Jumat, 26 Agustus 2011

Kisah Seorang Bocah dan Mobil Merahnya

Bismillah..

Suatu hari seorang anak membawa mainan mobil merahnya. Sebut saja namanya Yusuf. Rencananya Yusuf akan mengikuti lomba mobil-mobilan. Sesampainya di tempat perlombaan, ternyata sudah banyak anak-anak sebayanya yang berkumpul. Masing-masing tengah mempersiapkan mobil jagoannya agar menjuarai lomba ini. Ada yang sedang mengganti ban, ada yang tengah memasang baut dan lain-lain. Sedang panitia lomba tengah sibuk membenahi track tempat lomba mobil itu akan dilakukan.

Tak kalah dengan peserta lain, Yusuf pun menyiapkan mobil jagoannya se-prima mungkin. Hingga tibalah saat lomba dimulai. Seorang pria dewasa yang merupakan panitia lomba segera memberi aba-aba agar para peserta siap-siap. Namun, Yusuf meminta izin untuk berdoa terlebih dahulu. Ia mengangkat tangannya, menutup mata dan mulutnya bergumam-gumam.

Sejurus kemudian selepas berdoa, perlombaan pun dimulai. Adu gesit dan adu cepat mobil pun tak terelakkan. Mobil merah Yusuf salip-menyalip dengan mobil lawannya. Ada yang mulus melaju dan ada juga yang terpental. Mobil merah Yusuf memimpin di depan. Dan akhirnya mobil merahnya-lah pemenangnya. Girang sekali hati Yusuf .

Kemudian sang lelaki dewasa menghampirinya dan bertanya pada Yusuf, “Nak, bukankah sebelum lomba tadi kamu berdoa, pantaslah jika kamu pemenangnya.”. Kemudian Yusuf menjawab., “Betul pak tadi saya berdoa. Dalam doa saya tadi, saya meminta kekuatan dari Tuhan agar saya tidak menangis jika saya tidak menang dalam perlombaan ini.”

Sahabat adakah sahabat mengambil hikmah dari kisah di atas?

Seringkali kita meminta terlalu banyak bahkan mendikte Allah Swt. Allah, saya ingin ini dan itu tanpa mengetahui baik tidaknya hal itu untuk kita. Padahal tanpa diminta pun Allah selalu akan memberi apa pun yang kita butuhkan. Percayakah hal itu sahabat?

Contohnya, tanpa kita minta jantung ini berdetak, ia akan berdetak walau kita tak menghendakinya.Tanpa harus meminta, air, udara, waktu, kesehatan kita nikmati dengan cuma-cuma. Apa lagi dengan suatu permohonan yang kita harap dan dambakan. Tentu Dia akan Mendengarnya. Masalah dikabulkan atau tidakknya itu adalah Kekuasaan-Nya semata. Cukuplah kita percaya akan kebaikan yang diberikan-Nya pada kita.

Namun perlu pula siapkan mental kita dengan takdir-Nya yang tak sesuai keinginan kita. Bukankah Allah menurut prasangka hambanya? Maka berprasangka baiklah akan segala Ketetapan-Nya. Percaya saja, apa yang Allah Berikan adalah sumber kebaikan untuk kita. Jika belum kita rasakan dampaknya tunggu sampai Allah Nampakkan kebaikan di dalamnya. Atau terkadang malah hati kita yang terlalu pekat hingga sulit untuk menangkap sinyal kebaikan-Nya. Maka marilah kita sama-sama membenahi hati kita.

Seperti bocah lelaki bernama Yusuf tadi yang sudah mengantisipasi permohonannya jika tak menang maka jangan buat menangis. Pun saat doa kita tidak atau dikabulkan maka mintalah pada Allah pengganti yang lebih baik dari yang kita harapkan.

Terimakasih. Semoga bermanfaat.

Bandung, 11 Maret 2010

Restoran Siap Saji dan Sebuah Pengorbanan

Bismillah..

Sahabat, pernahkah makan di warung nasi atau restoran siap saji? Bagaimana rasanya? Adakah perbedaan saat kita mengisi perut lapar kita dengan makan di warung nasi dengan di restoran siapa saji? Pertama, dari tempatnya sudah bisa terlihat yang mana yang paling cozy, bersih dan enak buat hang out.

Kedua dari makanannya. Kalau yang satu ini tergantung selera dari sahabat sendiri. Ada yang lebih suka dengan makanan rumahan, karena serasa makan masakan ibu sendiri. Adapula yang memilih makanan yang cepat saji, “enak”, dan praktis. Namun dahulu saat saya masih usia remaja, makan di sebuah restoran adalah suatu yang bergengsi. Bahkan sering dengan bangganya saya menenteng kantong plastik transparan berisi burger di hadapan tetangga. (pamer mode on ).

Tapi disamping itu semua, ada hal yang tak kalah penting dan bisa kita ambil hikmahnya. Yakni tentang system pembayarannya. Saat kita makan di warung nasi, pertama yang kita lakukan adalah memesan, lalu makanan diantar, kemudian kita makan, dan setelahnya kita baru membayar. Coba bandingkan dengan yang terjadi di restoran siap saji. Kita memesan makanan, makanan datang, lalu kita bayar , sejurus kemudian baru kita bisa menikmati makanan yang telah kita bayar. Sahabat bisa bedakan nikmat yang mana? Makan sebelum kita membayarnya, atau lebih tenang setelah kita bayar di muka?

Adakah sahabat menangkap maksud saya? Ya, sebuah hikmah yang bisa kita petik, betapa lebih NIKMATnya jika kita menikmati sesuatu yang telah kita BAYAR terlebih dahulu. Ada Pengorbanan yang telah kita Lunasi untuk sesuatu yang ingin kita capai.

Sahabat, pengorbanan dan keberhasilan sudah menjadi hukum alam. Ingatkah sebuah hadist “Man Jadda Wa Jadda” yang artinya Siapa yang bersungguh-sungguh Ia pasti dapat. Maka kita bisa melihat kesungguhan seorang pria yang mencintai wanita pujaannya setelah ia “berkorban” untuk menikahinya dan memberi mahar yang sesuai. Atau pengorbanan para pahlawan yang menginginkan negaranya merdeka kemudian mereka bayar dengan darah, harta dan nyawa mereka.

Pernahkah sahabat mendengar pepatah cinta adalah pengorbanan. Maka untuk mendapatkan cinta Allah butuhlah suatu pengorbanan yakni sholat, zakat., serta amal lainnya. Pun jika sahabat memimpikan sesuatu apapun itu, jika benar sahabat mencintainya maka sahabat akan rela berkorban untuknya. Baik itu waktu, tenaga, harta atau apapun yang membuat sahabat bisa memilikinya.

Maka sahabat indahnya sebuah pengorbanan untuk sesuatu yang kita damba. Seperti saat kita naik kelas, ada satu kepuasan yang terbayar saat kita naik tangga-tangga keberhasilan secara perlahan. Dan makin nikmat jika itu hasil dari kerja keras dan pengorbanan kita.

Dan untuk memperbesar gairah pengorbanan kita, temukan alasan yang tepat untuk menyulut semangat juang kita. Dan alasan yang paling tepat untuk kita berjuang adalah Cinta. Saat kita mencintai sesuatu, energi gaib yang begitu kuat akan mendorong dan memacu semangat. Pun saat kita lemah dan kehilangan daya untuk mengejar impian kita, lihatlah kembali impian yang kita cintai itu. Maka tanpa sadar gairah itu akan muncul kembali. Mungkin ia akan semakin kuat.

Namun, apabila gairah itu meredup meski telah disulut oleh impian yang kita cintai itu, maka patut dipertanyakan. Apakah kita sungguh-sungguh mencintai Impian kita itu? Ataukah hanya sebatas keinginan saja? Untuk itu, galilah lagi alasan yang menjadi “hot button” untuk kita berjuang.

Pada akhirnya, Selamat Berjuang dan Berkorban untuk apa yang sahabat cita-citakan. Temukan alasan tepat agar gairah perjuangan itu makin kuat berkobar.
Semoga memberi hikmah..

Thanks to: Pak Bayu Maulana, Bu Dewi Nur Fiana, Bu Sarah Nasution. Terimakasih, bersama kalian adalah salah satu fase terindah dalam hidupku..:)

Bandung, 5 Maret 2010

Cinta Seorang Gadis Buta

Bismillah..

Suatu hari kawan lama saya yang seorang dokter, mengirimkan sebuah kisah ini pada saya. Ia tak memaparkan sedikit pun bagaimana hikmahnya. Bisa dikatakan open ending. Memberi ruang kosong bagi pembacanya untuk menafsirkan apa yang ia tangkap dari tersebut.

Terus terang kisah ini sangat menginspirasi saya. Maka sesudah saya membaca kisah ini, tanpa sadar air mata saya berlinang. Entah apa yang saya rasakan. Apa yang anda rasakan tentu akan berbeda dengan apa yang saya. Maka bacalah dengan perlahan.
Amati, hayati, dan rasakan..

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yang sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau ia sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya itu .

Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yang selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu.”


***
Entah sadar atau tidak, seringkali kita berlaku seperti gadis buta itu. Kita berlaku egois memaksakan kehendak kita sendiri. Padahal ada orang-orang di sekelilang kita yang berkorban sekuat tenaga untuk membuat kita bahagia.
Orang tua kita contohnya. Entah telah berapa besar pengorbanan yang mereka curahkan untuk kita. Bukan saja uang, bahkan keringat, darah dan airmata mereka bersimbah agar kita dapat hidup layak.
Mungkin disini kita rasakan begitu nyamannya kuliah, jajan, belanja, nonton, dan sebagainya. Sedang orang tua kita sibuk memikirkan besok makan apa. Bagaimana dengan anak saya jika uang kuliahnya terlambat. Seakan pikiran orang tua hanya tersita tentang kita, anaknya.
Teman – temanku, kini adalah satu momentum pengorbanan kita untuk berupaya sekuat tenaga untuk membahagiakan mereka, orang tua kita. Bayangkanlah wajah bahagia dan senyum bangga mereka kala melihat anaknya di wisuda dan bergelar sarjana. Tetes air matanya, peluhnya, kerja kerasnya seakan terbayar sudah dengan menyaksikan kita kala memakai toga dan maju sebagai wisudawan-wisudawati.
Maka maukah kita berkorban sedikit pikiran dan waktu kita untuk skripsi yang kita hadapi ini? Maukah kita bersabar dengan tantangan yang menghadang di depan? Maukah kita bangkit dari keterpurukan yang menjelang? Maukah tema-teman berkorban sedikit untuk kebahagian orang tua?
Seorang yang sukses adalah yang melihat solusi dibalik masalah. Dan yang gagal, adalah mereka yang melihat masalah dibalik solusi. Mari kita bertekad untuk mebahagiakan kedua malaikat kita tercinta. Dan pastikan Agustus 2010 adalah salah satu momen bahagia itu. Dimana kita lihat senyum bangga bapak dan tangis bahagia Ibu kita. Selamat Berjuang Kawanku..

Smangat untuk kita semua!!
Bandung, 1 Maret 2010

Menyadari Malaikat

Menyadari Malaikat

“Mah, tadi malaikat izrail ke sini!!”
Teriak sepupu saya dari arah kamar mandi. Kami – aku, mamah, dan bapak- segera menuju kearah suara. Tersirat pertanyaan , apa maksudnya ada malaikat izrail ke sini? ada yang meninggal berarti. Benar saja ada yang meninggal. Sepupu saya yang masih sekolah dasar itu, tengah berdiri memegang gayung yang berisi bangkai ikan. Ya, ada 6 ikan yang kami pelihara di bak dan semuanya mati satu persatu. Jadi benar adanya kalau tadi Malaikat maut “mampir” ke sini.

Malam seperti biasa saya menuju rumah anak didik les saya. Saat itu ia tengah ada tugas Pendidikan Agama. Di LKS (Lembar Kerja Siswa) telah terhidang soal-soal tentang Iman kepada Malaikat yang siap kami lahap. Kami baca soalnya satu persatu dari mulai pilihan ganda hingga esai. Dan Akhirnya beres juga.

Sebelum saya membagikan petikan hikmah dari cerita di atas, saya ingin bertanya sesuatu pada sahabat. Kapan terakhir kali sahabat membaca materi tentang malaikat? Adakah yang masih ingat rukun iman kepada malaikat rukun ke berapa? Juga jumlah malaikat yang wajib diketahui ada berapa?

Bukan maksud saya untuk bermain pintar-pintaran. Tapi itulah pertanyaan anak didik saya saat itu. Dan Ya Allah, saya pun lupa-lupa ingat ingat saat menjawabnya. Mungkin karena tumpukan memori yang kian bertambah tiap harinya (he..ngeles mode:ON). Karena memang materi ini mungkin terakhir kali kita baca saat SD atau SMP. Berapa tahun lalu tuh?

Sahabat yang hendak saya bagikan dalam tulisan ini adalah betapa kita sering mengabaikan kehadiran malaikat. Tak menyadari adanya ia dalam segala aktivitas kita selain Allah Swt Yang Maha Melihat. Siapakah ia Malaikat Rakib dan Atid. Malaikat Rakib setia mencatat amal-amal baik kita. Pun ada Malaikat Atid yang tak pernah alpa menuliskan amal-amal keburukan kita.
"Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang bmengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Infithar 10-12)

Belakangan ini Bandung kerap diguyur hujan. Tahukah itu “kerjaan” siapa? Ya tentu “kerjaan” Allah Swt yang dititahkan pada Malaikat Mikail. Malaikat tersebut tak henti-hentinya mengantarkan rizki pada manusia. Mungkin malaikat yang tiap pagi hari mengetuk pintu rumah kita untuk menyampaikan rizki ya dia. Karena rizki manusia pada dasarnya sudah ada yang mengatur, bukankah ada yang mengantar tiap hari yaitu Malaikat Mikail tadi. Urusan siapa yang mau menjemput atau tidaknya rizki itu ada di tangan kita.

Wahyu yang diberikan pada nabi-nabi Allah adalah tugas Malaiat Jibril. Yang dikenal juga dengan nama Ruhul Qudus. Wahyu-wahyu ini dikirim fresh langsung dari Allah Ta’ala melalui malaikat-Nya ini pada manusia-manusia pilihan-Nya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk menolak mentah-mentah ajaran Allah yang disampaikan melalui manusia pilihan-Nya tersebut.

Malaikat yang paling difavoritkan yaitu Malaikat Ridwan. Terbayang wajah putih bercahaya yang begitu ramah mempersilakan kita masuk ke dalam surga Allah. Pasti hati kita berbunga saat itu tiba, seolah tak sabar menanti jamuan Allah yang sebenarnya. Sedang Malaikat yang mungkin dihindari adalah Malaikat Malik. Yang dengan muka bengis dan judesnya siap menyambut kita dalam kobaran api neraka. Terdengar pula seringai setan sebagai pertanda kita kan masuk kawanannya. Naudzubillah. Semua itu adalah pilihan kita mau masuk yang mana. Jika ingin masuk surga tentu harus disesuaikan dengan amal yang harus diperbuat. Begitu pula sebaliknya.

Terakhir malaikat yang akan mengantarkan kita pada jamuan atau siksa Allah. Ya, Malaikat Izrail. Malaikat Pencabut Nyawa. Hendaknya perlulah kita waspada akan segala tindak tanduk kita. Kenapa? Karena tak ada yang tahu kecuali Allah kapan kita dijemput olehnya. Dan lagi-lagi itu adalah pilihan kita. Hendak mati dalam keadaan seperti apa dan bagaimana. Husnul khotimah atau su’ul khotimah?

Sekianlah petikan hikmah yang bisa saya bagiakan kali ini. Tak bermaksud untuk mengecilkan tugas malaikat yang lain, namun saya hanya berusaha mengulas sedikit malaikat yang lekat dalam kehidupan kita. Pun bukan maksud saya menggurui sahabat sekalian, karena saya tahu sahabat adalah manusia yang Luar Biasa bisa menentukan pilihan-pilihan terbaik dalam kehidupan sahabat. Insya allah..

Bandung, 120110

Tahu Pop dan Sebuah Potensi

Bismillah..

Hujan-hujan enaknya makan yang hangat-hangat. Dan seorang teman mengajak saya untuk membeli tahu pop. Terus terang saya belum tahu rupa tahu pop itu seperti apa. Apalagi rasanya. Yang saya tahu cuma ayam pop yang sering dijual di restoran padang. Hehe.. maka dari itu saya ingin tahu seperti apa dan bagaimana rasanya tahu pop itu. Pun terdorong rasa lapar saya.

Kami datangi sebuah kedai di depan gerbang kampus. Kedai itu bertuliskan Tahu Pop Aneka Rasa. Saya pun memilih rasa sapi lada hitam. Pikirku biar cuma tahu tapi berasa daging sapi.hehe..Setelah menunggu berapa menit. Sang penjual memberikan satu bungkus tahu pesanan saya yang masih mengepul asapnya. Pun saya berikan selembar uang lima ribu rupiah padanya. Saya berlalu untuk segera menyantap tahu ini hangat-hangat Hwa..enak nih kayaknya.

Saat saya buka bungkusannya. Ah, ini tak ubahnya tahu sumedang yang dibalur tepung. Bedanya hanya ini pakai bumbu dan rasanya lebih kriuk. Rasanya pun tak jauh beda dari tahu biasa. Bahkan dari bentuknya, masih lebih besar tahu sumedang. Tapi apa yang membedakan tahu pop ini dengan tahu biasa? Bentuknya lebih mungil tapi kok harganya beda, lebih mahal dari harga tahu biasa. Padahal belum tentu rasanya lebih enak dari tahu yang sering dikonsumsi.

Sahabat mungkin amat akrab dengan tahu. Atau mungkin tiap hari makan tahu (piss..^o^v). Tapi kenapa tahunya sama tapi harganya beda? Ada tahu yang dijual di pasar tradisional ada yang di supermarket. Perbedaannya hanya satu karena sang penjual tahu mengetahui Potensinya.

Tahu kan banyak mengandung protein, isoflavon sebagai anti oksidan. Harganya juga terjangkau. Namun karena harganya yang murah ini seringkali tahu diremehkan. Tapi sang penjual tahu pop tahu potensinya serta memaksimalkannya dengan membuat satu produk baru. Dengan memberikan variasi yang berbeda. Dipoles sana-sini menjadi tahu dengan nilai tambah. Yakni lebih kriuk dan beragam rasa. Karena nilai tambah itu maka harganya pun berbeda. Lebih mahal.

Sama halnya dengan tahu, manusia pun seperti itu. Sering kali merasa kecil dan tak berharga. “Ah, saya mah ga bakat!”, “Ah, da saya mah jelek, ga pinter, ga pede.”, dan ah, ah lainnya. Yups, sering kali kita mengabaikan potensi yang kita miliki. Padahal Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Surat At-Tin : 4). Tapi terkadang kita lebih focus dengan kekurangan diri dari potensi yang kita punya.

Sahabat, orang yang berharga atau punya harga diri adalah orang yang tahu dan sadar akan potensinya dan berusaha memaksimalkannya. Untuk mengetahui apa potensimu, sediakanlah waktu untuk merenung dan galilah apa kelebihan yang kita punya. Setelah kita dapatkan maka pikirkan ke depannya kita mau seperti apa atau mau jadi apa dengan potensi yang kita punya itu. Setelah kita sadar akan potensi kita, maka tunjukkanlah dengan karya nyata. Berilah polesan agar semakin berhaga caranya dengan menambah ilmu, dan mencari lingkungan yang positif dan mendukung potensi kita.

Potensi dan tindakan yang kita lakukan selama itu baik (amal baik) lama-kelamaan akan membangun harga diri kita. Baik di depan orang lain maupun dihadapan Allah Ta’ala. Jika anda telah mendapatkannya hendaklah selalu dijaga dengan keikhlasan dan rendah hati. Percayalah, itu membuatnya semakin indah.

Baiklah sahabat, Selamat menggali potensi terbesarmu dan Tunjukkanlah pada dunia bahwa Anda Luar Biasa!!


Bandung, 040110

Belajar Bergaul dari Dukuh

Liburan ini saya berkesempatan menjaga kios bapak. Ya, bapak saya seorang pedagang buah-buahan di salah satu pasar di bandung. Lama tak menyambangi pasar, ternyata memang banyak hikmah yang saya petik.

Waktu itu bapak menyuruh saya membereskan dukuh. Ia minta untuk memisahkan buah-buah mungil yang sudah tampak hitam dan basah itu dari dukuh yang masih bagus. Saya nurut saja. Lalu saya pindahkan dukuh busuk itu pada sebuah piring plastik untuk segera dibuang

Penasaran saya tanya pada bapak, kenapa dukuh-dukuh itu harus dipisahkan. Dia hanya bilang “Biar ngga nular!”. Dari jawaban bapak tersebut kita bisa mengambil hikmah. Pertama, ternyata lingkungan menentukan siapa dan bagaimana kita ke depannya. Maksudnya, kita bisa menilai diri kita dari teman karib yang kita punya.

Misalnya kita sering bergaul dengan seseorang yang males masuk kuliah. Lama kelamaan “penyakit” itu bisa nular pada kita. Atau banyaknya temen kita ga pede-an missal, maka kita pun ga akan jauh dari itu. Bukankah ada ungkapan “untuk melihat masa depan seseorang, tengoklah dengan siapa ia berteman dan buku apa yang sering ia baca.”

Jika kita tak selektif menentukan lingkungan kita, maka nasib kita tak akan jauh berbeda dengan dukuh kualitas bagus dan manis namun karena sering bercampur dengan dukuh kualitas rendah –busuk akhirnya akan busuk juga.

Pelajaran kedua yang bisa diambil adalah dalam memilih dukuh terkadang kita senang dengan dukuh kinclong tanpa cacat. Nampaknya enak untuk dilihat pun dimakan hehe..Tapi bagaimana rasanya? Rata-rata rasanya masam. Coba bandingkan dengan dukuh yang rupanya agak hitam. Mungkin rasanya lebih legit dari yang kinclong.

Kesimpulannya “Don’t judge the book from it’s cover”. Terkadang kita silau denang kecantikan, ketampanan, kekayaan, dll tanpa melihat akhlaknya. Sesekali saya miris dengan seorang teman yang secara fisik enak dipandang tapi tak pernah bisa menghargai orang. Atau yang pintar namun enggan berbagi kepintarannya dengan sesama. Semoga kita jauh dari sifat itu ya..

Pelajaran terakhir,kata bapak dukuh itu buah yang sensitive. Gampang hitam dan busuk apalagi kalo sering dipegang-pegang. Tapi memang bener lho, buah ini hanya bertahan 2-3hari saja. Lebih dari itu
bisa hitam dan busuk.

Nah, saya berpesan khususnya untuk kaum hawa hendaklah hati-hati menjaga diri. Jangan sembarang orang bisa pegang. Bukankah Al-Quran sudah menerangkan dalam An-nur:31 coba buka lagi deh (he..nyuruh). Percayalah, perintah Allah itu tak ada yang memberatkan. Justru malah untuk kebaikan kita. Pasti teman-teman tak mau jadi seperti dukuh yang sering dipegang-pegang dan akhirnya busuk terus dibuang kan?

Akhirnya sekianlah petikan hikmah ini. Semoga bisa jadi renungan. Adapun kekurangan milik saya semata. Dan kelebihan berasal dari Allah yang menciptakan anda dengan Luar Biasa!

Bandung, 190110

Kamis, 15 Oktober 2009

Mencari asma

: Lelaki biru

taukah kau pandanganku terpaku
pada wajah indahmu?

memancar sinar biru dalam bis tua itu

wajahku temaram dalam
tatapan bening sorot mata

yang belum kutemukan
namanya dalam buku hatiku.



Labkom FIK, 161009