Bismillah..
Sahabat apakah obat rindu itu? Ada yang bilang obat rindu adalah bertemu. Sejujurnya saya rindu, hingga saya ingin bertemu dengan sahabat sekalian lewat catatan ini. Ah, lama rasanya tak berbagi. Setelah menuntaskan deadline impian saya –skripsi-, saya rindu untuk menyapa sahabat lagi.
Kali ini catatan saya akan mengisahkan tak jauh dari skripsi yang saya ajukan. Tentang penyakit gagal ginjal kronis yang mewajibkan pasiennya untuk menjalani hemodialisa (HD). Hemodialisa atau dikenal dengan cuci darah adalah terapi satu-satunya sebagai pengganti fungsi ginjal yang rusak. Bayangkan sahabat, saudara kita, pasien HD menjalani ini seumur hidupnya. Subhanallah..
Pertama bertemu lelaki itu,saat saya melakukan studi pendahuluan. Lelaki berperawakan sedang, berkulit coklat dan rambut gondrong sebahunya tengah asyik berjualan. Lelaki itu menjual pin dan mainan anak-anak di depan ruang HD. Kutaksir usianya sekitar 25 tahunan. Saya menatapnya lekat-lekat terlihat sehat walafiat. Ia khusyuk melayani pelanggan kecilnya.
Tak lama, suster memanggil sebuah nama. Saya baru sadar bahwa sang lelaki adalah pasien HD juga. Padahal kutelisik dari roman mukanya ia nampak sehat. Dengan cekatan ia menuntaskan transaksi terakhir. Kemudian beringsut menuju ruangan. Dari pertemuan itu, saya tak lagi melihatnya. Hingga beberapa minggu saya kunjungi ruang HD tak ada wajah sang lelaki saya temui.
Tiba suatu masa, saat saya melakukan penelitan. Siang itu, saya asyik bercengkrama dengan pasien dan keluarga yang mengantarnya. Berbagi cerita dan pengalaman hidup yang mereka rasakan. Tiba-tiba datang dua orang pemuda. Satu orang nampak menaiki kursi roda. Badannya terkulai, pasi rona wajahnya. Sedang pemuda satunya, ternyata petugas RS yang membantu mendorong roda. Pemuda yang menaiki kursi roda, perlahan beranjak ke kursi tunggu. Tampak menopang badan sekuat tenaga dengan energinya yang tersisa.
Saya yang saat itu tepat dihadapannya, belumlah berani menanyainya. Bukan hanya pucat, sang pemuda terlihat sulit untuk bernafas. Otot-otot pembantu pernafasan jelas terlihat. Nyaris seperti orang yang asma. Bedanya, tanpa bunyi mengi. Saya masih mengamatinya yang gusar. Perlahan direbahkan tubuhnya pada kursi putih panjang itu. Tak lama terlelap ia.
Sejenak saya menyelami bagaimana kehidupan pasien gagal ginjal yang tergantung dengan HD. Bagaimana saat terjadi anfal, hingga sesak nafas yang mendadak datang karena salah makan. Pasien gagal ginjal melakukan diet, sahabat. Tak ada sayuran hijau, tak ada tempe atau tahu, jika pun boleh hanya irisan kecil saja, tak boleh makan buah-buahan dan sebagainya. Yang lebih miris lagi, mereka hanya minum 500ml sehari. Mungkin hampir sama dengan 3 gelas dalam satu hari. Jika berlebih, maka tubuh akan bengkak, perut membuncit, dan nafas akan sesak oleh akumulasi cairan di paru.
Kembali pada sang pemuda, oh ya saya baru sadar. Ternyata sang pemuda itu adalah lelaki penjual pin yang saya temui pertama kali. Saya merasa pangling, karena rambutnya sudah rapi. Tak gondrong lagi. Kini, sang pemuda bangun dari tidurnya dan memilih untuk duduk. Saya masih tenggelam dalam pembicaraan yang mendalam. Tiba-tiba, Braaakkkk!! Tubuh sang pemuda jatuh dari tempat duduknya. Badannya terkulai lemah. Hampir saja kepalanya menyentuh lantai.
Para lelaki berhambur, ada juga yang panik dan memanggil suster. Kemudian dua orang suster datang dan menyuruh bapak-bapak untuk membawa sang pemuda ke dalam. Sang pria digotong menuju ruangan. Sejurus kemudian kepanikan mereda. Dan gemuruh tanya membahana di hati saya, ada apa dengan sang pemuda?
“Bisanya yang sesek, pingsan sampe ga sadar gitu mah karena banyak minum neng.” Kata lawan bicara saya seolah menjawab pertanyaan yang saya ajukan pada pikiran. “Atau juga karena makan pantangan makanan. Kalo si Aa itu mah sakitnya karena kebanyakan minum ex*** j*s*. Abis makan, minumnya itu terus, ngga minum air putih. Jadi weh ginjalnya rusak, padahal kan masih muda yah..”. Aku hanya menjadi pendengar setia.
Kemudian, saya sengaja masuk ruangan untuk melihat kondisi sang pemuda. Belumlah siuman ia rupanya. Sedang para perawat masih sibuk memasangkan jarum di tangannya. Kemudian sambungan selangnya menuju alat hemodialisa. Perawat lain, memasang kanul oksigen karena ia kesulitan bernafas. Selama 4 jam, sang pemuda akan dicuci darahnya.
Ah, kejadian ini membuat saya tersadar akan betapa luar biasanya nikmat sehat itu. Terkadang saya sering telat makan, minum kalau pas haus, sering jajan junk food atau yang berpengawet, lebih senang minuman aneka rasa kemasan daripada air putih. Ah, terkadang saya lalai akan nikmat sehat ini. Betapa bersyukur itu perlu. Atas nikmat bernafas, penglihatan, pendengaran, pencecapan, perabaan, dan nikmat lain yang Allah beri dengan percuma. Seharusnya yang muda yang sehat sentosa tentunya! Semoga bermanfaat!
Menjelang subuh, 26 Juni 2010
dalam rinai hujan pelangi tiba, senja beranjak ke peraduannya. di bawah pelangi kata, kutemukan kau di sana..
Jumat, 26 Agustus 2011
Anak-anak Luar Biasa
Bismillah..
“Bu..esnya bu..es…!!!”
Suara seorang bocah lelaki behasil mengalihkan perhatian saya. Saya yang waktu itu sedang menunggu lapak tensi saya. Sekilas saya lihat bocah lelaki itu menawarkan es jajakannya pada sepasang suami istri paruh baya yang tengah menikmati semangkuk baso. Namun mereka mengeleng, enggan. Sang bocah tak patah arang mencari pembeli lainnya. Didekatinya seorang ibu yang tengah duduk dihamparan tikar. Kali ini bocah itu beruntung. Sang ibu membeli lima bungkus es.
Ada rona bahagia di hati sang bocah. Mungkin karena es jajakannya laku. Maklum, Ahad itu Gasibu panas sekali. Maka, es yang dijual sang bocah pantas saja laku. Aku masih mengamatinya dari kejauhan. Berjalan dari satu orang ke orang lain. Menjajakan dagangan dengan wajah polosnya. Rasanya tak ada beban sama sekali. Jauh dari kesan gengsi yang kerap menggelayut pada wajah orang yang lebih dewasa darinya saat disuruh jualan atau mendapat pekerjaan yang kurang sesuai.
Selain bocah kecil itu, ada pula anak lelaki yang membuat saya kagum. Saya kerap bertemu dengannya sehabis pulang kuliah. Sang anak membantu bapaknya mendorong roda-gerobak baso tahu. Karena jalan yang ditempuh agak jauh dan mungkin ia takut bapaknya tak kuat barangkali jadi si anak membantunya. Saya sering menyebutnya “Anak yang berbakti.”
***
Suatu ketika saya akan pulang dari kampus. Saya rasakan perut saya meronta, lapar. Namun saya hiraukan sejenak, berharap nanti di pangkalan damri saya akan membeli makanan. Saat saya hendak menunggu angkot gratis di depan Fikom, ada seorang anak lelaki membawa kotak-kotak makanan. Mungkin sedang menunggu angkot juga.
“A, makanannya masih ada?”
“Masih teh.” jawabnya bersemangat karena tahu saya akan membeli barangkali.
“Ada apa aja?”
“Ada bala-bala, lontong, tahu, pisang, bla..bla..”
“Oh, ya udah saya mau lontong, tahu sama bala-bala aja. Berapa?”
“Seribu lima ratus teh!” dengan cekatan sang anak membungkus pesanan saya.
Saya keluarkan dompet dan membayarnya.
“Jualannya pulang sekolah, A?”
“Iya teh..”
“Sekolah dimana?”
“di MTS yang di bawah teh..”
“Oh, ini yang bikin mamanya?” kata saya seraya menunjuk gorengan yang tersisa.
“Iya teh” katanya sambil membereskan kotak-kotak makanan itu.
Tak lama angkot yang kami tunggu datang. Aku dan anak lelaki itu naik. Ia lebih memilih duduk di depan dekat pak supir. Dan sejurus kemudian turun di daerah Fakultas Pertanian.
“Mangga teh..” katanya sebelum turun padaku. Ku balas dengan senyum kekaguman. Pandanganku tak lepas saat ia turun dari mobil kemudian menyusuri jalan penuh ilalang itu.
Saya sering berdecak kagum pada anak-anak berkemauan kuat seperti itu. Anak yang membuang egonya jauh-jauh. Terlepas dari apa motif mereka berjualan. Saya menganggap mereka anak-anak luar bisa. Yang tak melulu memikirkan kemauannya dan hanya bisa meminta pada orang tua. Yang tak malu menjajakan dagangan saat teman-temannya mengisi waktu untuk sekedar main.
Tiba-tiba saya terlempar pada memori masa kecil saya. Saat SD tepatnya, saya berjual jus mangga di depan rumah. Orang tua saya yang seorang pedagang mungkin menularkan bakatnya pada saya. Saya layani anak-anak yang membeli jus buatan mama. Keuntungannya mama berikan pada saya untuk jajan. Saya pun menjual makanan ringan di depan rumah bahkan di sekolah. Laku juga alhamdulillah.
Hingga kini saya tetap berupaya untuk memanfaat potensi yang saya punya, dengan mejajakan jasa tensi misalnya. Jika ditanya ada rasa malu atau tidak? Ya, malu sih, tapi bukankah malu atau gengsi tak akan menghasilkan uang? :)
Bandung, 10 Mei 2010
“Bu..esnya bu..es…!!!”
Suara seorang bocah lelaki behasil mengalihkan perhatian saya. Saya yang waktu itu sedang menunggu lapak tensi saya. Sekilas saya lihat bocah lelaki itu menawarkan es jajakannya pada sepasang suami istri paruh baya yang tengah menikmati semangkuk baso. Namun mereka mengeleng, enggan. Sang bocah tak patah arang mencari pembeli lainnya. Didekatinya seorang ibu yang tengah duduk dihamparan tikar. Kali ini bocah itu beruntung. Sang ibu membeli lima bungkus es.
Ada rona bahagia di hati sang bocah. Mungkin karena es jajakannya laku. Maklum, Ahad itu Gasibu panas sekali. Maka, es yang dijual sang bocah pantas saja laku. Aku masih mengamatinya dari kejauhan. Berjalan dari satu orang ke orang lain. Menjajakan dagangan dengan wajah polosnya. Rasanya tak ada beban sama sekali. Jauh dari kesan gengsi yang kerap menggelayut pada wajah orang yang lebih dewasa darinya saat disuruh jualan atau mendapat pekerjaan yang kurang sesuai.
Selain bocah kecil itu, ada pula anak lelaki yang membuat saya kagum. Saya kerap bertemu dengannya sehabis pulang kuliah. Sang anak membantu bapaknya mendorong roda-gerobak baso tahu. Karena jalan yang ditempuh agak jauh dan mungkin ia takut bapaknya tak kuat barangkali jadi si anak membantunya. Saya sering menyebutnya “Anak yang berbakti.”
***
Suatu ketika saya akan pulang dari kampus. Saya rasakan perut saya meronta, lapar. Namun saya hiraukan sejenak, berharap nanti di pangkalan damri saya akan membeli makanan. Saat saya hendak menunggu angkot gratis di depan Fikom, ada seorang anak lelaki membawa kotak-kotak makanan. Mungkin sedang menunggu angkot juga.
“A, makanannya masih ada?”
“Masih teh.” jawabnya bersemangat karena tahu saya akan membeli barangkali.
“Ada apa aja?”
“Ada bala-bala, lontong, tahu, pisang, bla..bla..”
“Oh, ya udah saya mau lontong, tahu sama bala-bala aja. Berapa?”
“Seribu lima ratus teh!” dengan cekatan sang anak membungkus pesanan saya.
Saya keluarkan dompet dan membayarnya.
“Jualannya pulang sekolah, A?”
“Iya teh..”
“Sekolah dimana?”
“di MTS yang di bawah teh..”
“Oh, ini yang bikin mamanya?” kata saya seraya menunjuk gorengan yang tersisa.
“Iya teh” katanya sambil membereskan kotak-kotak makanan itu.
Tak lama angkot yang kami tunggu datang. Aku dan anak lelaki itu naik. Ia lebih memilih duduk di depan dekat pak supir. Dan sejurus kemudian turun di daerah Fakultas Pertanian.
“Mangga teh..” katanya sebelum turun padaku. Ku balas dengan senyum kekaguman. Pandanganku tak lepas saat ia turun dari mobil kemudian menyusuri jalan penuh ilalang itu.
Saya sering berdecak kagum pada anak-anak berkemauan kuat seperti itu. Anak yang membuang egonya jauh-jauh. Terlepas dari apa motif mereka berjualan. Saya menganggap mereka anak-anak luar bisa. Yang tak melulu memikirkan kemauannya dan hanya bisa meminta pada orang tua. Yang tak malu menjajakan dagangan saat teman-temannya mengisi waktu untuk sekedar main.
Tiba-tiba saya terlempar pada memori masa kecil saya. Saat SD tepatnya, saya berjual jus mangga di depan rumah. Orang tua saya yang seorang pedagang mungkin menularkan bakatnya pada saya. Saya layani anak-anak yang membeli jus buatan mama. Keuntungannya mama berikan pada saya untuk jajan. Saya pun menjual makanan ringan di depan rumah bahkan di sekolah. Laku juga alhamdulillah.
Hingga kini saya tetap berupaya untuk memanfaat potensi yang saya punya, dengan mejajakan jasa tensi misalnya. Jika ditanya ada rasa malu atau tidak? Ya, malu sih, tapi bukankah malu atau gengsi tak akan menghasilkan uang? :)
Bandung, 10 Mei 2010
Sepotong Kata Maaf
Bismilah
Beberapa waktu lalu saya menerima pesan singkat dari seseorang di masa lalu. Walau saya tak kenal betul siapa dia karena ia enggan menungkapkan jati dirinya. Yang pasti isi pesannya sedikit menyakitkan. Karena kata-kata yang diutaranya “kurang enak” dibaca.
Sudah lama saya tak mendapat kata dengan nada cacian seperti itu. Dan beberapa hari yang lalu saya mendapatkanya. Cukuplah bagi saya itu bukti bahwa tak semua orang menyukai kita. Maka seharusnya pada Allah-lah digantungkan segala harap dan cemas itu. Karena hanya Dia yang mencintai kita apa adanya.
Jujur saya hanya manusia biasa yang tak lepas dari dosa. Masa lalu saya yang “jahil” mungkin telah membuat orang misterius itu memendam kekesalannya pada saya. Namun ia baru ungkapkan kemarin. Dari situ, saya ungkapkan permohonan maaf saya. Maaf atas kata, laku, dan tingkah saya yang mungkin menyakiti hatinya.
Sedang cacian yang ia muntahkan pada saya, saya jadi ingat cerita Nabi Isa. Suatu hari Nabi Isa As. melewati kaum Yahudi. Mereka lalu berkata kepadanya dengan hal yang buruk dan menyakiti hatinya. Namun beliau lalu menjawabnya dengan perkataan yang baik. Nabi Isa pun ditanya oleh seseorang,”Mereka telah mengatakan keburukan kepada Anda, lalu kenapa Anda membalasnya dengan kebaikan?” Nabi Isa pun berkata, “Setiap orang akan memberi sesuai dengan yang dia miliki”.
Bagi saya percakapan di atas sudahlah cukup untuk menjawab cacian yang saya terima. “Setiap orang akan memberikan apa yang dimilikinya.” Jika ia memiliki keburukan maka ia akan memberikan keburukan pada orang lain. Sedang, jika yang ia miliki adalah kebaikan, maka kebaikan pulalah yang akan ia sebarluaskan.
Sahabat, mungkin banyak kata dan tingkah laku saya yang menyakitkan, yang membuat jengah dan tak menentramkan. Maka izinkanlah saya meminta maaf setulus-tulusnya dari hati saya, agar sahabat berkenan memaafkan kesalahan saya. Karena saya tak tahu kapan umur saya berakhir. Karena saya tak tahu kapan akan pulang. Maka bukankah memaafkan adalah amalan dicintai Allah Swt?
“Ada tiga golongan yang barang siapa yang termasuk di dalamnya, niscaya Allah akan menempatkannya dalam naungan-Nya, melindunginya dengan Rahmat-Nya, dan memasukkannya dalam Cinta-Nya. Mereka adalah orang yang bersyukur apabila diberi nikmat, memaafkan saat dia sanggup membalas, dan bila marah, dia menahannya.” (HR. Al-Hakim)
Terimakasih, jika sahabat berkenan memaafkan saya. Pun untuk seseorang yang misterus, terimakasih telah mengingatkan saya untuk senantiasa selalu menjaga lisan dan tingkah laku .
Bandung, 12 Mei 2010
Sahabatmu
Ade Fariyani
Beberapa waktu lalu saya menerima pesan singkat dari seseorang di masa lalu. Walau saya tak kenal betul siapa dia karena ia enggan menungkapkan jati dirinya. Yang pasti isi pesannya sedikit menyakitkan. Karena kata-kata yang diutaranya “kurang enak” dibaca.
Sudah lama saya tak mendapat kata dengan nada cacian seperti itu. Dan beberapa hari yang lalu saya mendapatkanya. Cukuplah bagi saya itu bukti bahwa tak semua orang menyukai kita. Maka seharusnya pada Allah-lah digantungkan segala harap dan cemas itu. Karena hanya Dia yang mencintai kita apa adanya.
Jujur saya hanya manusia biasa yang tak lepas dari dosa. Masa lalu saya yang “jahil” mungkin telah membuat orang misterius itu memendam kekesalannya pada saya. Namun ia baru ungkapkan kemarin. Dari situ, saya ungkapkan permohonan maaf saya. Maaf atas kata, laku, dan tingkah saya yang mungkin menyakiti hatinya.
Sedang cacian yang ia muntahkan pada saya, saya jadi ingat cerita Nabi Isa. Suatu hari Nabi Isa As. melewati kaum Yahudi. Mereka lalu berkata kepadanya dengan hal yang buruk dan menyakiti hatinya. Namun beliau lalu menjawabnya dengan perkataan yang baik. Nabi Isa pun ditanya oleh seseorang,”Mereka telah mengatakan keburukan kepada Anda, lalu kenapa Anda membalasnya dengan kebaikan?” Nabi Isa pun berkata, “Setiap orang akan memberi sesuai dengan yang dia miliki”.
Bagi saya percakapan di atas sudahlah cukup untuk menjawab cacian yang saya terima. “Setiap orang akan memberikan apa yang dimilikinya.” Jika ia memiliki keburukan maka ia akan memberikan keburukan pada orang lain. Sedang, jika yang ia miliki adalah kebaikan, maka kebaikan pulalah yang akan ia sebarluaskan.
Sahabat, mungkin banyak kata dan tingkah laku saya yang menyakitkan, yang membuat jengah dan tak menentramkan. Maka izinkanlah saya meminta maaf setulus-tulusnya dari hati saya, agar sahabat berkenan memaafkan kesalahan saya. Karena saya tak tahu kapan umur saya berakhir. Karena saya tak tahu kapan akan pulang. Maka bukankah memaafkan adalah amalan dicintai Allah Swt?
“Ada tiga golongan yang barang siapa yang termasuk di dalamnya, niscaya Allah akan menempatkannya dalam naungan-Nya, melindunginya dengan Rahmat-Nya, dan memasukkannya dalam Cinta-Nya. Mereka adalah orang yang bersyukur apabila diberi nikmat, memaafkan saat dia sanggup membalas, dan bila marah, dia menahannya.” (HR. Al-Hakim)
Terimakasih, jika sahabat berkenan memaafkan saya. Pun untuk seseorang yang misterus, terimakasih telah mengingatkan saya untuk senantiasa selalu menjaga lisan dan tingkah laku .
Bandung, 12 Mei 2010
Sahabatmu
Ade Fariyani
Kesetiaan Seorang Istri
Bismillah..
Kemarin bada magrib sekitar pukul 18.00, saya dan seorang sahabat hendak pulang dari Landmark Braga. Saat kami berada di depan pintu keluar, sahabat saya mengajak melihat lapak bros tepat 1 meter di depan kami. Aku mengiyakan. Brosnya unik berbentuk bunga yang terbuat dari bahan bening dengan berbagai warna yang indah. Sebenarnya saya tertarik pada yang warna merah, namun berhubung sahabat saya menggeleng yang artinya tanda kurang suka, maka kami berlalu.
Yang menarik perhatian saya yaitu bros tersebut buatan tangan alias handmade. Seorang wanita berkerudung coklat tua sekitar usia 25-an itulah penjaja sekaligus pembuatnya. Wanita tengah hamil besar tersebut duduk beralaskan koran bersama seorang pria yang mungkin suaminya. Aktivitas sang pria pun tak jauh berbeda. Ia sibuk merangkai bros bunga jajakanya. Pemandangan yang luar biasa menurut saya, seorang istri yang tengah hamil tua menemani suaminya menjemput rizki dengan setia.
Kemudian saya pulang. Di jalan saya mendapat pertanyaan yang cukup mencengangkan dari sahabat saya. Ia bertanya “Kalo nikah itu enak ga sih??”. Sejurus saya merenung. Dalam pikiran saya nikah itu ya enak, wong semua yang dilakukan konteksnya adalah ibadah kok. Tapi, dalam pernikahan tidak akan selalu diliputi yang indah-indah saja. Akan ada rintangannya, akan ada batu kerikil bahkan batu kali juga ada hehe…Saya heran kenapa saya bisa menjawab seperti itu. Padahal kan saya belum menikah, Wew!!= =a
Kemudian mengalirlah kisah. Dalam suatu arisan, ibu-ibu bebas mengungkapkan kegelisahan dan kegalauannya. Termasuk tentang suami mereka. Ada yang berkeluh, suaminya harus selalu dimasakin ini itu. Tiap 3 kali makan (pagi-siang-malam) harus dengan menu yang berbeda. Dan setelah masakan terhidang, sang suami makan tak lebih dari beberapa sendok saja. Betapa tak mengkeretnya hati sang istri.
Adapula yang merasa jengkel karena suaminya selalu merasa benar. Pendapat istri dan anaknya pun salah. Hingga pertengkaran pun tak terelakkan. Mungkin dalam hati sang istri, hidup dengan anaknya pun sudah cukup tak perlulah suaminya. Namun apalah yang mau dikata, bagaimanapun sang suami membutuhkannya. Bagaimanapun ia harus setia mendampingi kala ia gagah pun saat ia lemah. Bagaimanapun cintanya telah bersemi bahkan berbuah.
Maka benarlah kata seorang teman yang berkata bahwa cinta wanita itu hanya seujung kuku. Kecil namun tetap tumbuh dengan setia. Tetap subur walau ketika kau memotongnya. Ia akan hadir dengan segenap ketulusan. Telinganya siap mendengar keluhan. Tangannya selalu tersedia untuk memenuhi tanggung jawab. Dan hatinya selalu ada kala ingin bersandar.
Semoga Allah selalu menuntun kita agar menjadi wanita sholehah di dunia dan akhirat kelak…amin.
Bandung, 13 Mei 2010
Kemarin bada magrib sekitar pukul 18.00, saya dan seorang sahabat hendak pulang dari Landmark Braga. Saat kami berada di depan pintu keluar, sahabat saya mengajak melihat lapak bros tepat 1 meter di depan kami. Aku mengiyakan. Brosnya unik berbentuk bunga yang terbuat dari bahan bening dengan berbagai warna yang indah. Sebenarnya saya tertarik pada yang warna merah, namun berhubung sahabat saya menggeleng yang artinya tanda kurang suka, maka kami berlalu.
Yang menarik perhatian saya yaitu bros tersebut buatan tangan alias handmade. Seorang wanita berkerudung coklat tua sekitar usia 25-an itulah penjaja sekaligus pembuatnya. Wanita tengah hamil besar tersebut duduk beralaskan koran bersama seorang pria yang mungkin suaminya. Aktivitas sang pria pun tak jauh berbeda. Ia sibuk merangkai bros bunga jajakanya. Pemandangan yang luar biasa menurut saya, seorang istri yang tengah hamil tua menemani suaminya menjemput rizki dengan setia.
Kemudian saya pulang. Di jalan saya mendapat pertanyaan yang cukup mencengangkan dari sahabat saya. Ia bertanya “Kalo nikah itu enak ga sih??”. Sejurus saya merenung. Dalam pikiran saya nikah itu ya enak, wong semua yang dilakukan konteksnya adalah ibadah kok. Tapi, dalam pernikahan tidak akan selalu diliputi yang indah-indah saja. Akan ada rintangannya, akan ada batu kerikil bahkan batu kali juga ada hehe…Saya heran kenapa saya bisa menjawab seperti itu. Padahal kan saya belum menikah, Wew!!= =a
Kemudian mengalirlah kisah. Dalam suatu arisan, ibu-ibu bebas mengungkapkan kegelisahan dan kegalauannya. Termasuk tentang suami mereka. Ada yang berkeluh, suaminya harus selalu dimasakin ini itu. Tiap 3 kali makan (pagi-siang-malam) harus dengan menu yang berbeda. Dan setelah masakan terhidang, sang suami makan tak lebih dari beberapa sendok saja. Betapa tak mengkeretnya hati sang istri.
Adapula yang merasa jengkel karena suaminya selalu merasa benar. Pendapat istri dan anaknya pun salah. Hingga pertengkaran pun tak terelakkan. Mungkin dalam hati sang istri, hidup dengan anaknya pun sudah cukup tak perlulah suaminya. Namun apalah yang mau dikata, bagaimanapun sang suami membutuhkannya. Bagaimanapun ia harus setia mendampingi kala ia gagah pun saat ia lemah. Bagaimanapun cintanya telah bersemi bahkan berbuah.
Maka benarlah kata seorang teman yang berkata bahwa cinta wanita itu hanya seujung kuku. Kecil namun tetap tumbuh dengan setia. Tetap subur walau ketika kau memotongnya. Ia akan hadir dengan segenap ketulusan. Telinganya siap mendengar keluhan. Tangannya selalu tersedia untuk memenuhi tanggung jawab. Dan hatinya selalu ada kala ingin bersandar.
Semoga Allah selalu menuntun kita agar menjadi wanita sholehah di dunia dan akhirat kelak…amin.
Bandung, 13 Mei 2010
Berbagi Hati
Bismillah..
Beberapa hari kemarin, televisi sibuk mengabarkan keberhasilan sebuah rumah sakit menjalankan operasi cangkok ginjal. Adalah Ramdhan, bocah malang yang menjalani cangkok hati itu. Seperti halnya alm. Bilqis, Ramdhan menderita kelainan congenital yaitu Atresia bilier. Penyakit ini merupakan penyakit langka (1:500.000). Namun, entah akhir-akhir ini marak muncul.
Atresia bilier atau dalam bahasa awam tak terbentuknya saluran empedu ini diderita Ramdhan sejak lahir. Dengan tak terbentuknya saluran tersebut maka tak ada yang menetralisir racun dan mengemulsi lemak dalam tubuh mungil Ramdhan. Walhasil, kerja hati menjadi ekstra keras membuat kerusakan organ semakin massif.
Jika sahabat melihat tubuh kecil ramdhan, mungkin akan miris. Badannya kecil, mata dan tubuhnya ikterik (kuning), dan perutnya buncit (ascites). Ini karena akumulasi racun dan cairan di tubuh anak tersebut. Fungsi hatinya pun tak berjalan normal. Makin lama-makin bengkak dan rusak. Akhirnya intervensi satu-satunya untuk Ramdhan selain penggunaan obat juga transplantasi hati.
Proses transplantasi hati ini yang unik. Yakni sebagian organ hati donor akan diberikan pada pasien. Perlu sahabat tahu, organ hati ini begitu unik. Ia akan tumbuh dan regenerasi. Berbeda dengan sel jantung, ginjal atau otak yang jika sekali rusak tak bisa diperbaharui lagi. Sel hati ini akan berkembang secara massif, menjadi satu organ yang utuh. Pengambilanya pun tentu dari sel hati yang sehat.
Adalah ibu Susilawati, ibu Ramdhan sang pendonor tersebut. Ia rela 20% hatinya dibagikan untuk anaknya tercinta. Jadi operasi yang dilakukan pun berlansung dua kali. Pada Ibunya yaitu pengambilan organ dan pada Ramdhan untuk menyimpan dan mengembangkan hati tersebut.
Sahabat, disana kita bisa lihat betapa kasih sayang ibu begitu luas. Seperti organ hati itu, ia tumbuh dengan masifnya. Jika saya boleh berhiperbol mungkin kasihnya seluas langit dan bumi. Ia rela mengorbankan apapun untuk anaknya tercinta. Jangankan darah, keringat, air mata bahkan nyawa pun ia berikan. Jangankan uang atau tenaga, organ pentingnya pun cuma-cuma ibunda berikan untuk bisa melihat anaknya sehat kembali. Karena baginya, nafas anaknya masihlah panjang pun hidupnya.
Saya jadi ingat, dahulu saat saya kecil sakit . Betapa pengorbanan ibu dan bapak saya begitu besar. Pergi ke dokter bahkan tak tanggung-tanggung dokter spesialis anak yang kerap memasang tarif tinggi pun disambanginya. Untuk apalagi, jika bukan untuk membuat saya kembali ceria. Maka betapa mulianya mereka, orang tua kita. Bahkan dalam Al-quran dijelaskan setelah menyembah Allah Swt, perintah selanjutnya adalah hormati orang tuamu. Apalagi ibu, hingga tiga kali Rasulullah sebutkan setelah itu baru ayah.
Memang perjuangan ibu sungguh luar biasa. Saat ia mengandung kita, susah sungguh. Melahirkan kita dengan taruhan nyawa. Menyusui kita dengan begitu ikhlasnya. Mendidik kita sepenuh kesabarannya. Dalam malam-malamnya, ia mengusap airmata. Meminta pada Sang Khalik agar memberikan yang terbaik untuk kita. Ampunannya tak bertepi tiada tara saat sereset kata atau laku kita menyakitinya. Maka betullah ujaran Ust. Anis Matta yang menyebutkan bahwa cinta ibu itu Cinta NO.1. Cinta yang bisa setara dengan cinta Allah pada kita.
Satu lagi yang takkan pernah saya lupakan, yaitu saat ibu saya dengan wajah bangganya menyambut saya. Kemarin seminar proposal saya alhmadulillah berjalan lancar. Mungkin itu semua karena doa dari orang tua. Dan betapa indahnya saat ibu saya mengucapkan “SELAMAT ya neng!!”. Ada rasa haru dalam kalbu. Ada rasa bangga yang menulusup halus dalam hati saya kala itu. Rasanya ingin saya mengungkapkan “Apapun akan saya berikan buat mamah, selagi itu membuatmu bahagia”.
Sahabat, jangan tunda untuk menghubungi ibumu segera. Memeluk dan mencium tangan dan pipinya. Beruntunglah jika kita masih bisa melakukan itu. Janganlah kau tunggu nanti. Karena yang ada adalah hari ini.
Hujan, ingatkan aku tentang satu rindu
Dimasa yang lalu saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan
Kau, Ibu..
Oh, Ibu…
(Lagu Opick feat Amanda)
Beberapa hari kemarin, televisi sibuk mengabarkan keberhasilan sebuah rumah sakit menjalankan operasi cangkok ginjal. Adalah Ramdhan, bocah malang yang menjalani cangkok hati itu. Seperti halnya alm. Bilqis, Ramdhan menderita kelainan congenital yaitu Atresia bilier. Penyakit ini merupakan penyakit langka (1:500.000). Namun, entah akhir-akhir ini marak muncul.
Atresia bilier atau dalam bahasa awam tak terbentuknya saluran empedu ini diderita Ramdhan sejak lahir. Dengan tak terbentuknya saluran tersebut maka tak ada yang menetralisir racun dan mengemulsi lemak dalam tubuh mungil Ramdhan. Walhasil, kerja hati menjadi ekstra keras membuat kerusakan organ semakin massif.
Jika sahabat melihat tubuh kecil ramdhan, mungkin akan miris. Badannya kecil, mata dan tubuhnya ikterik (kuning), dan perutnya buncit (ascites). Ini karena akumulasi racun dan cairan di tubuh anak tersebut. Fungsi hatinya pun tak berjalan normal. Makin lama-makin bengkak dan rusak. Akhirnya intervensi satu-satunya untuk Ramdhan selain penggunaan obat juga transplantasi hati.
Proses transplantasi hati ini yang unik. Yakni sebagian organ hati donor akan diberikan pada pasien. Perlu sahabat tahu, organ hati ini begitu unik. Ia akan tumbuh dan regenerasi. Berbeda dengan sel jantung, ginjal atau otak yang jika sekali rusak tak bisa diperbaharui lagi. Sel hati ini akan berkembang secara massif, menjadi satu organ yang utuh. Pengambilanya pun tentu dari sel hati yang sehat.
Adalah ibu Susilawati, ibu Ramdhan sang pendonor tersebut. Ia rela 20% hatinya dibagikan untuk anaknya tercinta. Jadi operasi yang dilakukan pun berlansung dua kali. Pada Ibunya yaitu pengambilan organ dan pada Ramdhan untuk menyimpan dan mengembangkan hati tersebut.
Sahabat, disana kita bisa lihat betapa kasih sayang ibu begitu luas. Seperti organ hati itu, ia tumbuh dengan masifnya. Jika saya boleh berhiperbol mungkin kasihnya seluas langit dan bumi. Ia rela mengorbankan apapun untuk anaknya tercinta. Jangankan darah, keringat, air mata bahkan nyawa pun ia berikan. Jangankan uang atau tenaga, organ pentingnya pun cuma-cuma ibunda berikan untuk bisa melihat anaknya sehat kembali. Karena baginya, nafas anaknya masihlah panjang pun hidupnya.
Saya jadi ingat, dahulu saat saya kecil sakit . Betapa pengorbanan ibu dan bapak saya begitu besar. Pergi ke dokter bahkan tak tanggung-tanggung dokter spesialis anak yang kerap memasang tarif tinggi pun disambanginya. Untuk apalagi, jika bukan untuk membuat saya kembali ceria. Maka betapa mulianya mereka, orang tua kita. Bahkan dalam Al-quran dijelaskan setelah menyembah Allah Swt, perintah selanjutnya adalah hormati orang tuamu. Apalagi ibu, hingga tiga kali Rasulullah sebutkan setelah itu baru ayah.
Memang perjuangan ibu sungguh luar biasa. Saat ia mengandung kita, susah sungguh. Melahirkan kita dengan taruhan nyawa. Menyusui kita dengan begitu ikhlasnya. Mendidik kita sepenuh kesabarannya. Dalam malam-malamnya, ia mengusap airmata. Meminta pada Sang Khalik agar memberikan yang terbaik untuk kita. Ampunannya tak bertepi tiada tara saat sereset kata atau laku kita menyakitinya. Maka betullah ujaran Ust. Anis Matta yang menyebutkan bahwa cinta ibu itu Cinta NO.1. Cinta yang bisa setara dengan cinta Allah pada kita.
Satu lagi yang takkan pernah saya lupakan, yaitu saat ibu saya dengan wajah bangganya menyambut saya. Kemarin seminar proposal saya alhmadulillah berjalan lancar. Mungkin itu semua karena doa dari orang tua. Dan betapa indahnya saat ibu saya mengucapkan “SELAMAT ya neng!!”. Ada rasa haru dalam kalbu. Ada rasa bangga yang menulusup halus dalam hati saya kala itu. Rasanya ingin saya mengungkapkan “Apapun akan saya berikan buat mamah, selagi itu membuatmu bahagia”.
Sahabat, jangan tunda untuk menghubungi ibumu segera. Memeluk dan mencium tangan dan pipinya. Beruntunglah jika kita masih bisa melakukan itu. Janganlah kau tunggu nanti. Karena yang ada adalah hari ini.
Hujan, ingatkan aku tentang satu rindu
Dimasa yang lalu saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan
Kau, Ibu..
Oh, Ibu…
(Lagu Opick feat Amanda)
Terimakasih, karena telah memilihku…
Bismillah..
Aku mengenal lelaki ini, sejak setengah tahun yang lalu. Awal perkenalan dengannya biasa saja. Terkesan jaim alias jaga image, penilaianku dulu. Kami dipertemukan dalam suatu kelompok, dan dialah ketuanya. Perkenalan kami pun bergulir menjadi percakapan-percakapan kecil. Dari yang ringan hingga berbobot.
Lelaki ini bukan seperti ikhwan yang kukenal. Hanya orang awam, walau sholat dan ibadah lain sering ia lakukan. Kebersamaan kami dalam kelompok kian akrab. Tentu aku masih memegang batas-batas yang disyariatkan agama. Kami menjadi kelompok yang solid saat itu.
Dari kedekatan kami- aku dan lelaki itu, perlahan terungkaplah sebuah rahasia. Sebuah perasaan yang selama ini ditutupinya. Kau jangan salah sangka dulu. Karena kedekatan kami itu yang membuatnya mau terbuka tentang masalahnya padaku. Terlebih, karena aku anak kesehatan. Lho, apa hubungannya? Simak kisah selanjutnya..:)
Sudah sejak lama kawan lelakiku ini menderita sakit kepala berat. Migren, sering ia menyebutnya. Namun yang aku rasakan, kok ada keanehan dalam dirinya. Masak keluhannya itu sudah ia rasakan dari sejak kelas 6 SD. Aku khawatir ada apa-apa, maka kusarankan untuk ia periksakan saja keluhannya itu.
Lama, ia tak menggubris bujukanku untuk memeriksakan diri ke dokter. Dia terkesan cuek bebek, dan santai saja. Aku pun tak tahu apa respon keluarganya akan hal itu. Yang pasti, keluarga terdekat pastilah lebih mengetahuinya. Entahlah, saat itu aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Pertemanan kami berjalan seperti biasa.
Suatu hari, pada saat perpisahan kelompok kami, aku menghubunginya. Bukan apa-apa karena aku harus menyerahkan lembar pertanggungjawaban dengan bubuhan tandatangannya tentunya. Namun, ternyata ia tak bisa dihubungi. Aku jadi khawatir. Karena deadline LPJ yang harus dikumpulkan segera dan tak ada kabar dari sang lelaki itu. Sampai sore hari kutunggu, ia baru membalas smsku. Dia sakit.
Ternyata migren-nya kambuh lagi. Selama ini ia hanya mengonsumsi analgetik yang tiap hari makin bertambah dosisnya. Aku yang tahu hal itu berbahaya lagi-lagi mendesaknya. Sebagai anak keperawatan, aku hanya khawatir ada gangguan di syaraf pusatnya. Gejalanya sering migren atau nyeri kepala. Misalnya ada penyempitan atau pelebaran pembuluh darah di otak, meningitis atau radang selaput otak, apalagi sampai kanker atau tumor otak. Naudzubillah…
Sahabat, rahasia itu akhirnya terkuak juga. Mungkin karena kejengahan sang lelaki menerima omelanku, hehe.. Dia mengungkapkan sering merasa migren sampai yang terfatal perdarahan yang keluar dari hidung dan telinganya. Aku makin mendesaknya untuk melakukan tes CT Scan. Ternyata ia pun telah melakukanya. Tak perlulah kau tahu persis penyakitnya. Yang pasti, ada yang tidak beres dengan pembuluh darah di otaknya. Pikirku, betapa begitu dini ia menderita penyakit seberat ini. Padahal, usianya tak terpaut jauh denganku, 22 tahun.
Sahabat, hingga kini aku masih berkomunikasi dengannya. Jika kau lihat keadaannya sekarang, mungkin kau tak menyangka bahwa ia sakit. Ia sehat wal afiat nampaknya. Ia pun termasuk salah satu mahasiswa yang berprestasi, dan lulus cumlaude beberapa waktu kemarin. Kini ia menjadi staf pengajar di kampusnya. Sungguh, tak kuduga hal itu. Ternyata penyakit tak mengalahkan impiannya untuk selalu berprestasi. Kuakui, lelaki itu salah satu yang menginspirasi.
Sempat kutanyakan adakah dia khawatir dengan penyakitnya itu. Dengan santai dia hanya bilang, “Mungkin, kita bertanya kenapa mesti saya yang sakit? Kenapa harus saya yang menderita? Kenapa tidak orang lain? Dan tau ngga jawabannya apa? Ya KENAPA NGGA! Allah telah memilih saya untuk lulus cumlaude kemarin. Allah telah memilih saya untuk jadi dosen saat temen-temen seangkatan saya belum lulus. Allah telah memberi saya keluarga dan sahabat yang menyayangi saya. Allah telah memberi nikmat-nikmat itu walau tanpa saya minta. Apa hanya karena Allah memilih saya untuk sakit, lalu saya mengabaikan kebaikan-kebaikan yang Dia limpahkan selama ini? Sepatutnya kita berterimakasih dan bersyukur telah dipilihkan yang terbaik menurut-Nya.”
Semoga memberi hikmah!
Bandung, 16 April 2010
Aku mengenal lelaki ini, sejak setengah tahun yang lalu. Awal perkenalan dengannya biasa saja. Terkesan jaim alias jaga image, penilaianku dulu. Kami dipertemukan dalam suatu kelompok, dan dialah ketuanya. Perkenalan kami pun bergulir menjadi percakapan-percakapan kecil. Dari yang ringan hingga berbobot.
Lelaki ini bukan seperti ikhwan yang kukenal. Hanya orang awam, walau sholat dan ibadah lain sering ia lakukan. Kebersamaan kami dalam kelompok kian akrab. Tentu aku masih memegang batas-batas yang disyariatkan agama. Kami menjadi kelompok yang solid saat itu.
Dari kedekatan kami- aku dan lelaki itu, perlahan terungkaplah sebuah rahasia. Sebuah perasaan yang selama ini ditutupinya. Kau jangan salah sangka dulu. Karena kedekatan kami itu yang membuatnya mau terbuka tentang masalahnya padaku. Terlebih, karena aku anak kesehatan. Lho, apa hubungannya? Simak kisah selanjutnya..:)
Sudah sejak lama kawan lelakiku ini menderita sakit kepala berat. Migren, sering ia menyebutnya. Namun yang aku rasakan, kok ada keanehan dalam dirinya. Masak keluhannya itu sudah ia rasakan dari sejak kelas 6 SD. Aku khawatir ada apa-apa, maka kusarankan untuk ia periksakan saja keluhannya itu.
Lama, ia tak menggubris bujukanku untuk memeriksakan diri ke dokter. Dia terkesan cuek bebek, dan santai saja. Aku pun tak tahu apa respon keluarganya akan hal itu. Yang pasti, keluarga terdekat pastilah lebih mengetahuinya. Entahlah, saat itu aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Pertemanan kami berjalan seperti biasa.
Suatu hari, pada saat perpisahan kelompok kami, aku menghubunginya. Bukan apa-apa karena aku harus menyerahkan lembar pertanggungjawaban dengan bubuhan tandatangannya tentunya. Namun, ternyata ia tak bisa dihubungi. Aku jadi khawatir. Karena deadline LPJ yang harus dikumpulkan segera dan tak ada kabar dari sang lelaki itu. Sampai sore hari kutunggu, ia baru membalas smsku. Dia sakit.
Ternyata migren-nya kambuh lagi. Selama ini ia hanya mengonsumsi analgetik yang tiap hari makin bertambah dosisnya. Aku yang tahu hal itu berbahaya lagi-lagi mendesaknya. Sebagai anak keperawatan, aku hanya khawatir ada gangguan di syaraf pusatnya. Gejalanya sering migren atau nyeri kepala. Misalnya ada penyempitan atau pelebaran pembuluh darah di otak, meningitis atau radang selaput otak, apalagi sampai kanker atau tumor otak. Naudzubillah…
Sahabat, rahasia itu akhirnya terkuak juga. Mungkin karena kejengahan sang lelaki menerima omelanku, hehe.. Dia mengungkapkan sering merasa migren sampai yang terfatal perdarahan yang keluar dari hidung dan telinganya. Aku makin mendesaknya untuk melakukan tes CT Scan. Ternyata ia pun telah melakukanya. Tak perlulah kau tahu persis penyakitnya. Yang pasti, ada yang tidak beres dengan pembuluh darah di otaknya. Pikirku, betapa begitu dini ia menderita penyakit seberat ini. Padahal, usianya tak terpaut jauh denganku, 22 tahun.
Sahabat, hingga kini aku masih berkomunikasi dengannya. Jika kau lihat keadaannya sekarang, mungkin kau tak menyangka bahwa ia sakit. Ia sehat wal afiat nampaknya. Ia pun termasuk salah satu mahasiswa yang berprestasi, dan lulus cumlaude beberapa waktu kemarin. Kini ia menjadi staf pengajar di kampusnya. Sungguh, tak kuduga hal itu. Ternyata penyakit tak mengalahkan impiannya untuk selalu berprestasi. Kuakui, lelaki itu salah satu yang menginspirasi.
Sempat kutanyakan adakah dia khawatir dengan penyakitnya itu. Dengan santai dia hanya bilang, “Mungkin, kita bertanya kenapa mesti saya yang sakit? Kenapa harus saya yang menderita? Kenapa tidak orang lain? Dan tau ngga jawabannya apa? Ya KENAPA NGGA! Allah telah memilih saya untuk lulus cumlaude kemarin. Allah telah memilih saya untuk jadi dosen saat temen-temen seangkatan saya belum lulus. Allah telah memberi saya keluarga dan sahabat yang menyayangi saya. Allah telah memberi nikmat-nikmat itu walau tanpa saya minta. Apa hanya karena Allah memilih saya untuk sakit, lalu saya mengabaikan kebaikan-kebaikan yang Dia limpahkan selama ini? Sepatutnya kita berterimakasih dan bersyukur telah dipilihkan yang terbaik menurut-Nya.”
Semoga memberi hikmah!
Bandung, 16 April 2010
SAPI !!!
Bismillah..
Suatu hari seorang lelaki mengendarai sebuah truk besar. Ia adalah seorang supir sekaligus kurir yang hendak mengantar barang yang diangkutnya. Ia pergi bersama seorang kawannya yang menjabat sebagai sopir cadangan. Jika ada hal yang rusak dengan mobilnya, ia takkan kerja sendiri begitulah pikirnya.
Alamat yang dituju berbeda dari biasanya. Kini ia akan mengantarkan barang ke sebuah daerah terpencil. Sebuah daerah yang berada di dataran tinggi. Truk bawaannnya besar, namun yang dilaluinya hanya jalan setapak. Hanya cukup untuk dua mobil. Itu pun sebaiknya mobil ukuran kecil. Kondisi diperparah karena disamping jalan tersebut ada jurang yang curam sekali. Jika tak hati-hati, truk bisa terperosok ke jurang.
Walhasil sang supir harus mengendarai truk dengn extra hati-hati. Prinsipnya kini adalah biar lambat asal selamat (hehe..maklum, mantan sopir ^^v). Kini, jalur yang dilaluinya agak lengang. Ia meningkatkan sedikit kecepatan. Agar segera sampai ke tempat tujuan maksudnya. Karena tugas mengantar selanjutnya telah mengantri.
Ketika tengah asyik mengendarai truk, dari arah yang berlawanan muncullah sebuah truk berukuran lebih kecil. Sopirnya adalah seorang pak tua yang terlihat panic, hingga mengendarai kurang hati-hati. Bisa jadi ia hampir menabrak truk besar. Ketika berpapasan dengan sopir truk besar ia berteriak, “SAPI!!!!!!”, wajahnya pias dan celingukan.
Sang sopir truk besar yang mendengar hal itu, kontan marah. Wajahnya langsung memerah. Seharusnya ialah yang marah. Karena si pak tua hampir membuatnya celaka. Bukannya minta maaf, ia malah menghinanya dengan kata “SAPI!!!”. Amarahnya kian meninggi. Tanpa sadar dia pun berteriak, “Monyet!!!”. Hina sang sopir pada pak tua.
Truk kecil lelaki tua itu berlalu. Kini sang sopir masih dengan amarah yang menggebu-gebu. Ia tak terima dibilang sapi, walau badannya tak bisa memungkiri. Ya, sang supir merasa gemuk barangkali. Kawan di sebelahnya berusaha menenangkan.
Truk kembali berjalan normal. Kini hampir sampai tempat tujuan. Ketika berjalan beberapa meter dari “tempat penghinaan” itu terjadi, didapatinya bangkai sapi. Oh, mungkin ini sang dimaksud pak tua tadi. Tersadarlah ia bahwa maksud pak tua itu baik.
Pak tua itu bermaksud memberi tahu dirinya bahwa ada sapi mati yang tergeletak di badan jalan. Dan terikan tadi adalah wasiat pak tua agar dirinya waspada. Bisa jadi jika ia kaget dan tak dapat mengendalikan truk, ia akan celaka. Akhirnya ia menyesal karena telah berprasangka buruk dan menghina pak tua yang justru bermaksud baik padanya.
Sahabat, beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah pesan sinkat. Isinya hanya satu kalimat, namun begitu menohok hati saya. Tak perlulah kau tau apa isinya. Yang pasti saat itu saya merasakan sedikit “sakit hati”.
Menyadari hal itu saya berpikir lagi. Barangkali saya telah berpikir negative terhadap orang itu. Barangkali maksud orang itu baik, seperti pak tua dalam cerita di atas. Barangkali ada yang salah dengan hati saya. Karena seringkali hati yang kotor, akan berimbas pada pikiran dan perasaan yang menjadi kotor pula. Ibarat sebuah kaca buram yang tak pernah dibersihkan. Secantik atau setampan apapun wajah yang ditampilkan, tak akan kelihatan elok dipandang.
Maka yang harus dilakukan adalah membersihkannya. Mengenyahkan debu yang menempel di permukaannya. Begitu pula hati kita. Prasangka akan membuatnya buram, tak tembus cahaya. Bisa dibayangkan jika ia kotor, buram yang berdebu, sebanyak apapun cahaya kebaikan yang Allah beri, akan terpantul lagi. Jika tak ada cahaya kebaikan dalam hati kita, maka untuk melakukan aktivitas kebaikan pun bukan main susahnya.
Allah pun telah berfirman, untuk kita menjauhi prasangka. Karena kebanyakan dari prasangka itu adalah dosa (Al-Hujurat: 12). Yuk, kita sama-sama benahi, menata, dan membersihkan hati kita dari prasangka. Agar cahaya hidayah dan kebaikan dari Allah berpendar dalam hati kita. Jaga ia dengan amalan kebaikan yang kita rangkai dalam detak kehidupan kita. Iringi dengan keikhlasan untuk mendapat Ridha dari-Nya.
Wallahu’alam bisshowab.
Bandung,13 April 2010
Suatu hari seorang lelaki mengendarai sebuah truk besar. Ia adalah seorang supir sekaligus kurir yang hendak mengantar barang yang diangkutnya. Ia pergi bersama seorang kawannya yang menjabat sebagai sopir cadangan. Jika ada hal yang rusak dengan mobilnya, ia takkan kerja sendiri begitulah pikirnya.
Alamat yang dituju berbeda dari biasanya. Kini ia akan mengantarkan barang ke sebuah daerah terpencil. Sebuah daerah yang berada di dataran tinggi. Truk bawaannnya besar, namun yang dilaluinya hanya jalan setapak. Hanya cukup untuk dua mobil. Itu pun sebaiknya mobil ukuran kecil. Kondisi diperparah karena disamping jalan tersebut ada jurang yang curam sekali. Jika tak hati-hati, truk bisa terperosok ke jurang.
Walhasil sang supir harus mengendarai truk dengn extra hati-hati. Prinsipnya kini adalah biar lambat asal selamat (hehe..maklum, mantan sopir ^^v). Kini, jalur yang dilaluinya agak lengang. Ia meningkatkan sedikit kecepatan. Agar segera sampai ke tempat tujuan maksudnya. Karena tugas mengantar selanjutnya telah mengantri.
Ketika tengah asyik mengendarai truk, dari arah yang berlawanan muncullah sebuah truk berukuran lebih kecil. Sopirnya adalah seorang pak tua yang terlihat panic, hingga mengendarai kurang hati-hati. Bisa jadi ia hampir menabrak truk besar. Ketika berpapasan dengan sopir truk besar ia berteriak, “SAPI!!!!!!”, wajahnya pias dan celingukan.
Sang sopir truk besar yang mendengar hal itu, kontan marah. Wajahnya langsung memerah. Seharusnya ialah yang marah. Karena si pak tua hampir membuatnya celaka. Bukannya minta maaf, ia malah menghinanya dengan kata “SAPI!!!”. Amarahnya kian meninggi. Tanpa sadar dia pun berteriak, “Monyet!!!”. Hina sang sopir pada pak tua.
Truk kecil lelaki tua itu berlalu. Kini sang sopir masih dengan amarah yang menggebu-gebu. Ia tak terima dibilang sapi, walau badannya tak bisa memungkiri. Ya, sang supir merasa gemuk barangkali. Kawan di sebelahnya berusaha menenangkan.
Truk kembali berjalan normal. Kini hampir sampai tempat tujuan. Ketika berjalan beberapa meter dari “tempat penghinaan” itu terjadi, didapatinya bangkai sapi. Oh, mungkin ini sang dimaksud pak tua tadi. Tersadarlah ia bahwa maksud pak tua itu baik.
Pak tua itu bermaksud memberi tahu dirinya bahwa ada sapi mati yang tergeletak di badan jalan. Dan terikan tadi adalah wasiat pak tua agar dirinya waspada. Bisa jadi jika ia kaget dan tak dapat mengendalikan truk, ia akan celaka. Akhirnya ia menyesal karena telah berprasangka buruk dan menghina pak tua yang justru bermaksud baik padanya.
Sahabat, beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah pesan sinkat. Isinya hanya satu kalimat, namun begitu menohok hati saya. Tak perlulah kau tau apa isinya. Yang pasti saat itu saya merasakan sedikit “sakit hati”.
Menyadari hal itu saya berpikir lagi. Barangkali saya telah berpikir negative terhadap orang itu. Barangkali maksud orang itu baik, seperti pak tua dalam cerita di atas. Barangkali ada yang salah dengan hati saya. Karena seringkali hati yang kotor, akan berimbas pada pikiran dan perasaan yang menjadi kotor pula. Ibarat sebuah kaca buram yang tak pernah dibersihkan. Secantik atau setampan apapun wajah yang ditampilkan, tak akan kelihatan elok dipandang.
Maka yang harus dilakukan adalah membersihkannya. Mengenyahkan debu yang menempel di permukaannya. Begitu pula hati kita. Prasangka akan membuatnya buram, tak tembus cahaya. Bisa dibayangkan jika ia kotor, buram yang berdebu, sebanyak apapun cahaya kebaikan yang Allah beri, akan terpantul lagi. Jika tak ada cahaya kebaikan dalam hati kita, maka untuk melakukan aktivitas kebaikan pun bukan main susahnya.
Allah pun telah berfirman, untuk kita menjauhi prasangka. Karena kebanyakan dari prasangka itu adalah dosa (Al-Hujurat: 12). Yuk, kita sama-sama benahi, menata, dan membersihkan hati kita dari prasangka. Agar cahaya hidayah dan kebaikan dari Allah berpendar dalam hati kita. Jaga ia dengan amalan kebaikan yang kita rangkai dalam detak kehidupan kita. Iringi dengan keikhlasan untuk mendapat Ridha dari-Nya.
Wallahu’alam bisshowab.
Bandung,13 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)