Jumat, 26 Agustus 2011

Jus Kepantasan


Bismillah..

Mungkin judulnya agak aneh. Ini menandakan bahwa saya masihlah memiliki kesulitan dalam membuat judul sebuah tulisan (curcol ceritanye..). Okey, ceritanya bermula saat bapak saya membawa sekantung jambu biji. Jambu ini adalah sisa dagangan bapak yang tak laku terjual. Seperti itulah resikonya jadi pedagang. Kalo dagang makanan ya dimakan sendiri. Coba kalo dagang keset, ndak mungkin di makan juga kan?(heu..emang debus).

Bapak menyuruh saya untuk membuat jus jambu. Lumayan bisa buat salah satu minuman buka puasa. Niatnya sih buat konsumsi keluarga aja. Tapi di tengah proses pembuatan jus, saya mikir kenapa ndak dibagiin ke mushola juga ya?! Disantap anak-anak pasti rame dan seger. Setelah diblender dan dibikin es puter. Pasti bikin ngiler.

Akhirnya sore itu saja berjibaku di dapur. Jambu-jambu itu saya bersihkan kedua kutubnya. Kemudian direndam di air matang beberapa waktu sebelum dipotong-potong. Potongan dadu hijau merah muda itu masuk mulut blender. Tambah beberapa cc air dan satu dua sendok gula. Tombol on saya tekan dan mulailah proses peleburan itu. Tunggu punya tunggu, daging buah dan biji itu jadi satu. Terbentuklah konsistensi merah muda yang segar bila direguk. Slurrppp...(woi..shaum..woi!!)

Belum sampai di situ saja, pekerjaan belumlah usai. Saya masih harus menyaring biji-biji dari konsistensi jus tersebut. Kalo ndak, bisa usus buntu nanti. Proses penyaringan ini nih yang makan waktu lama. Saya harus ngubek-ngubek saringan biar tuh biji pada bubar. Kalau untuk satu-dua jambu sih it’s okey. Tapi ini jambu sekilo boy! Yah..nasib..tapi bukankah untuk suatu kenikmatan butuh perjuangan?! Apalagi tujuannya buat amal. InsyaAllah diganjar Allah, fren!

Akhirnya, cairan pink satu baskom itu siap dihidangkan. Namun ada yang mengganjal di hati. Apa rasanya udah enak? Mana belum beli gelas plastik lagi? Nanti gimana bagiinnya? Berbagai kendala berkecamuk di benak deh pokonya..

Kemudian mamah punya usul, gimana kalo dibagiinya besok aja. Biar nanti pas buka puasa dijajal dulu rasanya. Enak apa ndak. Kalo belum enak masih ada kesempatan buat bikin larutan gula sebagai campuran. Biar rasanya pol. Lagian kan belum beli gelas plastik juga. Sebenernya saya kurang sependapat sama usul mamah. “Mah, kan saya niat amalnya sekarang. Apa bisa ditunda besok? Keburu ndak ikhlas ntar.”gerutu saya dalam hati. (Maaf ya mah..).

Keputusan final, akhirnya saya ikutin saran mamah. Takut kualat kalo ndak dengerin nasihat orang tua (hehe..). Tibalah waktu buka puasa. Saatnya menjajal jus bikinan saya. Slurrrrppp...bapak ambil giliran pertama. Saya langsung lihat ekspresi wajahnya.

“Emm..kayak kurang apa gitu!”.
Kini giiran saya menyicipi cairan pink itu. “Emm..iyah kurang manis. Kurang gula.”.
“Tuh kan, untung aja belum dibagiin ke mushola. Besok ngerebus gula dulu biar manis. ” spontan mamah menimpali.

Keesokkan harinya, satu baskom jus hasil revisi itu ludes disantap para ifthar’ers di mushola. Senang melihat mereka tersenyum ceria kala menyantapnya. Maklum lapar boy! 

Satu hal yang saya pelajari dari peristiwa ini, adalah sebuah kepantasan. Jus itu harus dipantaskan agar lebih enak dan indah dipandang. Dan ada sebuah masa dimana saat kepantasan itu sudah ada maka akan ada kebahagiaan disana.

Coba saja kalau saya tetep keukeuh membagikan jus saat itu, mungkin tak akan enak. Malah jadi cibiran orang. Niatnya mau beramal malah membuat orang lain menggunjing kita. Malah jadi dosa, ya ndak?! Maka saya belajar bahwa ada sebuah proses pemantasan untuk sebuah cita-cita atau impian. Istilah kerennya “Akan indah pada waktunya”.

Begitu halnya dengan mencapaian impian kita. Ada proses yang mesti dijalani sebagai bentuk pemantasan diri kita. Allah pun akan memberikan apa yang kita inginkan jika kita memang sudah pantas mendapatkannya.

Apakah kepantasan itu identik dengan menunggu atau pekerjaan pasif? Bukan sahabat, kepantasan atau memantaskan diri itu harus dikejar alias diusahakan. Misalnya seorang mahasiswa ingin lulus kuliah, ia berusaha memantaskan diri dengan kerja keras nyari bahan studi, rajin bimbingan ke dosen, rajin ke perpus, rajin sholat malam dan usaha lainnya. Maka ganjarannya ia pantas lulus. Akan ada sebuah harga untuk setiap yang kita inginkan.

Atau misalnnya ingin naik gaji. Tentu ia mesti memantaskan diri dengan meningkatkan produktivitas kerja, memperbaiki hubungan dengan atasan, bawahan dan klien, rajin sholat dhuha, rajin tahajud dan rajin sedekah. Insyaallah akan naik gaji.

Yang pengen dapet kerja ato lancar usahanya. Bisa dijajal juga ramuan sholat sunnah, dhuha, dan tahajudnya. Jangan lupa sebutin hajatnya 7 kali biar Allah timbulkan keyakinan bahwa impian kita akan diijabah-Nya. Owya, dari pengalaman yang udah-udah, perbanyak sedekah. Ubah mindset, dapet kerja baru sedekah jadi sedekah dulu baru Allah akan mudahkan rezeki kita. InsyaAllah..

Yang ingin dapet jodoh, memantaskan diri dengan mempersiapkan ilmu rumah tangga, memperluas pergaulan, perbaiki sholat wajibnya, dirikan sholat sunnahnya, bangun sholat malamnya, rajin istikharahnya. Bagaimanapun sholat adalah sebuah komitmen. Nah, kalo udah komitmen sama Allah insyaallah dia bisa komitmen sama pasangannya. Dan jangan lupa, obatilah penyakitmu dengan sedekah. Jomblo juga penyakit kan?! Penyakit kesepian, obatilah dengan sedekah. Hehe..

Dan satu hal yang ndak kalah penting adalah doa orang tua. Ini must be,kudu, harus jadi perhatian kita. Karena bagaimanapun doa orang tua lebih melesat dan lebih mustajab di mata Allah. Bangun hubungan baik dengan orang tua. Minta doa atas hajat kita disebutkan di tiap sholat mereka. Insya Allah, Allah akan melihat begitu gigihnya kita untuk memperjuangkan apa yang kita inginkan.

Terlepas dari itu semua, tetaplah bersandar pada Kekuasaan-Nya. Kita punya rencana, Allah juga. Dan Dialah sebaik-baik sutradara. Jadikan Allah sebagai sandaran atas semua usaha dan doa yang kita perjuangkan. Selamat berjuang sahabat, selamat memantaskan diri..:)

Ya Allah, sanggupkan hamba untuk memantaskan diri di hadapan-Mu..Amin Ya Mujibbasailin..


Bandung, 18 Ramadhan 1432 H

Pertemuan Sunyi


: Kekasih



I

Kau masih di situ

memagut rindu. memahat waktu

menantiku yang selalu berlalu



Kau yang setia mengeja kidung masa

melukis indah pertemuan sunyi kita

purna sudah kau hidangkan sajian iman

atas nama cinta

aku, masihlah alpa



kini aku mematut

berlulut, memagut asa

kehadiranmu dalam kelamnya

jiwa



kini aku mengemis cinta

memunguti serpih rindu yang senantiasa

melumuri pertemuan sunyi kita



II

Ku menguar rindu (lagi)

terjaga dalam hening

berteman angin dingin



menemanimu dalam kegelapan

namun tak dengan hatiku

: terang

karna kau datang dari

singgasana kebesaran kenan membelaiku

dalam rinai damai



cintamu seperti apa kekasih?

setiamu layaknya apa kekasih?

tak ada yang menandingi

tiada yang setara, serupa



merindui pagi lagi

saat kuucap kata cinta

tiada yang serupa,kaulah yang maha

dirimu segalanya



kita menanti cumbu embun pada pucuk dedaun

belai mentari pada geliat pagi

kerinduan dimulai (lagi)

hari ini..



cirebon,170717

Untukmu nan Istimewa


Bismillah..

Namanya Rainer. Seperti hujan, ia adalah sebuah berkah untuk keluarga kecilnya. Usianya baru menginjak tahun kedua belas. Suatu siang ia datang ke tempat terapi. Usianya yang menginjak remaja kontras dengan keadaanya saat ini. Ia dibopong sang ayah. Kaki mungil dengan otot betis yang nyaris nihil. Tiada bisa berjalan bahkan berdiri. Bahkan untuk duduk tegak pun perlu dada sang ayah untuk menyangga punggung kurusnya.

Siang itu pasien tengah penuh. Tanpa memesan tempat terlebih dahulu, sang ayah menyodorkan kartu registrasi. Setelah melunasi biaya, ia kembali duduk. Menunggu lagi. Tak berapa lama, namanya dipanggil. Tergopoh-gopoh sang ayah membopongnya menuju kamar terapi. Beberapa jam berselang lengkingan dari bibir mungilnya memecah keheningan kamar. Jerit pilu nan menyayat. Mengundang iba para pendengarnya.

Cerebral palsy atau biasa dikenal dengan kelumpuhan otak penyakit diderita Rainer. Hujan itu takbisa bermain sebagai anak seusianya. Alih-alih bermain, berdiri, belajar, bicara pun tak mampulah ia. Tatapan kosongnya memandang dunia. Malang, mungkin itu yang biasa kita katakan. Namun bukankah Tuhan, tak pernah sia-sia dalam menciptakan sesuatu? Bahkan seseorang?

***

Namanya Audy. Owner perkebunan teh di Ciwidey ini memiliki kisah nan luar biasa. Terutama perjuangan ibundanya yang mencitakan sulungnya ini tumbuh sebagaimana anak normal. Audy kecil dilahirkan sebagai tuna rungu. Tanpa pendengaran yang otomatis tanpa bisa bicara. Karna tak adalah yang bisa ia dengar hingga apa yang mesti ia utarakan.

Meski kenyataan begitu menyesakkan, namun terus berkubang dengan kekecewaan bukanlah solusi. Akhirnya hari-harinya diisi dengan permainan kata dalam kartu. Setiap hari sang ibu mengenalkan kosakata baru. Perlahan tapi pasti. Sang anak mengenal kata hingga kalimat lewat ingatannya. Kemudian ia mencoba melafalkan lewat lisannya. Hingga ia bisa dan biasa.

Melelahkan memang namun tetes perjuangan itu menghasilkan. Ketabahan sang ibu berhasil menerobos labirin takdir anaknya. Putranya nan istimewa itu tumbuh menjadi sarjana, pengusaha, dan menikahi kekasih tercintanya yang keadaanya lebih baik darinya. Tuhan memang menciptakan yang tak sia-sia adanya.

***

Namanya Hee Ah Lee. Dunia mengenalnya sebagai fourth fingers pianist. Inspirasinya menembus batas kemampuannya. Dilahirkan dengan empat jari dan tubuh sebatas lutut, bukan halangan untuk ia bisa berkarya. Keadaannya diperparah karena down syndrome yang dideritanya. Untuk menghitung angka pun sukarnya bukan main, ia rasa. Hingga untuk menghafal satu lagu, ia membutuhkan waktu satu tahun.

Adalah Woo Kap Sun, sang ibu sekaligus pahlawan dibalik kesuksesan He Ah. Mulanya, ia hanya berencana memberi les piano untuk melatih jari-jari Hee Ah yang lemah dan kaku. Namun ternyata dalam piano, Hee Ah menemukan hidupnya. Jatuh bangun usaha gadis berusia dua puluh empat tahun dan ibunya untuk menguasai alat musik itu. Bisa dibayangkan, setiap hari selama 10 jam, Hee Ah berkutat dengan benda berdawai, legam dan mengilat itu.

Sempat ia down karena menghabiskan waktu dengan hal yang sama sangatlah membosankan. Sempat ia berhenti bermain piano hingga menyulut amarah. Tak jarang pukulan sang ibu bertubi-tubi mendarat di tubuh mungilnya. Sang ibu melakukannya atas nama cinta. Cintanya ingin membuktikan pada dunia yang berwajah rembulan itu ada, dan sama seperti manusia normal lainnya. Putrinya bisa berkarya. Sekali lagi, Tuhan membuktikan bahwa tiadalah hal nan sia-sia yang Dia ciptaanNya.

***

Mari kita bercermin. Mereka manusia biasa serupa dengan kita. Meski dengan keistimewaan yang mereka punya, bukanlah hambatan untuk meraih prestasi. Bagaimana dengan kita? Adakah kita masih memandang keterbatasan kita sebagai penghambat untuk berprestasi? Pilihan kita untuk terus berkutat dengan alasan-alasan tanpa ada tindakan atau menerobos ketidakmampuan untuk menghasilkan karya. Sekali lagi, sebuah tamparan kecil melesatkan sebuah kesadaran. Kesadaran akan kemuliaan Tuhan yang begitu banyak memberi kita potensi. Namun, pilihan kita untuk menyadarinya atau mengabaikannya begitu saja.

Maa khalqta hazaa batila.
Tiada yang Tuhan ciptakan dengan sia-sia…


Purwakarta167, 060611

Stres, Selangkah Menuju Bunuh Diri


Oleh: ADE FARIYANI

DALAM satu surat kabar nasional, saya dapati ada minimal tiga kasus bunuh diri dalam satu hari. Ini jelas menunjukkan bahwa bunuh diri tren sakit jiwa saat ini. Menurut Konferensi Nasional Jiwa (Konas Jiwa), risiko bunuh diri merupakan salah satu diagnosis penyakit jiwa. Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003 mengungkapkan bahwa satu juta orang bunuh diri dalam setiap tahunnya. Ini sama halnya dengan dalam 40 detik terjadi satu kejadian bunuh diri. Mirisnya lagi, data tersebut diambil pada tahun 2003, bagaimana dengan kini?

Para korban tewas mengenaskan usai terjun dari lantai tertinggi sebuah mal, minum racun serangga atau gantung diri. Kita flashback sebentar. Masih ingat 'kan Heryanto, siswa kelas 6 SD yang mencoba gantung diri karena tak mampu membayar uang kerajinan sekolah atau Usep, siswa asal Cianjur yang nekat menghabisi nyawanya karena urung dibelikan televisi. Orang dewasa pun tak kalah banyak kasusnya. Pemicunya karena sakit kronis, patah hati, terlilit utang dan sebagainya.

Sebenarnya ada perasaan malu yang menyelinap, kala melihat bangsa Jepang melakukan ritual harakiri, yakni menikam atau merobek perut sendiri. Tindakannya mungkin terlihat sama, namun motif yang melatarbelakanginya berbeda. Kebanyakan orang Jepang melakukan tindakan bunuh diri untuk kehormatan. Bagi bangsa Negeri Dewa Matahari itu, kehormatan dan nama baik adalah segalanya. Maka jika seseorang melakukan kesalahan yang mengancam kehormatan keluarganya, dengan sukarela ia akan melakukan harakiri tersebut.

WHO pun menyebutkan bahwa dari 5 orang, 3 di antaranya diindikasikan sakit jiwa. Penyakit jiwa yang diidap bisa dari yang paling ringan hingga berat. Ini menunjukkan bahwa kesehatan jiwa (psikologis) tak kalah penting dari kesehatan jasmani (fisik). Hal ini pun dikuatkan dengan munculnya berbagai penyakit fisik yang musababnya adalah penyakit jiwa (stres).

Stres dan stressor

Setiap tindakan yang dilakukan pasti ada motifnya. Pun pada kasus bunuh diri. Adanya stressor merupakan pelarian para pelaku melakukan tindakan nekat ini. Stressor adalah segala faktor pencetus jadinya stres. Sedangkan stres merupakan keadaan ketidakseimbangan antara tuntutan dan sumber daya yang dimiliki individu (Taylor, 1997).

Stres berasal dari istilah Latin yaitu stingere yang berarti keras (stricus). Setelah penelaahan dari waktu ke waktu, istilah stres dapat diartikan sebagai kesukaran, kesusahan, kesedihan atau penderitaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang stres adalah individu yang mengalami penderitaan, kesulitan, dan kesusahan yang tidak mampu dilewatinya. Jika kesulitan itu sudah mengancam serta mekanisme koping (kemampuan untuk menyelesaikan masalah) individu tidak efektif, maka bunuh diri salah satu pilihan untuk mengakhiri penderitaan yang ia alami.

Penyebab

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" (Q.S. 2: 155)

Ada banyak stressor yang bisa menyebabkan seseorang stres hingga berniat mengakhiri hidupnya. Faktor yang paling sering muncul adalah ekonomi. Hal ini merupakan alasan kuat pada anak merasa malu karena tak bisa membayar uang sekolah, atau tidak memiliki televisi. Atau juga seorang istri yang sudah putus asa dalam impitan ekonomi karena sang suami tak kunjung bekerja. Hingga lilitan utang seorang pengusaha yang mungkin terlihat kaya dan bahagia.

Stressor lain yang hinggap pada remaja masa kini adalah masalah asmara. Putus cinta, tak diterima jadi pacar, pernikahan yang gagal atau tidak disetujui jadi alasan mereka mengakhiri nyawa. Dalam pikiran mereka daripada menderita sakit hati seumur-umur lebih baik mati. Alasan cekcok rumah tangga, pekerjaan, prolematika orangtua, dan masalah intrapersonal (hubungan antarpribadi) yang tidak harmonis pun mengancam timbulnya stres hingga bunuh diri.

Solusi

Tindakan pencegahan lebih efektif daripada pengobatan. Ungkapan ini benar adanya jika dilakukan dengan tepat. Pencegahan yang paling utama dalam stres terutama pada anak adalah peran keluarga. Keluarga merupakan organisasi pertama tempat tumbuh berkembanganya seseorang. Seringkali kasus stres atau bunuh diri ini lahir dari keluarga yang otoriter. Tindakan tersebut akan menekan anak. Hingga bila tak bisa mencapai apa yang ditargetkan, ia akan merasa menderita dan tersiksa. Ditambah lagi tekanan dan ancaman dari orangtua akan membuatnya kian tertekan.

Pada poor parent relationship (miskin hubungan antara orangtua-anak) pun memicu stres. Setiap hari rumah hanya dibumbui sikap acuh tak acuh antara orangtua dan anak. Kondisi ini akan meniadakan rasa saling hormat, rasa sayang, dan penghargaan antar keduanya. Impian setiap orangtua adalah memiliki anak yang berbakti dan menghormati. Tujuan itu takkan terwujud tanpa adanya penghargaan, kehangatan, dan kasih sayang.

Sedangkan stres dan risiko bunuh diri pada orang dewasa dapat diantisipasi dengan berbaik sangka pada kehendak Tuhan. Masalah kehidupan yang membuat hati kita berombak dapat kita anggap sebagai ujian yang mendewasakan. Ujian sebagai tanda kasih sayang Tuhan pada kita. Toh dengan masalah kita akan lebih dekat pada Tuhan. Dengan masalah pun ketergantungan kita pada Tuhan makin kuat.

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat berkeluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salat."

Surat Al-Ma'arij ayat 19-23 di atas menunjukkan pentingnya salat --ibadah-- sebagai obat dari kesusahan dan masalah yang dihadapi. Salat yang berarti doa ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan jiwa seseorang. Menurut A. Carel peraih Nobel tahun 1912 untuk ilmu kedokteran, doa yang dibiasakan dan sungguh-sungguh dilakukan, pengaruhnya sangat besar terhadap kejiwaan dan keadaan somatik --fisik-- seseorang. Ketentrraman yang ditimbulkan oleh doa itu merupakan pertolongan yang besar dalam pengobatan dan kesehatan seseorang. (Penulis, alumnus Fakultas Keperawatan Unpad, anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung, trainer dan terapis hipnoterapi dan praktisi EFT)**


Galamedia, 5 Januari 2011

Semangat Cinta Dewi Sartika dalam Pengasuhan Anak

Oleh: Ade Fariyani

SOSOKNYA mungkin tak setenar R.A. Kartini, seorang wanita dengan ide briliannya. Namun, impian Kartini yang masih sebatas ide itu bisa diwujudkannya. Ya, Dewi Sartika seorang pahlawan Bandung asli menjadi pelopor terbentuknya sekolah untuk kaum wanita. Sosoknya yang rendah hati dan membumi tak membuatnya iri akan ketenaran Kartini. Itulah karakter pahlawan sejati.

Dilahirkan pada tahun 1884 dari keturunan Raden Rangga Somanegara dengan R.A. Rajapermas di Bandung. Nasibnya sebagai anak dari seorang menak membuatnya dapat mengenyam pendidikan di Eerste Klasse School. Di sana ia belajar bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Melihat nasib anak-anak inlander yang tak seberuntung dirinya, hatinya gelisah. Sudah tampak kepekaan sosial dalam diri Dewi semasa kecil. Ia mulai mengajar anak-anak perempuan di sekitar rumahnya. Dari membaca, menulis, berhitung hingga belajar bahasa asing.

Beranjak dewasa kecerdasaan sosialnya kian terasah. Melihat semakin banyaknya minat pembelajar perempuan, ia mencetuskan ide brilian. Ia memiliki impian untuk membuat sebuah sekolah khusus kaum Hawa. Sayangnya, impiannya tersebut terjegal seorang Inspektur Pengajaran Hindia Belanda bernama C. Den Hammer. Den Hammer melihat tindakan Dewi berbahaya dan patut dicurigai.

Tak patah arang, Dewi keukeuh dengan misinya itu. Tuturnya, "Menurut pendapat saya, barangkali dalam hal ini bagi wanita tidak akan sangat banyak berbeda dengan pria. Di samping pendidikan yang baik, ia harus dibekali pelajaran dengan sekolah yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh pada moral wanita pribumi. Pengetahuan tersebut hanya diperolehnnya dari sekolah." Langkahnya kian mantap untuk mewujudkan asa, membangun sekolah untuk wanita.

Tahun 1904, ia mendirikan Sakola Istri. Meski sempat tak disetujui Bupati Martanegara, semangatnya tak surut. Dengan uang pribadi, ia meluluskan citanya. Dengan 60 pelajar wanita, ia melancarkan misinya. Mengajari mereka menulis, membaca, berhitung, dan berbicara bahasa asing. Pun keterampilan wanita seperti menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semangat pembelajarnya menular hingga luar daerah. Pada tahun 1910 terbentuk Perkumpulan Kautamaan Istri sebagai cabang sekolah wanita di daerah lain.

Potret pola asuh orangtua masa kini

Kita lihat fenomena sosial dalam lingkup yang lebih kecil, keluarga. Peran orangtua sangat vital terhadap pendidikan anak. Ibu merupakan lembaga pendidikan pertama dan ayah sebagai penunjang pendidikan, kedisiplinan serta sosok panutan.

Potret pengasuhan orangtua masa kini lebih dipercayakan pada baby sitter sebagai pendamping anak-anaknya. Sementara mereka sibuk dengan urusan pekerjaan. Selama satu hari penuh mereka mempercayakan anaknya pada pengasuh yang rata-rata berpendidikan dasar. Tak sedikit, ayah ibu yang berprofesi sebagai pendidik, pengusaha sukses dengan pendidikan yang tinggi, tapi anak mereka dipercayakan pada pengasuh yang mungkin SD pun belum lulus. Lebih miris lagi, sang pengasuh malah "mempercayakan" anak majikannya pada televisi yang notabene bisa membuat anak diam dan betah berjam-jam menontonnya.

Fenomena unik lain, beberapa kali saya memergoki seorang ibu yang lebih asyik bermain dengan ponsel daripada bermain atau sekadar ngobrol dengan anaknya. Hingga di Jakarta seorang ibu meninggalkan anaknya bermain di balkon rumah, hanya untuk pergi ke warnet. Anaknya jatuh dan meninggal. Peristiwa ini menajdi berita utama di media.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah kurang peka dan kurang siapnya ibu dalam mendidik anak. Ketiadaan waktu komunikasi antara orangtua dan anak membuat sang anak mencari katarsis lain. Tak heran jika anak lebih sering bergaul dengan kawan-kawan gengnya, berkerumun di warung internet, menyibukkan diri dengan game online, dan katarsis lain.

Kekuatan cinta

Hal mendasar apa yang membuat Dewi Sartika memiliki impian dan kekuatan untuk menerobos keterpurukan wanita saat itu? Tak lain kekuatan cinta. Cintanya akan pendidikan. Cintanya akan terwujudnya generasi Hawa yang lebih baik. Cintanya melihat perempuan-perempuan yang beradab dan terhormat. Perempuan yang kaya akan pengetahuan, keterampilan, dan berdaya untuk memberikan kontribusi yang terbaik untuk bangsa.

Kekuatan cinta pulalah yang seharusnya menjadi motivasi orangtua untuk memberikan yang terbaik pada anak. Bukan hanya soal materi dan pendidikan (sekolah), melainkan kasih sayang dan panutan. Setiap anak merindukan sosok idolanya sebagai contoh. Orangtua adalah lingkungan terdekat bagi mereka. Apa jadinya jika seharian anak hanya dekat dengan pengasuh atau televisi yang tontonannya pun kita enggan melihatnya?

Menghadirkan anak memang mudah, namun mendidiknya bukanlah hal mudah. Sosok ibu sangat penting dalam pendidikan anak sejak dalam kandungan. Membacakan ayat-ayat suci Alquran, sesekali membacakan buku cerita, seringnya mengajak anak berbicara dan membelainya akan memberi stimulasi yang baik. Ibu pun dapat melahap berbagai ilmu tentang parenting (pola pengasuhan anak yang baik), kesehatan anak, dan lainnya. Ini semua akan berguna. Hingga saat sang anak sudah nyata ada, kita tak lagi kerepotan mengurusi karena sudah dibekali ilmu. Saat sang anak mulai bertumbuh, ini saatnya orangtua mempraktikkan ilmu yang selama ini dimiliki sehingga terbentuk proses dari "tahu" jadi "mampu".

Sekali lagi, ini semua kekuatan cinta. Cinta yang membuat orang tak mampu jadi berdaya. Yang awalnya tak mau jadi mau. Cinta memiliki kekuatan tersendiri yang membuat Dewi Sartika, di tengah keterbatasannya mau dan mampu mendirikan sekolah untuk kaum Hawa. Maka dengan kekuatan cinta itulah, kita sebagai ibu memberikan waktu terbaik, kasih sayang terbaik, didikan terbaik untuk anak kita. Sebagai bapak kita memberi nafkah yang terbaik, waktu yang berkualitas, menjadi pendengar dan teman terbaik dibandingkan teman-temannya di luaran. Bukankah indah jika melihat anak kita tumbuh dengan kesuksesannya? Berkat siapa? Berkat Tuhan dan kita, orangtuanya. (Anggota Forum Lingkar Pena Bandung Trainer, terapis hipnoterapi dan praktisi EFT)

Galamedia, 24 Desember 2010

Refleksi 22 tahun : Impian akan Kematian


Bismillah..

Mungkin kita jengah dengan kata ini. Mati. Sesuatu hal yang mungkin kita enggan bahas. Bahkan kita –saya khususnya- takut jika ada yang bilang “Kalo ada umur”, dan kalimat-kalimat lain yang seolah mengingatkan kematian. Terlepas dari itu, kematian adalah kepastian. Tanpa mengalami “mati” takkan pernah kita bertemu dengan Sang Cinta yang amat kita Rindukan. Kematian adalah pasti. Tanpa melewatinya surga takkan pernah kita tahu rupanya. Begitu juga neraka.

“Ngapain sih ngomongin kematian segala. Toh, umurmu kan baru 22 tahun. Berkisahlah tentang cita atau cinta. Berceritalah bagaimana indahnya mempersiapkan pernikahan atau indahnya impian daripada perencanaan kematian. Bukankah banyak hal lain yang lebih penting untuk dibahas, daripada kematian”. Begitu kata ego saya.

Ya, memang benar indah jika kita bicara soal cita atau cinta. Bicara pendamping yang didamba, pernikahan yang menjadi impian kita. Tapi, bukankah itu belum pasti? Bukankah kita masih buta akan masa depan kita? Bukankah kita begitu lemah karena belumlah tahu misteri masa depan kita sendiri. Hingga untuknya pun, kita selalu meminta pada Penguasa masa lalu dan masa depan, akan kebaikannya.

Bukan sahabat, bukan maksudku untuk meluruhkan cita, impian dan asa kalian. Seperti kata Arai, bermimpilah! Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Ciptakanlah capaian yang tinggi, tapi ingatlah bahwa taksemua citamu bisa kau dapat. Saya pun punya impian. Dan salah satunya, adalah kematian yang saya cita-citakan.

Betapa indahnya, saat meninggal kita tengah mengerjakan amalan yang amat kita cintai. Seperti Alm. Ustad Rahmat Abdullah. Ketika wafat beliau tengah syuro (rapat). Dan selepas berwudhu, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Alm. Ida Kusumah yang meninggal saat melangsungkan amalan tercintanya, acting. Sahabat, ingin meninggal dalam keadaan sepeti apa? Tengah melakukan apa?

Seorang guru saya bilang, bahwa kematian seseorang dan kehidupan setelahnya ditentukan dari ayat Al-Quran terakhir yang ia baca. Dan mengalirlah cerita darinya. Seorang ikhwan alumni ITB yang begitu aktif dan sholeh. Saat itu, ia dan ayahnya akan mudik ke kampungnnya di Jawa Tengah. Berboncengan motor, mereka melintasi jalanan. Namun, Allah berkehendak lain saat motor yang dikendarainya kecelakaan. Sang ayah tewas seketika. Dan ikhwan sholeh itu meninggal saat dilarikan ke rumah sakit. Rekan sang ikhwan pun melihat isi kantong almarhum. Betapa indahnya, saat melihat salah satu isinya adalah Al-Quran plus terjemahan. Dan dirunut, surat terakhir yang ia baca adalah At-Takwir. Subhanallah. Sahabat, surat mana yang mau sahabat pilih nanti?

Teman sejati adalah ia yang selau ada saat kita bahagia pun saat kita sedih. Guru saya bilang, teman sejati kita nanti bukan orang tua kita, bukan kakak atau adik kita, bukan kakek nenek, pun bukan pendamping kita. Sahabat sejati kita nanti adalah Al-Quran. Di bumi ia mendamaikan hati, di alam kubur ia laksana dian penerang, dan di yaumul hisab ia adalah saksi dan pembela kita. Dia pun yang akan mendekatkan kita dengan Allah dan Rasulullah. MasyaAllah, sudah terjalin seerat apa hubungan kita dengan Al-Quran??

Milad ini adalah sarana untuk saya introspeksi diri. Sudah punya bekal apa? Mau meninggal dengan amalan baik apa? Sudah sedekat apa dengan Quran? Ah, lagi-lagi saya merasa miskin amalan dan kaya dosa. MasyaAllah..

Semoga tulisan ini bermanfaat. Dan semoga sahabat berkenan memberikan kesaksian untuk saya di yaumul hisab. Ya Tuhan kami maafkanlah kami, ampuni kami, dan kasihanilah kami. Sesungguhnya hanya Engkau sebaik-baik Penolong kami…(QS. Al-Baqarah: 286)


RBC, Saat usia 22 tahun 8 hari..
-adenyando-

Namanya Zelfan


Bismillah..

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Sama seperti kita. Aku dan kau, sahabat. Zelfan takbisa meminta pada Tuhan untuk lahir di rumah sakit mewah atau rumah bersalin elite. Ia pun takpernah bisa memilih dari rahim ibu mana ia dilahirkan. Ibu yang lembut dan penuh kasih saying, atau ibu yang melahirkannya karena bentuk keterpaksaan.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Ahad siang itu terik. Mentari membakar aspal terminal hingga melepuh. Seorang ibu muda terhuyung dalam angkot. Sementara penumpang lain sudah turun, ia enggan. Ia menggigit bibir menahan nyeri. Rasa mulas yang membelit perutnya. Dari pakaiannya takterlihat bahwa ia tengah hamil 38 minggu. Sudah waktunya. Tapi lihatlah, ini angkot bukan rumah bersalin.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Sang sopir angkot menghardik ibu muda itu. Benaknya bertanya-tanya mengapa sang ibu tak turun-turun. Dilihatnya keringat sebesar biji jagung mengalir dari kening sang ibu. Dipegang perutnya menahan mulas. Wah, ada yang gawat pikirnya. Sang supir berlari meninggalkan perempuan 25 tahun itu meringis.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi yang lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Sang sopir angkot gelagapan. “Aya nu rek ngajuru! Aya nu rek ngajuru!”. Teriaknya ke seantero terminal. Kawan-kawan seperangkotan ikut merubung. “Dimana?”. Berduyun-duyun mereka mengekor langkah sang sopir. Ibu-ibu warga sekitar tak kalah heboh. Langkah mereka menyatu dengan lepuhan aspal terminal.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Rombongan penasaran itu menyaksikan detik memilukan. Sang ibu yang kesakitan. Celana jinsnya yang basah. Air ketubannya sudah pecah. Biasanya tak lama akan muncul lendir darah. Sudah waktunya. “Tos weh candak ngangge taksi ka RBC!” seorang ibu memberi ide. Taklama sang ibu hamil diboyong menuju taksi. Sang ibu pencetus ide sekaligus member RBC (Rumah Bersalin Cuma-Cuma) mendampingi. Pun suaminya.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Sepanjang jalan menuju RBC, sang ibu hamil makin lemas. Kepala bayi makin mendesak ingin keluar. Nafasnya sudah tersengal-sengal. RBC sudah tak terlalu jauh. “Bu, tahannya bu! Tarik nafas. Sakedap deui dugi!”. Sang ibu pencetus ide mencoba menenangkan. Suaminya yang duduk di samping supir takkalah panik. “Enggalan, pir! Tos bade babar yeuh!”.
Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Tepat di depan halaman RBC taksi itu diparkir. Sang ibu sudah kepayahan untuk berjalan. Dokter dan bidan berdatangan membantu persalinan. Taksempat ibu itu beralih ke ranjang yang lebih layak. Sang bayi ingin segera keluar. Walhasil ia dilahirkan di sebuah taksi. Tempat lahir yang takbisa ia pilih sebelumnya.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Sang ibu mendapatkan perawatan nifas di RBC. Taklama, ia memaksa untuk pulang. Pertanyaannya, mau pulang kemana? Bukankah dia seorang musafir. Bukankah ia tersesat di belantara terminal dalam kondisi akan melahirkan. Takmembawa barang apapun atau uang sepeser pun. Lalu mau pulang kemana? Dan bagaimana dengan bayi laki-lakinya ini?

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Bayi mungil itu berkulit putih. Hidungnya mancung. Ganteng sekali. Mirip dengan ibunya. Cantik tanpa sapuan bedak dan make up. Sejak lahir, tak setetes pun ASI ibunya berikan. Bayinya merengek kehausan. Sebotol susu sapi meredakan tangisnya sementara. Ia lahap karena kelaparan. Sedang ibunya gusar. Ia ingin hengkang. Ia ingin pulang.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Zelfan menangis kian keras. Namun taksedikit pun tangisanya menyentuh nurani sang ibu. Meski hanya sekedar pelukan atau kecupan. Taksedikit pun. Sang ibu bersikeras ingin pulang ke kampungnya. Ia ingin pulang sendirian. Padahal belum usai masa nifasnya. Ia tetap berkeras. Lalu bagaimana dengan dengan Zelfan? Bagaimana dengan bayi mungilnya?

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takbisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan . Takkan pernah bisa. Nasibnya kian tak jelas. Ibunya tak mau membawanya pulang. “Tos weh candak. Pasihkeun ka saha weh nu hoyong.” kata sang ibu ringan. Nadanya seperti dengan ikhlas memberi barang saja. Hey, ini seorang bayi bukan barang. Bayi yang lahir membawa masa depan bukan barang mati yang bisa dibuang kapanpun dan dimanapun. Nampaknya sang ibu tak bergeming. Akhirnya setelah berembug, para sopir angkot dan pemuda setempat patungan uang. Uang ini akan dijadikan ongkos sang ibu pulang ke kampungnya. Ibu itu gegas pergi dengan santai. Lalu bagaimana dengan Zelfan?

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takpernah bisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Beberapa hari setelah dilahirkan, ibu angkat Zelfan datang ke RBC. Ibu angkatnya adalah sang ibu pencetus ide itu. Bahkan nama yang Zelfan yang tersemat untuk lelaki mungil itu, ia yang memberi. Ia memutuskan untuk mengurus bayi lelaki malang itu. Batinnya terketuk. Beberapa bulan yang lalu bayinya meninggal dalam kandungan. Kehadiran Zelfan menghapus sedihnya. Kini, ia dan suaminya yang merawat Zelfan. Namun, bayi mungil itu sakit. Ia mengalami diare. Ini mungkin karena susu sapi yang dikonsumsinya. Semacam alergi laktosa.

Namanya Zelfan. Sama seperti bayi-bayi lain. Ia takpernah bisa memilih dimana dan dari rahim siapa ia dilahirkan. Takkan pernah bisa. Keesokan harinya sang ibu angkat membawa Zelfan kembali ke RBC. Ia meminta rujukan. Diare Zelfan menghebat. Kini ditambah turgor kulit yang menurun. Ubun-ubunnya mulai cekung. Lengkap sudah penderitaan Zelfan. Bayi merah itu ditinggal ibu kandungnya, dan kini harus dirujuk ke rumah sakit karena alergi susu sapi. Seandainya sang ibu kandung mau berbaik hati memberikan ASInya untuk darah dagingnya itu, mungkin hal ini takkan terjadi…
Sahabat, mohon doanya untuk Zelfan ya..

Dalam gerimis yang romantis, 6 Dzulhijah 1431 H