lagi angin yang menyerah dihantam deru bus menyibak pipi sang gadis pelan.

Pemandangan itu terburai diselang suara kondektur yang menagih ongkos. Sengaja ia goncangkan uang recehan di genggaman. Terpaksa kualihkan pandanganku pada dompetku yang nampak cekak isinya. Sesekali kuberpaling pada sang gadis. Sama, ia pun tengah merogoh koceknya mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dan dua koin logam. Diberikanya pada kondektur plus senyum simpul sebagai bonus. Sang kondektur tersipu sejurus kemudian ia menuju arahku. Segera kuberikan uang ongkos tak lupa senyum simpul tak kalah manis dengan sang gadis berikan. Bukannya membalas sedekahku, ia malah melengos begitu saja.

Kukembali melihat paras sang gadis. Dipejamkanya kedua matanya. Mulutnya masih bergumam-gumam. Tampak seperti menghafal. Mungkin ya, karena sebuah Al-Quran mungil tak lepas dari genggaman. Tak mau kalah aku pun membuka bukuku. Wah, buku yang telah seminggu kubaca namun belum khatam juga. Judulnya ‘Untukmu Kader Da’wah’ karya almarhum Ustadz Rahmat Abdullah. Buku dahsyat sang memicu semangat jihadku.

Aku terkenal alim di kampus. Sering kuikuti kajian islam di sana-sini, serasa tertampar dengan paparan dalam buku ini. Bahwa da’wah, sholat, puasa, atau amal apapun namanya harus menyertakan kesempurnaan niat dan kemurnian hati. Ya, semua amal yang dilakukan hendaknya hanya bermuara pada Yang Maha Kuasa, Allah Swt. Hanya untuk-Nyalah amal, hidup, mati, jiwa serta raga kita. Sebab bila bukan karena-Nya semua kan tersia. Seperti asap yang membumbung di udara. Nampaknya begitu agung namun dalam sekejap hilang diterpa udara.

Untuk menjadi ikhlas rasanya tak mudah. Karena memurnikan niat hanya untuk Allah Azza Wa Jalla banyak godaannya. Seringkali ku terjebak pada amal yang melenceng dari niat. Seperti halnya saat ku sholat agar dibilang anak sholeh. Atau aku rajin hanya untuk mendapat perhatian dari orang tua. Pun saat ku jatuh hati pada sang gadis dihadapanku, ikhlas seakan bukan hal yang mudah dibuat.

Anganku, nafsuku, terkadang lebih menuntunku dari pada hati nuraniku sendiri. Memang rasa suka adalah hal yang fitrah. Rasa ingin menjadikan sang gadis pendamping hidup tak mudah dienyahkan. Angan ingin mempersuntingnya menjadi bidadari dunia akhiratku pun bukan perkara gampang untuk dilenyapkan. Hah, mungkin ini gara-gara ku tak menjaga pandangan. Hingga dengan mudah panah-panah setan menghujam hati dan melambaikan bendera kemenangan. Terbayang ia menyeringai dengan senang.

Hah, lagi-lagi ku hanya menyerah pada nafsu. Matanya, pipinya, bibirnya semuanya indah. Rahman, ada apa dengan aku ini?? Puasa telah kulakukan untuk menahan nafsuku. Namun apalah artinya itu jika godaan datang mendera-dera seperti ini. Aku berada diantara persimpangan di kiriku wajah sang gadis dengan pesonanya berteman setan-setan yang menyeringai senang. Di kananku jurang menghujam namun dibawahnya terdapat surga yang menawan. Ampuni aku Tuhan!!
***
Dengan tergesa ku percepat langkahku. Nafasku masih tersengal. Sesekali kupalingkan wajah kebelakang berharap sang gadis telah menghilang dari pandangan. Ya, mulai sekarang aku ingin melupakannya. Melupakan ingatan tentang mata, pipi, wajah dan semua pesonanya. Aku mau tobat. Mau menyempurnakan niat. Semua ingin kulakukan karna Allah.

Perlahan tersirat awal perkenalannya di situs pertemanan itu. Pura-pura kubertanya tentang kelas sastra yang diketuainya. Bagaimana jika ku bergabung, kapan, dimana, hingga ku berjanji untuk menghadirinya. Ya ini salahku. Meniatkannya hanya untuk lebih mengenalnya. Dan meminta ia untuk membalas perasaanku akhirnya. Tidak, tidak, lupakan, lupakan!! Ayo Eza kamu bisa melupakannya!

“Kang Eza, Kang Eza !!!”
Suara seorang perempuan memanggilku. Ku biarkan dan berusaha mempercepat langkah.
“Kang Eza tunggu!!” suaranya mengeras.
Dengan terpaksa ku balikkan badan melihat siapa yang memanggilku. Oh ternyata Hani adik kelasku. Tapi bersama siapa ia? Mataku hanya bisa melihatnya samar dari kejauhan. Perlahan mulai mendekat. Hani berjalan berbarengan dengan seorang gadis. Tas cangklong coklat, kelebat jilbab merah muda. Pipinya. Bibirnya, mulai terang.
“Kang Eza, ini Teh Dea ketua kelas sastra tea yang waktu itu ditanyain. Katanya mau kenalan, bla..bla..bla..” Hani nyerocos tiba-tiba. Sang Gadis melipat tangannya di depan dada, salam. Tatapannya lembut nian.
Ya Rahman, Kuatkan!!

Bandung,020110

Selasa, 24 Maret 2009

Di antara Dilema



Melbourne, 1 Maret 2007

Australia itu amat jauh untukku, dua hari yang lalu kusimpan belahan hati ini di kota nan indah, Bandung tercinta. Sebelum kuberangkat, telah kupinang gadis pujaan yang kukenal saat perjalanan pulang ke kampung halaman. Parasnya yang hitam manis tak bisa lekang dari ingatan, budi lembut ia tampakkan dalam perbuatan, bibirnya makin manis dengan kata-kata menyejukkan yang ia utarakan. Ah, Anggi yang manis.. Pertemuan di bis siang itu tak disangka membawaku ke hadapan orang tua sang gadis, kumeminangnya dan jika Tuhan mengizinkan, dua tahun lagi akan kusunting ia tuk jadi bidadari surgaku.


Melbourne, 12 September 2007

Waktu terasa cepat bagiku, setengah tahun sudah kutinggalkan jantung hatiku di kota dingin itu. Aku dan ia saling menunggu satu sama lain, aku menunggunya tuk ia selesaikan kuliah S1 keperawatannya di Bandung, dan ia menungguku tuk selesaikan studi beasiswa S2 teknik-ku disini. Rindu rasanya akan wajah sendunya, senyum mawar yang mekar di bibirnya, rindu ucap santun saat ia membalas sapaku kala itu. Aku rindu ia..enam bulan berlalu kutetap rindu dirinya, dan kutahu ia kan setia..


Melbourne,25 September 2008

Entah imel ke berapa ini, tak terhitung lagi. Kutulis kabar dan kerinduanku akan dirinya lewat surat elektronik ini dan mempercayakan listrik dan udara menyampaikan ini padanya, Anggi-ku tersayang. Satu tahun berlalu, Anggi juga pasti rindu akanku. Ah, geer sekali aku ini.. Dan kabar ini akan membuat Anggi belonjak gembira, senyum mawarnya kan mekar, karena saat libur musim panas ini aku akan pulang, aku pulang dan menginjakkan kaki kembali ke pangkuan pertiwi. Aku akan pulang untuk keluargaku, dan spesial untuknya gadis bermata jeli yang kutemui satu setengah tahun yang lalu. Kan ku lewati Iedul Fitri tahun ini di tengah orang-orang yang kucintai. Rasanya tak sabar diri ini tuk segera terbang ke kampung halaman. Satu tahun terasa berabad-abad kulewati hari tanpa bersamanya di sisi. Imel yang kukirim belum juga menghapus gelisahku, mungkin hanya bersua dengannya kan jadi pelipur lara ini. Dan beberapa hari lagi ku kan dapati sosok wajah yang kurindu, ya, ia kan tepat dihadapanku.


Garut, 1 Oktober 2008

Hari lebaran datang, hari ketika dosa-dosa berguguran dan badai maaf yang menyejukkan dilelang. Manusia lahir kembali bak reinkarnasi menjadi pribadi-pribadi fitri yang kan arungi hari baru kini. Sungkeman ba’da sholat Ied berlangsung khidmat, aku bersimpuh di kaki bundaku, kucium tangannya, hormat. Begitu pula pada ayahku. Lebaran hari yang gembira, kala kulihat keceriaan menggelayut di wajah sepupu dan keponakanku. Wajah ceria itu kan mampir pula pada paras bidadariku, Anggi. Jika Tuhan mengizinkan, pada hari lebaran kedua, aku kan menemuinya, diri ini akan menjadi kado lebaran terindah untuknya..

***


Assalamu’alaikum..Anggi, saya Nurul, istri sahnya A Wira. Sudah 2 bulan kami resmi menikah. Saya mohon Anggi tidak mengganggu suami saya lagi. Terimakasih..”- Nurul.


Pesan singkat itu membuat Anggi terguncang, tanpa sadar airmatanya pun berlinang. Ia bingung kemana mencari kebenaran yang selama ini Wira tutupi dengan rapi, mungkin ini alasannya tak memberi kabar 2 bulan terakhir. Lelaki pujaannya kini telah jadi imam orang lain, bukan dia yang selama ini menunggunya setia. Takkan ada pernikahan yang ia asa-kan satu tahun mendatang, hatinya hancur tak terperikan..

Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi..

Assalamu’alaikum..Anggi saya minta maaf atas ketidakjujuran saya selama ini. Saya sudah menentang pernikahan itu, tapi apa daya, ibu dan kakak-kakak saya terus mendesak. Kejadiannya begitu cepat dan saya tak bisa lagi mengelak. Tapi sungguh saya tak menghendaki pernikahan ini. Jika Anggi mau menunggu, Aa akan ceraikan Nurul!!”- A Wira.


Mesej itu kian membuatnya tersedu, ia bimbang, galau, atau entah apatah namanya. Hatinya seakan tersayat sembilu berkarat, sakit nian. Di satu sisi, ia begitu mencintai A Wira namun di sisi lain, tak mungkin ia tuk sakiti Nurul, keluarga A Wira, termasuk orang tuanya sendiri. Hatinya kian ngilu, jika orang tuanya digunjingkan lantaran anaknya merebut suami orang. Anggi kalut, ia hanya bisa pasrah akan semuanya, hanya pada Tuhan ia meminta kekuatan..

Butuh waktu berhari-hari tuk menguatkan hati, namun hari ini ia beranikan diri tuk katakan :

Assalamu’alaikum..A Wira yang baik..Insya Allah saya terima ini semua dengan ikhlas, mungkin memang kita bukan jodoh. Saya ingin A Wira bahagiakan teh Nurul, sekarang dia bidadarimu. Dan tolong jangan ceraikan Teh Nurul hanya untuk menikahi saya. Saya tak mau sakiti hati siapapun. Terimakasih dan semoga berbahagia..”- Anggi.


Di sebrang sana, ponsel Wira bergetar..

Ia membacanya. Tiba-tiba jantungnya bak berhenti berdegup, tenggorokannya tercekat seketika. Hatinya hancur, dan asa-nya tercerabut satu per satu..


True story (Kokoro No Tomo, Rea chan),15-17 Oktober 2008

Ade Fariyani (adefariyani_03@yahoo.com)


Selasa, 17 Februari 2009

"Pak Hasan, Guruku..."





AKU masih ingat pertama kali aku masuk SD, Pak Hasan sebagai kepala sekolah menyambutku dengan wajah berseri-seri. Beliau menyalami ayah dan ibu yang mengantarku sekolah untuk pertama kalinya. Beliau amat gagah dengan seragam dinas hijau kelabu yang dipakainya, rambutnya begitu rapi disisir ke belakang, kumisnya yang tipis serasi dengan wajah bulatnya. Sementara kulitnya yang cokelat gelap dengan leher pendek tak membuatnya kehilangan wibawa. Juga lesung pipi yang tampak kala tersenyum, begitu manis. Pak Hasan adalah guru senior di SD Senyum Mentari, be liau juga pemrakarsa sekolah yang kini telah berusia 20 tahun ini. Wajahnya yang ramah pada semua orang membuat murid serta para guru mudah becengkerama dengan beliau.

Aku masih ingat ketika suatu hari ibu terlambat menjemputku, aku berdiri di depan kelas dan menangis keras-keras. Saat itu sosok gagah Pak Hasan datang dan membuat tangisku reda dengan sekotak susu. Ia mengajakku duduk di ruangannya selama menunggu ibu yang beberapa jam kemudian datang. Bukan itu saja, Pak Hasan, kepala sekolah kami, selain pintar dalam bidang agama, juga mengurus masjid dan madrasah di depan sekolah. Tak tanggung-tanggung, beliau sendiri yang selalu turun tangan dalam pengelolaan masjid, dari mengurus kurban atau zakat sampai mengepel lantai dan membersihkan kamar mandi pun beliau kerjakan. Padahal tak sepeser pun uang ia peroleh darinya. Kala itu Pak Hasan idola kami, aku dan Adine, teman sebangkuku.

Pak Hasan yang seorang lulusan MTs selalu mengajarkan kami tentang ibadah pada Allah, bukan hanya saat kita sedang membutuhkan-Nya. Tapi juga saat dilanda rasa senang dan gembira, kita justru harus bersyukur.

"Anak-anak, ingatlah Allah saat kalian sedang berada dalam keadaan senang maka Allah akan mengingat kalian saat kalian sedih. Sebentar lagi ujian nasional, bapak tahu ini hal yang berat buat kalian. Tapi percayalah, dengan belajar sungguh-sungguh dan berdoa, meminta kemudahan dan kelancaran pada Allah, bapak yakin kalian akan sukses menjalaninya. Bapak percaya kalian bisa. Begitu beliau menyemangati kami suatu hari menjelang ujian nasional.

Hari itu hujan amat deras mengguyur kota, aku yang belum sampai rumah setelah turun dari bus kota terpaksa berteduh pada sebuah halte kecil di seberang jalan tempatku diturunkan dari bus tadi. Tampaknya hujan besar hari ini, air hujan dengan kasar menampar-nampar dedaunan pohon angsana di seberang jalan, membuat daun dan rantingnya berjatuhan. Angin menerpa wajahku, alhamdulillah aku membawa jaket untuk melindungi tubuhku dari terpaan angin. Jalanan begitu lengang kini, mungkin orang-orang malas bepergian pada musim hujan kini.

Di halte tempatku bernaung, hanya ada aku dan seorang lelaki tua yang tampak kedinginan, bajunya yang lusuh dan celana yang coreng-moreng oleh tanah memperlihatkan bahwa ia habis menggali tanah di seberang jalan yang memang sedang ada perbaikan galian kabel. Wajahnya tenggelam dalam topi khas tukang becak, sehingga aku tak bisa begitu jelas melihatnya.

"Lagi neduh juga ya Pak?" ujarku membunuh keheningan. Yang ditanya malah celingukan, mungkin ia takut aku berbicara dengan orang lain, bukan dia. Setelah mengamati sekitar yang tak ada sesiapa, ia mendongakkan kepala melihat ke arahku.

"Iya, Neng". Wajahnya kulihat samar, terasa tak asing. Kumis yang tampak lebih tebal, rambut yang kelabu acak-acakan, mata yang ramah, kulit yang semakin legam, mungkin karena paparan teriknya mentari, dan leher pendeknya. Kurasa aku mengenalnya. Tapi kenapa ia di sini? Berpakaian lusuh bermandikan tanah, tak gagah seperti saat mengenakan seragam dinasnya. Namun senyum ramah itu tak bisa kumungkiri hanya dimiliki idola masa kecilku, Pak Hasan.

"Bapak, Pak Hasan?" tanyaku penasaran. Ia lebih jelas menatapku.

"Betul. Maaf, Neng siapa ya?"

"Siapa sih yang tidak tau Bapak, sekelurahan pun pasti kenal Bapak". Senyum berlesung pipi itu terbit dari bibirnya yang kering. "Saya Vira Pak, murid Bapak dulu."

"Oh, Neng Vira. Maaf bapak sudah tua. Sudah pikun, Neng".

"Ibu apa kabar, Pak? "

"Ibu baik Neng, alhamdulillah. Oh, iya Neng dari mana?"

"Saya pulang kuliah, berkat nasihat bapak alhamdulillah saya bisa menggapai mimpi saya untuk kuliah di Unpad. Terima kasih ya Pak," ujarku dengan sesungging senyum termanis yang langka kuobral.

"Alhamdulillah bapak juga senang Neng Vira biasa mewujudkan impian.". Senyum yang tadi mengembang, sekarang perlahan pudar, Pak Hasan mengatupkan mulutnya. Seketika kami diterpa keheningan. Keheningan.

Ingin rasanya kutanyakan alasannya di sini, kenapa tak mengajar lagi di sekolah yang ia bangun dengan tetes keringatnya. Aku penasaran, apa yang terjadi pada Pak Hasan dan keluarganya.

"Yah, Neng sekarang bapak tak lagi mengajar di Senyum Mentari, bapak sudah pensiun. Jadi bapak mencari pekerjaan lain, ya beginilah jadi tukang gali. Sebenarnya bapak sudah capek dan lelah, bapak inginnya istirahat. Tapi, kalau bapak istirahat, siapa yang ngasih makan keluarga? Sedangkan mengandalkan uang pensiunan yang tidak seberapa tak cukup untuk kebutuhan keluarga."

"Emang anak-anak bapak ke mana?"

"Semuanya sudah menikah Neng, sekarang mereka dibawa sama suaminya masing-masing. Yang pertama si Lastri di Cirebon, Yeni, yang kedua di Jakarta, yang terakhir si Tia di Yogya. Neng tahu 'kan anak bapak perempuan semua, setelah bapak nikahkan mereka semua, ya selesailah tugas bapak, tanggung jawab mereka ada pada suami. Jadi sekarang bapaklah yang jadi tulang punggung keluarga. Selain jadi tukang gali, bapak masih nyambi di masjid. Alhamdulillah bapak masih diberi kesehatan sama Gusti Allah..." kisahnya.

Aku jadi amat kagum pada Pak Hasan, meski usianya renta dan dunia telah mengecewakannya, beliau tetap bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Pak Hasan guruku, beliau tetap guruku, guru kehidupanku. Pak Hasan guruku dan akan terus menjadi idola masa kecilku dan hingga kini ia masih pahlawanku. **


Galamedia, Sabtu 6 Desember 2008

Minggu, 30 November 2008

Memo Hanny

Badan Dio masih bermandi peluh, seragam bolanya pun belum ia lepaskan,ia duduk kelelahan dan segelas es jeruk tersaji di atas meja yang menjawab rasa hausnya, juga sebuah memo :

“Mas Dio pasti capek,ini es jeruk buat kakakku tercinta. Diminum ya Mas..aku yang bikin sendiri lo..Abis itu mandi trus ganti baju,oke?!”-adikmu tercinta Hanny.

Dengan sesungging senyum ia sambut segelas es itu dan meneguknya sampai habis, maklum selesai latihan bola dan udara diluar panas.

“Dio tendang bolanya keras-keras!! Gimana kamu ini?!” tegur Pak Indra.

“Iya pak!!”jawab Dio.

Seusai latihan..

“Lu kenapa Di?” tanya Sandi penasaran

“Ga papa,cuma agak kepikiran Hanny aja. Dia dah seminggu di Bogor,lagi terapi pita suara. Tapi sumpah gua kangen banget, dia cuma ninggalin kata-kata sayang dari memonya.”

“Ditinggal seminggu kayak ditinggal setahun, Dio..Dio..Tapi gua juga ngerasa gitu, hidup tanpa arti saat Ita ninggalin gua setahun yang lalu.”air muka Sandi

berubah keruh.

“Udahlah San,lu jangan sedih.Lu ga mau kan kalo adik lu sedih juga disana?”

“Andai kecelakaan itu ga terjadi.” tanpa sadar bulir bening itu menetes, Dio lekas merangkul sahabatnya, pundak Sandi berguncang.

Dua minggu berlalu tanpa Hanny, Dio lebih sering melongo menatap memo terakhir yang ditulis Hanny sebelum ia pergi.

“Mas Dio jangan terlalu sibuk latihan dan jaga kesehatan. Jangan lupa makan suplemennya,dah Hanny siapin di meja makan! Hanny pergi dulu ya mas..maaf hanya lewat memo, abis Tante Ira jemputnya mendadak sih.Owya doain biar operasi pita suara Hanny lancar,dan jangan nangis gitu dong!!hehe..Salam kangen selalu.”- Hanny.

Hari-hari Dio kian hampa tanpa Hanny tercinta,ia tak bisa menahan rindunya terlampau lama dengan nekad ia menyusul adiknya ke Bogor walau harus bolos latihan. Akhirnya ia jumpai adiknya sehari sebelum operasi..

“Mas Dio,latihan kemaren gimana,lancar?” tanya Hanny lewat isyarat tangannya.

“Lancar sayang..”

“Minggu depan ada tanding lagi? Lawan mana?”

“Iya,minggu depan tim Mas Dio akan melawan tim Pelitapura.Hanny nanti datang ya..”

“Insyaallah..Mas Dio doain Hanny supaya operasinya lancar, Hanny pengen bisa teriak saat pertandingan Mas Dio nanti.”

“Iya sayang. Hanny pasti bisa.” jawab Dio sambil mengecup kening Hanny dengan lembut.

Beberapa minggu kemudian..

“Yes…Gol!!Mas Dio menang lagi…!!” teriak Hanny lantang.

Bandung, 2007

Ade Fariyani(adefariyani_03@yahoo.com)

Senin, 08 September 2008

IDOLA


Hingar-bingar suara musik masih meggema di sekitar halaman Ciwalk, Kamis malam itu.Terdengar musik pop,hip-hop,rock,atau R&B atau entahlah aku tak tahu, pastinya yang kudengar saat itu suara musik yang tak keruan. Mas Deni tengah berbincang dengan pacarnya, kelihatannya asyik sekali,sampai-sampai mereka lupa padaku. Akupun menghela nafas sambil meneguk teh kemasan yang katanya rasa jeruk,dan kurasakan hawa dingin menembus celah-celah kerudung dan kaus kaki-ku. Kini kududuk dibawah naungan pohon cemara yang dihiasin lampu-lampu mungil yang berkelap-kelip menggantikan sinar bintang-bintang di langit.

“De,ini keripiknya !”tawar teh Mila.

“Iya makasih teh.. ”jawabku sambil menggosok-gosokkan kedua tanganku tanda kedinginan.

“Dingin de,pakai jaket mas aja!”sambung Mas Deni yaqng melihatku kedinginan.

“Ehm..gak usah mas.”elakku.

”Gimana mau minjemin jaket wong sendirinya ga tahan kedinginan”gumamku dalam hati.

Heh nyesel aku ikut,buang-buang waktu,kalu di rumah mungkin aku bisa menghafal B.Indonesia yang besok mau ulangan atau belajar fisika,istirahat juga bisa setelah bercapek-capek ria karena tes lari 2 keliling gasibu. Nyesel,nyesel,nyesel!!

“Ya Alloh..Dea pengen pulang aja daripada disini kedinginnan mana dicuekkin lagi.” Pintaku dalam hati.

Kini para pengunjung Ciwalk tengah dimanjakan oleh penampilan Ebith Beat A dengan musik Rap-nya.Dan halaman Score! saat ini kuliah anak-anak muda sedang nongkrong , ada muda-mudi yang tengah memadu kasih seperti Teh Mila dan Mas Deni,kakakku. Juga ada pula yang sendirian menunggu,termasuk aku yang menunggu-nunggu kapan aku pulang.Tiba-tiba...

Pim..pim..sebuah mobil Kijang biru bersama minibus abu-abu berhenti di halaman Score! malam itu dan tepat di depanku,tepat sekali didepanku,,

Ya Alloh..Kang Haris vokalis grup band kesukaanku bersama teman-temannya muncul tepat di depanku.

Coba tebak apa yang terjadi ??

Aku menghampirinya dengan maksud meminta tanda-tangan mereka? Anda keliru..

Yang kulakukan hanya menyedot habis teh kemasan yang kubeli bersama Teh Mila tanpa mempedulikan grup band kesukaanku berlalu dari pandanganku, kupikir buat apa aku minta tandatangan, toh kita semua sama manusia, apa hebatnya dia?Apa dia mampu menjamin masuk surga.

Ada perasaan menyesal,kenapa aku tak membawa kaset album solo Kang Haris dan memintanya untuk menorehkan tanda-tangannya,hah sudahlah..

”Wah,Haris tuh!!”

”Iya,kenapa yah Haris pake baju pink terus?!”

”Lagi Valentine-an kali!!”percakapan Mas Deni dan Teh Mila ini hanya menyisakan senyum kecut di bibirku.Dari jauh Kang Haris menolehkan kepalanya ke arah kami, kutangkis ras geer-ku,mana mungkin kang Haris menoleh untuk melihatku..

* * *

”Wah masa? Terus gimana de??”

”Iya de,gimana?” tanya Iva dan Ulfa tertubi-tubi.

“Iya situ aja. Dea ngeliat Kang Haris pas banget di depan Dea, tapi Dea mah diem aja.”

“Bukannya minta tandatangan!”,lanjut Asta.

”Yeh,orangnya gak bawa kertas sama pulpen gimana mau minta tandatangan .”

”Ngelit Rio ngga??”

”Ngeliat.Rio kan sempet ngobrol sama Mas Deni terus minta foto. ”

”Emmm..Pengen kesana ih!!”

”By the way ,mereka nyayi berapa lagu?” tanya Asta

“Yang Dea liat sih Cuma 2 lagu soalnya keburu pulang sih.”

“Hah,pengen kesana ih nyesel..nyesel ga ngeliat!!” rengek Ulfa.

Dea aja nyesel banget ikut,udah kedinginan ,kelaparan,mana dicuekkin lagi,ini malah ngebet banget pengen ikut.Ulfa..Ulfa..

Sepulang sekolah…

Huh..teriknya matahari ini,ups..maaf Ya Alloh bukan maksudku tuk menghujat-Mu. Emmm..rasanya kalo beli es krim enak nih. Kususuri jalan ada tempat anak-anak SMANSA biasa makan siang. Aku pun diam dan berjalan bersama lamunanku..

Pim..Pim..mobil kijang biru semalam..

Jendelanya terbuka perlahan ..

“Emm..permisi,yang pake kerudung coklat semalem kan??”.

Aku pun mengangguk tak percaya,”Ya Alloh..Kang Haris!!”.