Bismillah..
Suatu hari seorang istri meminta pada suaminya tercinta untuk memetik sebuah bunga untuknya. Ya, sebuah bunga mawar yang indah sebagai bukti cinta. Namun letaknya di tebing jurang. Dan sebagai resikonya bisa jadi sang suami meninggal saat ia mengambil bunga itu.
Sang suami dengan santainya menjawab, “Tidak, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu.”. Kontan istrinya marah dan berkata, “Jika kau tak mau berkorban dengan mengambil mawar itu untukku, maka ceraikan aku sekarang juga”. Sang istri yang kesal segera meninggalkan suaminya yang mematung.
Sang suami akhirnya mengemasi barang-barangnya untuk segera pergi. Namun sebelumnya, ia meninggalkan sepucuk surat untuk istrinya. Dan sang istri yang menggetahui hal itu segera membaca surat dari suaminya. Masih dalam keadaan marah ia.
Untuk Istriku tercinta..
Sayang, mungkin engkau marah karena aku tak mau mengambilkan bunga mawar itu untukmu. Kau malah langsung pergi tanpa mendengarkan alasanku dulu.
Cintaku, ada tiga alasan mengapa aku tak mau mengambilkan mawar itu. Pertama, jika nanti aku mengambilkan mawar itu dan dan aku mati maka siapa yang akan bekerja mencari uang untuk anak-anak sekolah? Siapa yang akan membiayai kehidupan sehari-hari kau dan anak-anak kita nanti?Aku tak mau melihatmu bekerja membanting tulang seperti itu. Belum lagi kau harus mengurus anak-anak. Aku tak mau.
Alasan yang kedua, jika aku mati setelah mengambil mawar itu untukmu. Tak akan ada lagi yang akan memijati kakimu jika kau capai setelah bekerja di rumah seharian. Tak akan ada lagi yang mendengar keluhmu karena tekanan yang berat tiap harinya. Dan tak ada lagi yang akan mengecupmu, membelaimu, dan menghapus air matamu saat kau dilanda kesedihan.
Dan alasan yang terakhir, aku tak mau melihat kau menangis saat aku mati. Aku tak ingin airmata dari matamu yang indah itu menetes. Aku tak mau melihatmu bersedih karna kematianku sayang…sungguh aku mencintaimu dan ingin selalu membuatmu bahagia.
Sayangku, setelah kau mendengar alasanku itu, masih maukah kau kupetikkan mawar itu untukmu? Jika ya, maka aku bersedia kalau kau siap kehilaganku. Jika tidak maka aku menunggumu di depan untuk kau bukakan pintu untukku.
Airmata sang istri membuncah. Begitu bodohnya dia hanya untuk setangkai mawar rela melepas suaminya tercinta. Dengan tergesa ia menuju pintu depan. Dan mendapati suaminya yang telah menunggu.
“Mengapa kau lama sekali membuka pintu?” kata sang suami.
Istrinya terdiam dan masih menangis. Kemudian ia memeluk erat kekasih tercintanya itu.
Sahabat, begitu indahnya cinta. Hingga akhirnya ia memiliki definisi tersendiri. Dari cerita diatas, definisi cinta bagi sang wanita adalah setangkai bunga, kecupan atau pelukan mesra, atau candle light dinner yang romantis mungkin. Namun bagi sang pria, cinta adalah pengorbanan, kerja keras, dan uang untuk membiayai keluarga.
Sahabat, lihatlah kamus bahas Indonesia jika berkesempatan. Dan kan kau dapati kata cinta adalah sebuah kata kerja. Bukan kata sifat yang sering diungkapkan apalagi kata benda yang bisa dipindah-tangankan.
Sahabat dapat ditarik kesimpulan, bahwa cinta adalah perbuatan. Perbuatan apapun tentunya yang sesuai dengan kebaikan. Jika cinta adalah memberi maka memberi yang mana dulu yang bisa disebut baik dan benar. Cinta adalah memberi tanpa pamrih. Seperti seorang pahlawan yang rela tak dibayar demi sebuah kemerdekaan. Tapi jika memberi kesucian (sebelum pernikahan) apakah itu sebuah kebaikan?
Cinta adalah perbuatan. Jika cinta adalah menjaga. Menjaga sang belahan hati agar tak terkotori hatinya atas tingkah kita. Menjaga sang belahan jiwa agar tetap terjaga fitrahnya. Menjaga sang kekasih agar selalu dekat dengan Penciptanya. Itulah cinta.
Cinta adalah perbuatan. Jika cinta adalah membiarkannya bertumbuh. Bertumbuh dalam lingkungan yang baik dan terjaga. Bertumbuh dalam area yang mengembangkan sesuai dengan potensi dan minatnya. Pun tugas kita adalah memupuknya dengan doa, menyiraminya dengan semangat dan ketulusan jiwa. Jika kita mengekangnya, maka rusaklah ia. Dan tak akan ada cinta yang tumbuh tulus didalamnya.
Wallahu’alam
Bandung, 27 Maret 2010
dalam rinai hujan pelangi tiba, senja beranjak ke peraduannya. di bawah pelangi kata, kutemukan kau di sana..
Jumat, 26 Agustus 2011
Doa Indah
Bismillah..
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Lelaki di hadapanku, wajahnya yang teduh saat memaparkan materi tentang masa depan ini. Tatapannya, kesederhanaannya, semua aku suka. Walau tak setampan kecengan-kecenganku dulu, namun keshalehanya, kecerdasannya, visinya akan menuntunku ke surga-Mu. Kan kucintai kekurangan kelebihannya pun.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia dan akhiratku. Tentu seizin-Mu. Lelaki yang menjadi guruku. Aku masih ingat caranya mengajar, yang riang dan penuh semangat. Tak jarang guyonannya membuat kawan sekelas terbahak. Terkadang membuat kami manyun karena tak bisa menjawab soal yang ia berikan. Pun ku ingat saat ia jadi penguji ujian praktikku waktu itu. Saat itulah aku jatuh hati padanya. Terkesan galak, tapi lebih tepatnya ia tegas menurutku.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizing-Mu. Telah hampir satu tahun ia meninggalkan kampus dan mengejar impiannya sekolah di negri sebrang. Kini ia kembali. Untuk melanjutkan baktinya pada kampus ini. Masih kuingat perpisahan dengannya satu tahun lalu. Air mataku membuncah disitu. Pun ia. Entahlah mengapa seperti itu. Aku sangat mengharapkannya. Disini. Disisiku.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Ibuku pasti akan bahagia sekali memiliki menantu yang sholeh, bertanggung jawab, dan mapan sepertinya. Pastilah ibuku tak keberatan melepasku, karena telah lama hatiku terpaut padanya. Ibuku telah lama tahu perasaanku padanya. Tentulah beliau kan bahagia jika aku bahagia.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Pun ayahku, kan setuju saatku berada pada orang yang tepat. Yang kan mejagaku sepenuhnya. Penujuk jalan tuk bersama surga-Mu kelak. Fondasi agama yang matang kan jadi tumpuan menjalani mahligai. Ayahku pasti akan mudah bergaul dengannya. Beliau tak akan kesepian saat mancing karena akan ada partner baru dalam keluarga kita.
Ya Allah, ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Tanpa terasa dari tadi aku memadangnya. Terpaku. Malu hatiku saat seorang kawan menyikut tanganku. Ku tersadar dalam lamunan. Seketika kuingat ilmu ghadhul bashor yang diajarkan teteh mentorku. Hah, nyatanya tak boleh berangan-angan. Seharusnya pada-Mu semata lah kegantungkan semua impian. Ya Rabb, Maafkan…
Ya Allah. Ini Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Tiba-tiba sang moderator bertanya pada lelaki indahku itu. Kapan mau menggenapkan setengah dien? Dengan santai lelaki indahku menjawab, “InsyaAllah, secepatnya. Masalah dengan siapanya, biarlah Allah yang menjawab.”. Tegas dan jelas.
Hatiku berdesir. Lirih. Ya Allah, jika ia baik untukku pun aku baik untuknya, maka Dekatkan. Namun jikalau ia buruk untukku pun aku buruk untukknya, Jauhkanlah. Dan berilah kami yang terbaik. Nun, jauh di langit sana, malaikat mengamini doa indah itu. Amin.
Teruntuk : irandnushadni “Bidadari Sanguinis” ^^.
Kuatkan sinyalnya, dan Semoga Allah memberkahi…
Bandung, 18 Maret 2010
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Lelaki di hadapanku, wajahnya yang teduh saat memaparkan materi tentang masa depan ini. Tatapannya, kesederhanaannya, semua aku suka. Walau tak setampan kecengan-kecenganku dulu, namun keshalehanya, kecerdasannya, visinya akan menuntunku ke surga-Mu. Kan kucintai kekurangan kelebihannya pun.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia dan akhiratku. Tentu seizin-Mu. Lelaki yang menjadi guruku. Aku masih ingat caranya mengajar, yang riang dan penuh semangat. Tak jarang guyonannya membuat kawan sekelas terbahak. Terkadang membuat kami manyun karena tak bisa menjawab soal yang ia berikan. Pun ku ingat saat ia jadi penguji ujian praktikku waktu itu. Saat itulah aku jatuh hati padanya. Terkesan galak, tapi lebih tepatnya ia tegas menurutku.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizing-Mu. Telah hampir satu tahun ia meninggalkan kampus dan mengejar impiannya sekolah di negri sebrang. Kini ia kembali. Untuk melanjutkan baktinya pada kampus ini. Masih kuingat perpisahan dengannya satu tahun lalu. Air mataku membuncah disitu. Pun ia. Entahlah mengapa seperti itu. Aku sangat mengharapkannya. Disini. Disisiku.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Ibuku pasti akan bahagia sekali memiliki menantu yang sholeh, bertanggung jawab, dan mapan sepertinya. Pastilah ibuku tak keberatan melepasku, karena telah lama hatiku terpaut padanya. Ibuku telah lama tahu perasaanku padanya. Tentulah beliau kan bahagia jika aku bahagia.
Ya Allah. Ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Pun ayahku, kan setuju saatku berada pada orang yang tepat. Yang kan mejagaku sepenuhnya. Penujuk jalan tuk bersama surga-Mu kelak. Fondasi agama yang matang kan jadi tumpuan menjalani mahligai. Ayahku pasti akan mudah bergaul dengannya. Beliau tak akan kesepian saat mancing karena akan ada partner baru dalam keluarga kita.
Ya Allah, ini. Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Tanpa terasa dari tadi aku memadangnya. Terpaku. Malu hatiku saat seorang kawan menyikut tanganku. Ku tersadar dalam lamunan. Seketika kuingat ilmu ghadhul bashor yang diajarkan teteh mentorku. Hah, nyatanya tak boleh berangan-angan. Seharusnya pada-Mu semata lah kegantungkan semua impian. Ya Rabb, Maafkan…
Ya Allah. Ini Lelaki ini yang kutunggu. Yang kudamba dalam setiap doa dan sujudku. Yang kelak menjadi imam dunia akhiratku. Tentu seizin-Mu. Tiba-tiba sang moderator bertanya pada lelaki indahku itu. Kapan mau menggenapkan setengah dien? Dengan santai lelaki indahku menjawab, “InsyaAllah, secepatnya. Masalah dengan siapanya, biarlah Allah yang menjawab.”. Tegas dan jelas.
Hatiku berdesir. Lirih. Ya Allah, jika ia baik untukku pun aku baik untuknya, maka Dekatkan. Namun jikalau ia buruk untukku pun aku buruk untukknya, Jauhkanlah. Dan berilah kami yang terbaik. Nun, jauh di langit sana, malaikat mengamini doa indah itu. Amin.
Teruntuk : irandnushadni “Bidadari Sanguinis” ^^.
Kuatkan sinyalnya, dan Semoga Allah memberkahi…
Bandung, 18 Maret 2010
Ngga Perlu Iri !!
Bismillah..
Sahabat saya hanya ingin berbagi cerita seorang teman karib saya. Beliau seorang gadis yang energik, periang, punya semangat untuk belajar yang tinggi tapi agak sedikit slebor (hehe..piss ^^v). Ia aktif di beberapa kegiatan kemahasiswaan dan di luar dia ikut beberapa organisasi dan training-training motivasi. Namun suatu hari ia mengeluhkan sesuatu hal pada saya. Entahlah mungkin saat itu semangatnya sedang drop. Padahal biasanya saya yang malah banyak diingatkan olehnya.
Dia berkata “Kenapa hidup gue gini-gini aja ya de? Terkadang gue sering iri sama teman gue si x yang lebih cantik, pintar, dan berasal dari keluarga yang berada. Atau si y yang lebih jago ngomong, banyak temannya, dan sebagainya. Bla..bla..bla.”. Kemudian saya tanya dia tau darimana si x atau y itu begini dan begitu? Dia hanya menjawab “Kayaknya sih gitu..” jawabnya santai.
Dari keluhanya saat itu saya cuma bilang “Terkadang apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya. Mereka juga pasti punya masalah kok, lu ngga perlu iri.”(ikutan slebor mode on ).
Kemudian karena aktivitas kami masing-masing beberapa minggu tak bertemu. Sampai akhirnya dia mengirim mesej, “De, kapan kita bisa ketemu? Gue udah tau jawabannya sekarang.” Ucapnya dengan semangat. Oke saat itu akhirnya kami bertemu.
Dia menuturkan jawaban dari pertanyaan yang ia keluhkan waktu itu. Begini ceritanya:
“Gini de, waktu itu gue naik bis ke Bandung. Di suatu jalan ada beberapa cewek anak Sma yang naik bis yang gue naiki. Kemudian salah satunya duduk di samping kursi gue. Anak itu kecil kayak anak SD, pakai jilbab putih walau masih kelihatan poni-nya.
“Trus gue tanya, sekolah dimana, kelas berapa, dll. Sampai akhirnya gue nanya nanti mau masuk mana-universitas. Gue cerita ngasih rekomendasi maksudnya. Tapi yang diajak ngobrol malah diem aja. Terus gue tanya “kalo orang tua nyuruhnya masuk mana?”. Lha, dia tambah diem terus nunduk.
“Pelan anak itu bilang “Emm..saya ga tau mau masuk mana teh. Saya sekarang tinggal di panti bersama 34 temen saya. Walau ada teman yang kuliah di unpad tapi saya belum tahu ingin masuk yang mana. Saya juga ga tau bakal meneruskan atau tidak”. Spontan gue langsung kaget de. Haduh! Gue ngerasa nyesel banget nanya gitu. Langsung aja gue minta maaf sama anak itu. Dan kita lanjutin ngobrol seputar anak-anak di panti itu.”
“Beneran de, gue dah tau jawabanya. Gue ga akan ngerasa puas kalo liat ke atas mulu. Padahal ada yang lebih kekurangan dari gue. Gue sering ngeliat temen-temen gue banyak yang demen, tajir, pinter, dan lain-lain. Gue ngiri akan hal itu. Tapi setelah gue mikir lagi, ngapain juga harus ngiri. Bener kata lu, toh mereka pasti punya masalah juga.
“Karena hidup ga selamanya mulus. Pasti mereka lewatin jalan berbatu juga. Sekarang gue tau kalo gue ngerasa iri sama seseorang, gue inget lagi anak panti itu. Mereka ga punya keluarga untuk bernaung, boro-boro untuk bermimpi masuk universitas, untuk bekel sehari-hari aja susah katanya.”
Akhirnya saya banyak belajar dari sahabat saya itu. Belajar untuk bersyukur akan apa yang dimiliki. Belajar untuk melihat ke bawah jika suatu saat kita iri akan keberhasilan orang lain. Walau sesekali kita perlu melihat ke atas hanya untuk memicu diri agar menjadi lebih baik lagi. Bukankah semua burung awalnya tidak bisa terbang? Tapi Allah menitipkan potensi untuk ia bisa terbang. Pun kita manusia, perlu kita yakini bahwa setiap kita dititipi potensi, lalu mengapa mesti iri?
Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Bandung, 13 Maret 2010
Sahabat saya hanya ingin berbagi cerita seorang teman karib saya. Beliau seorang gadis yang energik, periang, punya semangat untuk belajar yang tinggi tapi agak sedikit slebor (hehe..piss ^^v). Ia aktif di beberapa kegiatan kemahasiswaan dan di luar dia ikut beberapa organisasi dan training-training motivasi. Namun suatu hari ia mengeluhkan sesuatu hal pada saya. Entahlah mungkin saat itu semangatnya sedang drop. Padahal biasanya saya yang malah banyak diingatkan olehnya.
Dia berkata “Kenapa hidup gue gini-gini aja ya de? Terkadang gue sering iri sama teman gue si x yang lebih cantik, pintar, dan berasal dari keluarga yang berada. Atau si y yang lebih jago ngomong, banyak temannya, dan sebagainya. Bla..bla..bla.”. Kemudian saya tanya dia tau darimana si x atau y itu begini dan begitu? Dia hanya menjawab “Kayaknya sih gitu..” jawabnya santai.
Dari keluhanya saat itu saya cuma bilang “Terkadang apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya. Mereka juga pasti punya masalah kok, lu ngga perlu iri.”(ikutan slebor mode on ).
Kemudian karena aktivitas kami masing-masing beberapa minggu tak bertemu. Sampai akhirnya dia mengirim mesej, “De, kapan kita bisa ketemu? Gue udah tau jawabannya sekarang.” Ucapnya dengan semangat. Oke saat itu akhirnya kami bertemu.
Dia menuturkan jawaban dari pertanyaan yang ia keluhkan waktu itu. Begini ceritanya:
“Gini de, waktu itu gue naik bis ke Bandung. Di suatu jalan ada beberapa cewek anak Sma yang naik bis yang gue naiki. Kemudian salah satunya duduk di samping kursi gue. Anak itu kecil kayak anak SD, pakai jilbab putih walau masih kelihatan poni-nya.
“Trus gue tanya, sekolah dimana, kelas berapa, dll. Sampai akhirnya gue nanya nanti mau masuk mana-universitas. Gue cerita ngasih rekomendasi maksudnya. Tapi yang diajak ngobrol malah diem aja. Terus gue tanya “kalo orang tua nyuruhnya masuk mana?”. Lha, dia tambah diem terus nunduk.
“Pelan anak itu bilang “Emm..saya ga tau mau masuk mana teh. Saya sekarang tinggal di panti bersama 34 temen saya. Walau ada teman yang kuliah di unpad tapi saya belum tahu ingin masuk yang mana. Saya juga ga tau bakal meneruskan atau tidak”. Spontan gue langsung kaget de. Haduh! Gue ngerasa nyesel banget nanya gitu. Langsung aja gue minta maaf sama anak itu. Dan kita lanjutin ngobrol seputar anak-anak di panti itu.”
“Beneran de, gue dah tau jawabanya. Gue ga akan ngerasa puas kalo liat ke atas mulu. Padahal ada yang lebih kekurangan dari gue. Gue sering ngeliat temen-temen gue banyak yang demen, tajir, pinter, dan lain-lain. Gue ngiri akan hal itu. Tapi setelah gue mikir lagi, ngapain juga harus ngiri. Bener kata lu, toh mereka pasti punya masalah juga.
“Karena hidup ga selamanya mulus. Pasti mereka lewatin jalan berbatu juga. Sekarang gue tau kalo gue ngerasa iri sama seseorang, gue inget lagi anak panti itu. Mereka ga punya keluarga untuk bernaung, boro-boro untuk bermimpi masuk universitas, untuk bekel sehari-hari aja susah katanya.”
Akhirnya saya banyak belajar dari sahabat saya itu. Belajar untuk bersyukur akan apa yang dimiliki. Belajar untuk melihat ke bawah jika suatu saat kita iri akan keberhasilan orang lain. Walau sesekali kita perlu melihat ke atas hanya untuk memicu diri agar menjadi lebih baik lagi. Bukankah semua burung awalnya tidak bisa terbang? Tapi Allah menitipkan potensi untuk ia bisa terbang. Pun kita manusia, perlu kita yakini bahwa setiap kita dititipi potensi, lalu mengapa mesti iri?
Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Bandung, 13 Maret 2010
Cerpen : Memori Pagi
Bismillah..
Ia menaiki bis itu perlahan. Jilbab merah mudanya melambai. Dicarinya tempat duduk yang memadai. Ya, barisan paling depan tepat di pojok kiri. Ia sandarkan punggungnya. Perlahan membenarkan rok katun hitamnya yang terlipat. Angin pagi menyelusup dari balik jendela menyentuh pipinya yang kemerahan. Membuka tas cangklong coklat tua di pangkuannya. Lalu mengeluarkan buku mungil bertuliskan al-ma’tsurat. Semenit kemudian mulutnya bergumam-gumam. Kerjapan matanya tak lepas dari buku bersampul merah itu.
“Permisi neng, kosong?”
“Iya pak, mangga.”
Seorang pria tambun dengan kemeja kuning izin untuk duduk di sebelahnya. Dengan senyum simpul sang gadis mengabulkan. Bus mulai melaju. Lagi-lagi angin yang menyerah dihantam deru bus menyibak pipi sang gadis pelan.
Pemandangan itu terburai diselang suara kondektur yang menagih ongkos. Sengaja ia goncangkan uang recehan di genggaman. Terpaksa kualihkan pandanganku pada dompetku yang nampak cekak isinya. Sesekali kuberpaling pada sang gadis. Sama, ia pun tengah merogoh koceknya mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dan dua koin logam. Diberikanya pada kondektur plus senyum simpul sebagai bonus. Sang kondektur tersipu sejurus kemudian ia menuju arahku. Segera kuberikan uang ongkos tak lupa senyum simpul tak kalah manis dengan sang gadis berikan. Bukannya membalas sedekahku, ia malah melengos begitu saja.
Kukembali melihat paras sang gadis. Dipejamkanya kedua matanya. Mulutnya masih bergumam-gumam. Tampak seperti menghafal. Mungkin ya, karena sebuah Al-Quran mungil tak lepas dari genggaman. Tak mau kalah aku pun membuka bukuku. Wah, buku yang telah seminggu kubaca namun belum khatam juga. Judulnya ‘Untukmu Kader Da’wah’ karya almarhum Ustadz Rahmat Abdullah. Buku dahsyat sang memicu semangat jihadku.
Aku terkenal alim di kampus. Sering kuikuti kajian islam di sana-sini, serasa tertampar dengan paparan dalam buku ini. Bahwa da’wah, sholat, puasa, atau amal apapun namanya harus menyertakan kesempurnaan niat dan kemurnian hati. Ya, semua amal yang dilakukan hendaknya hanya bermuara pada Yang Maha Kuasa, Allah Swt. Hanya untuk-Nyalah amal, hidup, mati, jiwa serta raga kita. Sebab bila bukan karena-Nya semua kan tersia. Seperti asap yang membumbung di udara. Nampaknya begitu agung namun dalam sekejap hilang diterpa udara.
Untuk menjadi ikhlas rasanya tak mudah. Karena memurnikan niat hanya untuk Allah Azza Wa Jalla banyak godaannya. Seringkali ku terjebak pada amal yang melenceng dari niat. Seperti halnya saat ku sholat agar dibilang anak sholeh. Atau aku rajin hanya untuk mendapat perhatian dari orang tua. Pun saat ku jatuh hati pada sang gadis dihadapanku, ikhlas seakan bukan hal yang mudah dibuat.
Anganku, nafsuku, terkadang lebih menuntunku dari pada hati nuraniku sendiri. Memang rasa suka adalah hal yang fitrah. Rasa ingin menjadikan sang gadis pendamping hidup tak mudah dienyahkan. Angan ingin mempersuntingnya menjadi bidadari dunia akhiratku pun bukan perkara gampang untuk dilenyapkan. Hah, mungkin ini gara-gara ku tak menjaga pandangan. Hingga dengan mudah panah-panah setan menghujam hati dan melambaikan bendera kemenangan. Terbayang ia menyeringai dengan senang.
Hah, lagi-lagi ku hanya menyerah pada nafsu. Matanya, pipinya, bibirnya semuanya indah. Rahman, ada apa dengan aku ini?? Puasa telah kulakukan untuk menahan nafsuku. Namun apalah artinya itu jika godaan datang mendera-dera seperti ini. Aku berada diantara persimpangan di kiriku wajah sang gadis dengan pesonanya berteman setan-setan yang menyeringai senang. Di kananku jurang menghujam namun dibawahnya terdapat surga yang menawan. Ampuni aku Tuhan!!
***
Dengan tergesa ku percepat langkahku. Nafasku masih tersengal. Sesekali kupalingkan wajah kebelakang berharap sang gadis telah menghilang dari pandangan. Ya, mulai sekarang aku ingin melupakannya. Melupakan ingatan tentang mata, pipi, wajah dan semua pesonanya. Aku mau tobat. Mau menyempurnakan niat. Semua ingin kulakukan karna Allah.
Perlahan tersirat awal perkenalannya di situs pertemanan itu. Pura-pura kubertanya tentang kelas sastra yang diketuainya. Bagaimana jika ku bergabung, kapan, dimana, hingga ku berjanji untuk menghadirinya. Ya ini salahku. Meniatkannya hanya untuk lebih mengenalnya. Dan meminta ia untuk membalas perasaanku akhirnya. Tidak, tidak, lupakan, lupakan!! Ayo Eza kamu bisa melupakannya!
“Kang Eza, Kang Eza !!!”
Suara seorang perempuan memanggilku. Ku biarkan dan berusaha mempercepat langkah.
“Kang Eza tunggu!!” suaranya mengeras.
Dengan terpaksa ku balikkan badan melihat siapa yang memanggilku. Oh ternyata Hani adik kelasku. Tapi bersama siapa ia? Mataku hanya bisa melihatnya samar dari kejauhan. Perlahan mulai mendekat. Hani berjalan berbarengan dengan seorang gadis. Tas cangklong coklat, kelebat jilbab merah muda. Pipinya. Bibirnya, mulai terang.
“Kang Eza, ini Teh Dea ketua kelas sastra tea yang waktu itu ditanyain. Katanya mau kenalan, bla..bla..bla..” Hani nyerocos tiba-tiba. Sang Gadis melipat tangannya di depan dada, salam. Tatapannya lembut nian.
Ya Rahman, Kuatkan!!
Bandung,020110
Ia menaiki bis itu perlahan. Jilbab merah mudanya melambai. Dicarinya tempat duduk yang memadai. Ya, barisan paling depan tepat di pojok kiri. Ia sandarkan punggungnya. Perlahan membenarkan rok katun hitamnya yang terlipat. Angin pagi menyelusup dari balik jendela menyentuh pipinya yang kemerahan. Membuka tas cangklong coklat tua di pangkuannya. Lalu mengeluarkan buku mungil bertuliskan al-ma’tsurat. Semenit kemudian mulutnya bergumam-gumam. Kerjapan matanya tak lepas dari buku bersampul merah itu.
“Permisi neng, kosong?”
“Iya pak, mangga.”
Seorang pria tambun dengan kemeja kuning izin untuk duduk di sebelahnya. Dengan senyum simpul sang gadis mengabulkan. Bus mulai melaju. Lagi-lagi angin yang menyerah dihantam deru bus menyibak pipi sang gadis pelan.
Pemandangan itu terburai diselang suara kondektur yang menagih ongkos. Sengaja ia goncangkan uang recehan di genggaman. Terpaksa kualihkan pandanganku pada dompetku yang nampak cekak isinya. Sesekali kuberpaling pada sang gadis. Sama, ia pun tengah merogoh koceknya mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dan dua koin logam. Diberikanya pada kondektur plus senyum simpul sebagai bonus. Sang kondektur tersipu sejurus kemudian ia menuju arahku. Segera kuberikan uang ongkos tak lupa senyum simpul tak kalah manis dengan sang gadis berikan. Bukannya membalas sedekahku, ia malah melengos begitu saja.
Kukembali melihat paras sang gadis. Dipejamkanya kedua matanya. Mulutnya masih bergumam-gumam. Tampak seperti menghafal. Mungkin ya, karena sebuah Al-Quran mungil tak lepas dari genggaman. Tak mau kalah aku pun membuka bukuku. Wah, buku yang telah seminggu kubaca namun belum khatam juga. Judulnya ‘Untukmu Kader Da’wah’ karya almarhum Ustadz Rahmat Abdullah. Buku dahsyat sang memicu semangat jihadku.
Aku terkenal alim di kampus. Sering kuikuti kajian islam di sana-sini, serasa tertampar dengan paparan dalam buku ini. Bahwa da’wah, sholat, puasa, atau amal apapun namanya harus menyertakan kesempurnaan niat dan kemurnian hati. Ya, semua amal yang dilakukan hendaknya hanya bermuara pada Yang Maha Kuasa, Allah Swt. Hanya untuk-Nyalah amal, hidup, mati, jiwa serta raga kita. Sebab bila bukan karena-Nya semua kan tersia. Seperti asap yang membumbung di udara. Nampaknya begitu agung namun dalam sekejap hilang diterpa udara.
Untuk menjadi ikhlas rasanya tak mudah. Karena memurnikan niat hanya untuk Allah Azza Wa Jalla banyak godaannya. Seringkali ku terjebak pada amal yang melenceng dari niat. Seperti halnya saat ku sholat agar dibilang anak sholeh. Atau aku rajin hanya untuk mendapat perhatian dari orang tua. Pun saat ku jatuh hati pada sang gadis dihadapanku, ikhlas seakan bukan hal yang mudah dibuat.
Anganku, nafsuku, terkadang lebih menuntunku dari pada hati nuraniku sendiri. Memang rasa suka adalah hal yang fitrah. Rasa ingin menjadikan sang gadis pendamping hidup tak mudah dienyahkan. Angan ingin mempersuntingnya menjadi bidadari dunia akhiratku pun bukan perkara gampang untuk dilenyapkan. Hah, mungkin ini gara-gara ku tak menjaga pandangan. Hingga dengan mudah panah-panah setan menghujam hati dan melambaikan bendera kemenangan. Terbayang ia menyeringai dengan senang.
Hah, lagi-lagi ku hanya menyerah pada nafsu. Matanya, pipinya, bibirnya semuanya indah. Rahman, ada apa dengan aku ini?? Puasa telah kulakukan untuk menahan nafsuku. Namun apalah artinya itu jika godaan datang mendera-dera seperti ini. Aku berada diantara persimpangan di kiriku wajah sang gadis dengan pesonanya berteman setan-setan yang menyeringai senang. Di kananku jurang menghujam namun dibawahnya terdapat surga yang menawan. Ampuni aku Tuhan!!
***
Dengan tergesa ku percepat langkahku. Nafasku masih tersengal. Sesekali kupalingkan wajah kebelakang berharap sang gadis telah menghilang dari pandangan. Ya, mulai sekarang aku ingin melupakannya. Melupakan ingatan tentang mata, pipi, wajah dan semua pesonanya. Aku mau tobat. Mau menyempurnakan niat. Semua ingin kulakukan karna Allah.
Perlahan tersirat awal perkenalannya di situs pertemanan itu. Pura-pura kubertanya tentang kelas sastra yang diketuainya. Bagaimana jika ku bergabung, kapan, dimana, hingga ku berjanji untuk menghadirinya. Ya ini salahku. Meniatkannya hanya untuk lebih mengenalnya. Dan meminta ia untuk membalas perasaanku akhirnya. Tidak, tidak, lupakan, lupakan!! Ayo Eza kamu bisa melupakannya!
“Kang Eza, Kang Eza !!!”
Suara seorang perempuan memanggilku. Ku biarkan dan berusaha mempercepat langkah.
“Kang Eza tunggu!!” suaranya mengeras.
Dengan terpaksa ku balikkan badan melihat siapa yang memanggilku. Oh ternyata Hani adik kelasku. Tapi bersama siapa ia? Mataku hanya bisa melihatnya samar dari kejauhan. Perlahan mulai mendekat. Hani berjalan berbarengan dengan seorang gadis. Tas cangklong coklat, kelebat jilbab merah muda. Pipinya. Bibirnya, mulai terang.
“Kang Eza, ini Teh Dea ketua kelas sastra tea yang waktu itu ditanyain. Katanya mau kenalan, bla..bla..bla..” Hani nyerocos tiba-tiba. Sang Gadis melipat tangannya di depan dada, salam. Tatapannya lembut nian.
Ya Rahman, Kuatkan!!
Bandung,020110
Kisah Seorang Bocah dan Mobil Merahnya
Bismillah..
Suatu hari seorang anak membawa mainan mobil merahnya. Sebut saja namanya Yusuf. Rencananya Yusuf akan mengikuti lomba mobil-mobilan. Sesampainya di tempat perlombaan, ternyata sudah banyak anak-anak sebayanya yang berkumpul. Masing-masing tengah mempersiapkan mobil jagoannya agar menjuarai lomba ini. Ada yang sedang mengganti ban, ada yang tengah memasang baut dan lain-lain. Sedang panitia lomba tengah sibuk membenahi track tempat lomba mobil itu akan dilakukan.
Tak kalah dengan peserta lain, Yusuf pun menyiapkan mobil jagoannya se-prima mungkin. Hingga tibalah saat lomba dimulai. Seorang pria dewasa yang merupakan panitia lomba segera memberi aba-aba agar para peserta siap-siap. Namun, Yusuf meminta izin untuk berdoa terlebih dahulu. Ia mengangkat tangannya, menutup mata dan mulutnya bergumam-gumam.
Sejurus kemudian selepas berdoa, perlombaan pun dimulai. Adu gesit dan adu cepat mobil pun tak terelakkan. Mobil merah Yusuf salip-menyalip dengan mobil lawannya. Ada yang mulus melaju dan ada juga yang terpental. Mobil merah Yusuf memimpin di depan. Dan akhirnya mobil merahnya-lah pemenangnya. Girang sekali hati Yusuf .
Kemudian sang lelaki dewasa menghampirinya dan bertanya pada Yusuf, “Nak, bukankah sebelum lomba tadi kamu berdoa, pantaslah jika kamu pemenangnya.”. Kemudian Yusuf menjawab., “Betul pak tadi saya berdoa. Dalam doa saya tadi, saya meminta kekuatan dari Tuhan agar saya tidak menangis jika saya tidak menang dalam perlombaan ini.”
Sahabat adakah sahabat mengambil hikmah dari kisah di atas?
Seringkali kita meminta terlalu banyak bahkan mendikte Allah Swt. Allah, saya ingin ini dan itu tanpa mengetahui baik tidaknya hal itu untuk kita. Padahal tanpa diminta pun Allah selalu akan memberi apa pun yang kita butuhkan. Percayakah hal itu sahabat?
Contohnya, tanpa kita minta jantung ini berdetak, ia akan berdetak walau kita tak menghendakinya.Tanpa harus meminta, air, udara, waktu, kesehatan kita nikmati dengan cuma-cuma. Apa lagi dengan suatu permohonan yang kita harap dan dambakan. Tentu Dia akan Mendengarnya. Masalah dikabulkan atau tidakknya itu adalah Kekuasaan-Nya semata. Cukuplah kita percaya akan kebaikan yang diberikan-Nya pada kita.
Namun perlu pula siapkan mental kita dengan takdir-Nya yang tak sesuai keinginan kita. Bukankah Allah menurut prasangka hambanya? Maka berprasangka baiklah akan segala Ketetapan-Nya. Percaya saja, apa yang Allah Berikan adalah sumber kebaikan untuk kita. Jika belum kita rasakan dampaknya tunggu sampai Allah Nampakkan kebaikan di dalamnya. Atau terkadang malah hati kita yang terlalu pekat hingga sulit untuk menangkap sinyal kebaikan-Nya. Maka marilah kita sama-sama membenahi hati kita.
Seperti bocah lelaki bernama Yusuf tadi yang sudah mengantisipasi permohonannya jika tak menang maka jangan buat menangis. Pun saat doa kita tidak atau dikabulkan maka mintalah pada Allah pengganti yang lebih baik dari yang kita harapkan.
Terimakasih. Semoga bermanfaat.
Bandung, 11 Maret 2010
Suatu hari seorang anak membawa mainan mobil merahnya. Sebut saja namanya Yusuf. Rencananya Yusuf akan mengikuti lomba mobil-mobilan. Sesampainya di tempat perlombaan, ternyata sudah banyak anak-anak sebayanya yang berkumpul. Masing-masing tengah mempersiapkan mobil jagoannya agar menjuarai lomba ini. Ada yang sedang mengganti ban, ada yang tengah memasang baut dan lain-lain. Sedang panitia lomba tengah sibuk membenahi track tempat lomba mobil itu akan dilakukan.
Tak kalah dengan peserta lain, Yusuf pun menyiapkan mobil jagoannya se-prima mungkin. Hingga tibalah saat lomba dimulai. Seorang pria dewasa yang merupakan panitia lomba segera memberi aba-aba agar para peserta siap-siap. Namun, Yusuf meminta izin untuk berdoa terlebih dahulu. Ia mengangkat tangannya, menutup mata dan mulutnya bergumam-gumam.
Sejurus kemudian selepas berdoa, perlombaan pun dimulai. Adu gesit dan adu cepat mobil pun tak terelakkan. Mobil merah Yusuf salip-menyalip dengan mobil lawannya. Ada yang mulus melaju dan ada juga yang terpental. Mobil merah Yusuf memimpin di depan. Dan akhirnya mobil merahnya-lah pemenangnya. Girang sekali hati Yusuf .
Kemudian sang lelaki dewasa menghampirinya dan bertanya pada Yusuf, “Nak, bukankah sebelum lomba tadi kamu berdoa, pantaslah jika kamu pemenangnya.”. Kemudian Yusuf menjawab., “Betul pak tadi saya berdoa. Dalam doa saya tadi, saya meminta kekuatan dari Tuhan agar saya tidak menangis jika saya tidak menang dalam perlombaan ini.”
Sahabat adakah sahabat mengambil hikmah dari kisah di atas?
Seringkali kita meminta terlalu banyak bahkan mendikte Allah Swt. Allah, saya ingin ini dan itu tanpa mengetahui baik tidaknya hal itu untuk kita. Padahal tanpa diminta pun Allah selalu akan memberi apa pun yang kita butuhkan. Percayakah hal itu sahabat?
Contohnya, tanpa kita minta jantung ini berdetak, ia akan berdetak walau kita tak menghendakinya.Tanpa harus meminta, air, udara, waktu, kesehatan kita nikmati dengan cuma-cuma. Apa lagi dengan suatu permohonan yang kita harap dan dambakan. Tentu Dia akan Mendengarnya. Masalah dikabulkan atau tidakknya itu adalah Kekuasaan-Nya semata. Cukuplah kita percaya akan kebaikan yang diberikan-Nya pada kita.
Namun perlu pula siapkan mental kita dengan takdir-Nya yang tak sesuai keinginan kita. Bukankah Allah menurut prasangka hambanya? Maka berprasangka baiklah akan segala Ketetapan-Nya. Percaya saja, apa yang Allah Berikan adalah sumber kebaikan untuk kita. Jika belum kita rasakan dampaknya tunggu sampai Allah Nampakkan kebaikan di dalamnya. Atau terkadang malah hati kita yang terlalu pekat hingga sulit untuk menangkap sinyal kebaikan-Nya. Maka marilah kita sama-sama membenahi hati kita.
Seperti bocah lelaki bernama Yusuf tadi yang sudah mengantisipasi permohonannya jika tak menang maka jangan buat menangis. Pun saat doa kita tidak atau dikabulkan maka mintalah pada Allah pengganti yang lebih baik dari yang kita harapkan.
Terimakasih. Semoga bermanfaat.
Bandung, 11 Maret 2010
Restoran Siap Saji dan Sebuah Pengorbanan
Bismillah..
Sahabat, pernahkah makan di warung nasi atau restoran siap saji? Bagaimana rasanya? Adakah perbedaan saat kita mengisi perut lapar kita dengan makan di warung nasi dengan di restoran siapa saji? Pertama, dari tempatnya sudah bisa terlihat yang mana yang paling cozy, bersih dan enak buat hang out.
Kedua dari makanannya. Kalau yang satu ini tergantung selera dari sahabat sendiri. Ada yang lebih suka dengan makanan rumahan, karena serasa makan masakan ibu sendiri. Adapula yang memilih makanan yang cepat saji, “enak”, dan praktis. Namun dahulu saat saya masih usia remaja, makan di sebuah restoran adalah suatu yang bergengsi. Bahkan sering dengan bangganya saya menenteng kantong plastik transparan berisi burger di hadapan tetangga. (pamer mode on ).
Tapi disamping itu semua, ada hal yang tak kalah penting dan bisa kita ambil hikmahnya. Yakni tentang system pembayarannya. Saat kita makan di warung nasi, pertama yang kita lakukan adalah memesan, lalu makanan diantar, kemudian kita makan, dan setelahnya kita baru membayar. Coba bandingkan dengan yang terjadi di restoran siap saji. Kita memesan makanan, makanan datang, lalu kita bayar , sejurus kemudian baru kita bisa menikmati makanan yang telah kita bayar. Sahabat bisa bedakan nikmat yang mana? Makan sebelum kita membayarnya, atau lebih tenang setelah kita bayar di muka?
Adakah sahabat menangkap maksud saya? Ya, sebuah hikmah yang bisa kita petik, betapa lebih NIKMATnya jika kita menikmati sesuatu yang telah kita BAYAR terlebih dahulu. Ada Pengorbanan yang telah kita Lunasi untuk sesuatu yang ingin kita capai.
Sahabat, pengorbanan dan keberhasilan sudah menjadi hukum alam. Ingatkah sebuah hadist “Man Jadda Wa Jadda” yang artinya Siapa yang bersungguh-sungguh Ia pasti dapat. Maka kita bisa melihat kesungguhan seorang pria yang mencintai wanita pujaannya setelah ia “berkorban” untuk menikahinya dan memberi mahar yang sesuai. Atau pengorbanan para pahlawan yang menginginkan negaranya merdeka kemudian mereka bayar dengan darah, harta dan nyawa mereka.
Pernahkah sahabat mendengar pepatah cinta adalah pengorbanan. Maka untuk mendapatkan cinta Allah butuhlah suatu pengorbanan yakni sholat, zakat., serta amal lainnya. Pun jika sahabat memimpikan sesuatu apapun itu, jika benar sahabat mencintainya maka sahabat akan rela berkorban untuknya. Baik itu waktu, tenaga, harta atau apapun yang membuat sahabat bisa memilikinya.
Maka sahabat indahnya sebuah pengorbanan untuk sesuatu yang kita damba. Seperti saat kita naik kelas, ada satu kepuasan yang terbayar saat kita naik tangga-tangga keberhasilan secara perlahan. Dan makin nikmat jika itu hasil dari kerja keras dan pengorbanan kita.
Dan untuk memperbesar gairah pengorbanan kita, temukan alasan yang tepat untuk menyulut semangat juang kita. Dan alasan yang paling tepat untuk kita berjuang adalah Cinta. Saat kita mencintai sesuatu, energi gaib yang begitu kuat akan mendorong dan memacu semangat. Pun saat kita lemah dan kehilangan daya untuk mengejar impian kita, lihatlah kembali impian yang kita cintai itu. Maka tanpa sadar gairah itu akan muncul kembali. Mungkin ia akan semakin kuat.
Namun, apabila gairah itu meredup meski telah disulut oleh impian yang kita cintai itu, maka patut dipertanyakan. Apakah kita sungguh-sungguh mencintai Impian kita itu? Ataukah hanya sebatas keinginan saja? Untuk itu, galilah lagi alasan yang menjadi “hot button” untuk kita berjuang.
Pada akhirnya, Selamat Berjuang dan Berkorban untuk apa yang sahabat cita-citakan. Temukan alasan tepat agar gairah perjuangan itu makin kuat berkobar.
Semoga memberi hikmah..
Thanks to: Pak Bayu Maulana, Bu Dewi Nur Fiana, Bu Sarah Nasution. Terimakasih, bersama kalian adalah salah satu fase terindah dalam hidupku..:)
Bandung, 5 Maret 2010
Sahabat, pernahkah makan di warung nasi atau restoran siap saji? Bagaimana rasanya? Adakah perbedaan saat kita mengisi perut lapar kita dengan makan di warung nasi dengan di restoran siapa saji? Pertama, dari tempatnya sudah bisa terlihat yang mana yang paling cozy, bersih dan enak buat hang out.
Kedua dari makanannya. Kalau yang satu ini tergantung selera dari sahabat sendiri. Ada yang lebih suka dengan makanan rumahan, karena serasa makan masakan ibu sendiri. Adapula yang memilih makanan yang cepat saji, “enak”, dan praktis. Namun dahulu saat saya masih usia remaja, makan di sebuah restoran adalah suatu yang bergengsi. Bahkan sering dengan bangganya saya menenteng kantong plastik transparan berisi burger di hadapan tetangga. (pamer mode on ).
Tapi disamping itu semua, ada hal yang tak kalah penting dan bisa kita ambil hikmahnya. Yakni tentang system pembayarannya. Saat kita makan di warung nasi, pertama yang kita lakukan adalah memesan, lalu makanan diantar, kemudian kita makan, dan setelahnya kita baru membayar. Coba bandingkan dengan yang terjadi di restoran siap saji. Kita memesan makanan, makanan datang, lalu kita bayar , sejurus kemudian baru kita bisa menikmati makanan yang telah kita bayar. Sahabat bisa bedakan nikmat yang mana? Makan sebelum kita membayarnya, atau lebih tenang setelah kita bayar di muka?
Adakah sahabat menangkap maksud saya? Ya, sebuah hikmah yang bisa kita petik, betapa lebih NIKMATnya jika kita menikmati sesuatu yang telah kita BAYAR terlebih dahulu. Ada Pengorbanan yang telah kita Lunasi untuk sesuatu yang ingin kita capai.
Sahabat, pengorbanan dan keberhasilan sudah menjadi hukum alam. Ingatkah sebuah hadist “Man Jadda Wa Jadda” yang artinya Siapa yang bersungguh-sungguh Ia pasti dapat. Maka kita bisa melihat kesungguhan seorang pria yang mencintai wanita pujaannya setelah ia “berkorban” untuk menikahinya dan memberi mahar yang sesuai. Atau pengorbanan para pahlawan yang menginginkan negaranya merdeka kemudian mereka bayar dengan darah, harta dan nyawa mereka.
Pernahkah sahabat mendengar pepatah cinta adalah pengorbanan. Maka untuk mendapatkan cinta Allah butuhlah suatu pengorbanan yakni sholat, zakat., serta amal lainnya. Pun jika sahabat memimpikan sesuatu apapun itu, jika benar sahabat mencintainya maka sahabat akan rela berkorban untuknya. Baik itu waktu, tenaga, harta atau apapun yang membuat sahabat bisa memilikinya.
Maka sahabat indahnya sebuah pengorbanan untuk sesuatu yang kita damba. Seperti saat kita naik kelas, ada satu kepuasan yang terbayar saat kita naik tangga-tangga keberhasilan secara perlahan. Dan makin nikmat jika itu hasil dari kerja keras dan pengorbanan kita.
Dan untuk memperbesar gairah pengorbanan kita, temukan alasan yang tepat untuk menyulut semangat juang kita. Dan alasan yang paling tepat untuk kita berjuang adalah Cinta. Saat kita mencintai sesuatu, energi gaib yang begitu kuat akan mendorong dan memacu semangat. Pun saat kita lemah dan kehilangan daya untuk mengejar impian kita, lihatlah kembali impian yang kita cintai itu. Maka tanpa sadar gairah itu akan muncul kembali. Mungkin ia akan semakin kuat.
Namun, apabila gairah itu meredup meski telah disulut oleh impian yang kita cintai itu, maka patut dipertanyakan. Apakah kita sungguh-sungguh mencintai Impian kita itu? Ataukah hanya sebatas keinginan saja? Untuk itu, galilah lagi alasan yang menjadi “hot button” untuk kita berjuang.
Pada akhirnya, Selamat Berjuang dan Berkorban untuk apa yang sahabat cita-citakan. Temukan alasan tepat agar gairah perjuangan itu makin kuat berkobar.
Semoga memberi hikmah..
Thanks to: Pak Bayu Maulana, Bu Dewi Nur Fiana, Bu Sarah Nasution. Terimakasih, bersama kalian adalah salah satu fase terindah dalam hidupku..:)
Bandung, 5 Maret 2010
Cinta Seorang Gadis Buta
Bismillah..
Suatu hari kawan lama saya yang seorang dokter, mengirimkan sebuah kisah ini pada saya. Ia tak memaparkan sedikit pun bagaimana hikmahnya. Bisa dikatakan open ending. Memberi ruang kosong bagi pembacanya untuk menafsirkan apa yang ia tangkap dari tersebut.
Terus terang kisah ini sangat menginspirasi saya. Maka sesudah saya membaca kisah ini, tanpa sadar air mata saya berlinang. Entah apa yang saya rasakan. Apa yang anda rasakan tentu akan berbeda dengan apa yang saya. Maka bacalah dengan perlahan.
Amati, hayati, dan rasakan..
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yang sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau ia sudah bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya itu .
Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yang selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.
Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu.”
***
Entah sadar atau tidak, seringkali kita berlaku seperti gadis buta itu. Kita berlaku egois memaksakan kehendak kita sendiri. Padahal ada orang-orang di sekelilang kita yang berkorban sekuat tenaga untuk membuat kita bahagia.
Orang tua kita contohnya. Entah telah berapa besar pengorbanan yang mereka curahkan untuk kita. Bukan saja uang, bahkan keringat, darah dan airmata mereka bersimbah agar kita dapat hidup layak.
Mungkin disini kita rasakan begitu nyamannya kuliah, jajan, belanja, nonton, dan sebagainya. Sedang orang tua kita sibuk memikirkan besok makan apa. Bagaimana dengan anak saya jika uang kuliahnya terlambat. Seakan pikiran orang tua hanya tersita tentang kita, anaknya.
Teman – temanku, kini adalah satu momentum pengorbanan kita untuk berupaya sekuat tenaga untuk membahagiakan mereka, orang tua kita. Bayangkanlah wajah bahagia dan senyum bangga mereka kala melihat anaknya di wisuda dan bergelar sarjana. Tetes air matanya, peluhnya, kerja kerasnya seakan terbayar sudah dengan menyaksikan kita kala memakai toga dan maju sebagai wisudawan-wisudawati.
Maka maukah kita berkorban sedikit pikiran dan waktu kita untuk skripsi yang kita hadapi ini? Maukah kita bersabar dengan tantangan yang menghadang di depan? Maukah kita bangkit dari keterpurukan yang menjelang? Maukah tema-teman berkorban sedikit untuk kebahagian orang tua?
Seorang yang sukses adalah yang melihat solusi dibalik masalah. Dan yang gagal, adalah mereka yang melihat masalah dibalik solusi. Mari kita bertekad untuk mebahagiakan kedua malaikat kita tercinta. Dan pastikan Agustus 2010 adalah salah satu momen bahagia itu. Dimana kita lihat senyum bangga bapak dan tangis bahagia Ibu kita. Selamat Berjuang Kawanku..
Smangat untuk kita semua!!
Bandung, 1 Maret 2010
Suatu hari kawan lama saya yang seorang dokter, mengirimkan sebuah kisah ini pada saya. Ia tak memaparkan sedikit pun bagaimana hikmahnya. Bisa dikatakan open ending. Memberi ruang kosong bagi pembacanya untuk menafsirkan apa yang ia tangkap dari tersebut.
Terus terang kisah ini sangat menginspirasi saya. Maka sesudah saya membaca kisah ini, tanpa sadar air mata saya berlinang. Entah apa yang saya rasakan. Apa yang anda rasakan tentu akan berbeda dengan apa yang saya. Maka bacalah dengan perlahan.
Amati, hayati, dan rasakan..
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yang sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau ia sudah bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya itu .
Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yang selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.
Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu.”
***
Entah sadar atau tidak, seringkali kita berlaku seperti gadis buta itu. Kita berlaku egois memaksakan kehendak kita sendiri. Padahal ada orang-orang di sekelilang kita yang berkorban sekuat tenaga untuk membuat kita bahagia.
Orang tua kita contohnya. Entah telah berapa besar pengorbanan yang mereka curahkan untuk kita. Bukan saja uang, bahkan keringat, darah dan airmata mereka bersimbah agar kita dapat hidup layak.
Mungkin disini kita rasakan begitu nyamannya kuliah, jajan, belanja, nonton, dan sebagainya. Sedang orang tua kita sibuk memikirkan besok makan apa. Bagaimana dengan anak saya jika uang kuliahnya terlambat. Seakan pikiran orang tua hanya tersita tentang kita, anaknya.
Teman – temanku, kini adalah satu momentum pengorbanan kita untuk berupaya sekuat tenaga untuk membahagiakan mereka, orang tua kita. Bayangkanlah wajah bahagia dan senyum bangga mereka kala melihat anaknya di wisuda dan bergelar sarjana. Tetes air matanya, peluhnya, kerja kerasnya seakan terbayar sudah dengan menyaksikan kita kala memakai toga dan maju sebagai wisudawan-wisudawati.
Maka maukah kita berkorban sedikit pikiran dan waktu kita untuk skripsi yang kita hadapi ini? Maukah kita bersabar dengan tantangan yang menghadang di depan? Maukah kita bangkit dari keterpurukan yang menjelang? Maukah tema-teman berkorban sedikit untuk kebahagian orang tua?
Seorang yang sukses adalah yang melihat solusi dibalik masalah. Dan yang gagal, adalah mereka yang melihat masalah dibalik solusi. Mari kita bertekad untuk mebahagiakan kedua malaikat kita tercinta. Dan pastikan Agustus 2010 adalah salah satu momen bahagia itu. Dimana kita lihat senyum bangga bapak dan tangis bahagia Ibu kita. Selamat Berjuang Kawanku..
Smangat untuk kita semua!!
Bandung, 1 Maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)